Setujukah anda dengan Pendidikan D IV Keperawatan?

Disaat kita mendengung-dengungkan perawat itu sebagai perawat yang professional dengan level pendidikan mulai dari jenjang D III, S1, S2, bahkan S3, tiba-tiba dikejutkan dengan kebijakan pemerintah (DEPKES) yang menyetujui tentang pembukaan Pendidikan Diploma IV Keperawatan (cape’ deh).Hal Ini membuktikan lemahnya organisasi profesi yang akan berdampak pada  kemunduran profesi keperawatan itu sendiri. beberapa tahun yang lalu pemerintah pernah membuka D IV Keperawatan yang mana diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga pendidik saat itu, dan setelah kuota terpenuhi, D IV pun dihapuskan, tapi kenapa tiba-tiba muncul suatu kebijakan baru untuk dibuka kembali?.

Tentu saja kebijakan ini tidak disetujui oleh organisasi profesi. Loyalitas, dan kebanggaan sebagai anggota profesi terusik sehingga menimbulkan reaksi menentang dari organisasi profesi (PPNI) terhadap kebijakan tersebut, namun nampaknya organisasi profesi tidak memiliki power untuk mencegah. Buktinya, beberapa Poltekkes di Indonesia sudah menyelenggarakan program ini tanpa menghiraukan peringatan dari organisasi profesi. Padahal di dalam tubuh Poltekkes itu sendiri, banyak orang-orang keperawatan yang kemampuannya dalam bidang akademik sudah tidak diragukan lagi, tapi mengapa merekapun seolah-olah berdiam diri dan seakan mendukung program tersebut. apakah karena telah menjadi keputusan pemerintah sehingga  mau tak mau, suka ataupun tidak, program tersebut harus diterima dan dijalankan? ataukah karena D IV ini merupakan suatu proyek? (saya juga bingung nih…)

Teman sejawat, Bagaimana tanggapan anda ???

Berikan tanggapan anda yang sejujur-jujurnya mengenai pendidikan DIV Keperawatan pada vote berikut ini:

Pendidikan D IV Keperawatan

  1. Setuju
  2. Tidak Setuju

by : Iwan Sain

About these ads

64 responses to this post.

  1. D IV? From my deep inside of my heart, aku nggak setuju, tapi kalo sudah jadi kebijakan, aku nggak bisa apa-apa lagi…

  2. Posted by yuli aditama, Amk on Oktober 2, 2007 at 2:07 pm

    saya setuju dengan diadakannya D4 Keperawatan klinik, karena di Zaman dengan persaingan yang semakin global yang kita butuhkan adalah perawat yang mahir, dengan kompetensi khusus yang dia miliki bukan perawat dengan segudang pengetahuan yang nyatanya tidak bisa berbuat banyak. Dalam pelayanan kesehatan tidak hanya teori saja yang kita perlukan, tetapi juga ketrampilan yang benar-benar bisa diandalkan. Saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan pihak manapun, tapi saya mencoba mengembangkan maindset kita ke arah yang lebih maju.

  3. Posted by leni on Oktober 5, 2007 at 4:23 am

    truzz… letak perbedaan antara perawat S1 dan D4 apa donk…

  4. Posted by Subhan Kadir on Oktober 8, 2007 at 7:04 am

    saya bingung juga dengan organisasi profesi kita, (kayaknya masih manduldulduldul). kasian tuh lulusannya nanti kalau mau lanjut S2 keperawatan mereka harus balik lagi ngambil s1 keperawatan.
    keputusan itu merusak tatanan sistem yang sementara dibangun oleh profesi. tapi organisasi profesi bagaimana pendapatnya dong…?? (orang-orang hebat kita mana???

  5. Posted by intan on Desember 17, 2007 at 7:32 am

    DIV???????????? gimana sehhhhhhh…..trus pa ga mikir yang buat kebijakan bakal kaya apa jadinya ntar pendidikan keperawatan????? untuk apa ada D IV, gmn ntar statusnya ketika kerj? mo dianggep kaya S1? ga bisa dong… coz yang S1 belajarnya udah tahunan(5 tahu), eh masa yang D4 yang wakt bljarna lebih pendek bisa sama??? Kapan perawat diizinkan maju klo pendidikan yang profesinal di hambat trussss…, beda bgt ya dgn di filipina, dokter spesialis aja bisa berubah jadi perawat…….!!!!!!!!

  6. Posted by HENTO, SOLO on Desember 24, 2007 at 4:14 am

    saya setuju sekali dengan Program DIV Keperawatan, Kenapa tidak ? kan jurusanya lebih spesifik & saya pikir realita di jaman global seperti sekarang, Buat PPNI, tolong berikan kontribusimu untuk perkembangan pearawatan, karena selama ini kayaknya adem ayem,.. BTK.

    iwansain:

    Dengan dibukanya D IV Keperawatan, itu berarti semakin mengkotak-kotakkan perawat dalam beberapa jenjang. saya khawatir kelak lulusan D III, D IV, SI, SII akan membuat komunitas tersendiri berdasarkan jenjang pendidikannya yang berarti akan sulit lagi dipersatukan. oleh karena itu, PPNI mesti betindak tegas untuk mencegah pembentukan D IV Kep.

  7. Posted by ann on Januari 7, 2008 at 2:35 am

    Jujur,aku sgt setuju dibukanya D IV keperawatan klinik.disini aku bicara netral,tapi melihat kenyataan di lapangan.aku lihat anak2 yg praktek dari S1 dan DIV kemampuan D IV jauh lebih menonjol dari pada anak S1.malah kita kadang juga bnyak belajar dari mreka.mungkin karena ilmunya lebih spesifik kali ya.aku jd kepikiran selama apaupun kita belajar,tapi msh mempelajari berbagai bidang tetap aja gak maksimal.so aku setuju bgt dgn diadakannya D IV.aku malah heran ma yg gak setuju.mereka kan belum liat kemampuan anak2 D IV

  8. Posted by rony on Januari 9, 2008 at 4:20 am

    Aku juga jujur, dengan didirikannya pendidikan D IV keperawatan maka dunia keperawatan di Indonesia nggak akan maju-majunya, lihat aja di luar negri sebagai contoh. Memang untuk program D IV mereka pandai dlam keterampilan, tetapi yang dibutuhkan di masyarakat bukan hanya terampil tetapi berwawasan luas termasuk untuk mencukupi kebutuhan BIOPSIKOSOSIAL, CULTURAL AND SPIRITUAL klien, masalah terampil dan tidak terampil itu adalah kebiasaan saja, S 1 juga bisa terampil hanya saja butuh proses dengan adanya program Ners (profesi) dan pengalaman kerja. Jadi kapan tercapainya perawat yang profesional?????? Kalau untuk mengambil spesifik, di jenjang pendidikan sudah ada program spesialis jadi apa lagi yang kurang buat dunia keperawatan kok malah mendirikan DIV kerperawatan!!!! itu namanya merusak tatanan struktur pendidikan keperawatan!!!

  9. Posted by heri on Februari 23, 2008 at 1:25 pm

    yah mungkin inilah yang diharapkan oleh depkes terhadap profesi keperawatan.. semakin menunjukan superioritasnya sebagai tenaga kesehatan on the top adalah dokter.. buktinya dengan munculnya kebijakan ini semakin mengobrak – abrik keutuhan perawat itu sendiri.. semakin besar gap diantara jenjang pendidikan.. so.. keputusan sudah diambil, palu sudah diketok.. sudahlah… kita terima aja.. toh PPNI juga tak bisa berbuat banyak.. yang sebaiknya kita lakukan adalah bersatu!!! kalo toh setuju dengan DIV keperawatan.. silahkan… tapi jangan sampai menjelek2an s1 keperawatan.. s1 keperawatan dari kompetensi dan pengetahuan juga good.. bagaimanapun lembaga tinggi keperawatan adalah s1 keperawatan dan merupakan keputusan PPNI yang mana adalah lembaga naungan kita seandainya kita MERASA MENJADI PERAWAT INDONESIA..

  10. hal yang idealnya kita lakukan adalah bersatu dan memikirkan sebenarnya keperawatan seperti apa sih…. yang akan kita bangun. kalo estik lihat selama ini diantara kita masih kurang solid dengan adanya perbedaan dan perubahan2 dalam hal jenjang pendidikan membuat beberapa dari kita berantem aduh… sedih banget rasanya.

    mengenai program DIV, saya tidak stuju karena jelas ini merubah tatanan pendidikan keperawatan yang sudah dirancang. kalo kita membandingkan antara yang DIV dengan SI dalam hal ketrampilan tentu itu tidak fair, karena ketrampilan dapat diasah seiring waktu dan pengalaman. profesionalitas seseorang tidak hanya ditunjukkan dari aspek ketrampilan saja bukan??? dan apa sih yang menyebabkan DIV dibuka lagi??? MOtivasinya apa bagi mereka yang ikut masuk dan mensukseskan program itu??? Menurut estik inilah tantangan bagi kita semua untuk lebih bisa solid dan merancang masa depan keperawatan Yang terpenting adalah semangat untuk saling menghargai, saling membangun, jadi…..sebagai senior hendaknya membimbing yuniornya dalam hal ketrampilan dan jangan jadikan mereka adalah calon musuh anda, jangan jatuhkan dan cecar mereka karema merekalah yang akan menjadi penerus anda dan penerus keperawatan dimasa depan. sebagai yunior belajarlah banyak hal dari senior anda dan jangan merasa dengan ilmu yang anda peroleh di jenjang yang lebih tinggi membuat anda menjadi sombong dan tidak menghargai mereka. anda ada karena merekajuga, mereka lebih dulu ada.

    saat kita benar-benar solid maka kita tidak akan dengan mudahnya diatur-atur oleh pihak luar yang tidak ingin perawat itu maju. meskipun ukuran perawat maju tidak hanya jenjang pendidikan, menurutku dengan sistem pendidikan yang berubah-ubah membuat masyarakat itu bingung dan bertanya-tanya. ini juga merupakan kondisi yang tidak baik untuk perkembangan dan iklim belajar keperawatan. salam untuk semua perawat indonesia…

  11. Posted by Rahma on Maret 5, 2008 at 10:34 pm

    DIV …no way…..it namanya kemunduran…lulusan DIV nggak bs ngelanjutin penddikan ampe doktor…kec mau S-1 dulu…..(artinya DIV gak diakui..). Adakah bukti bahwa DIV lebih trampl…? Gmn klo di riset dulu….

    Menurut saya..yang banci depkes … sudah jelas ada UU SISDIKNAS tapi masih mahiwal aja…masih pengin nggarap pendidikan. Yg sy tahu depkes boleh ngatur pendidian D III krn zaman dahulu kala masih diperlukan tenaga – tenaga trampil. Tp sekarang ..liat aja..sudah terlalu banyak lulusan perawat. Harusnya konsekwen dong..berhenti ngurusn pendidikan atau klo mau ya..ngurusin sekolahnya PNS yg belum D III. Mungkin pendidikan salah satu “masukan dana” bg depkes (pusdiknaks nanti nganggur dong klo depkes ngga ngurusin pendidikan lg..). Krn D III sudah ngarah ke vokasi mknya dibuat DIV kep supaya tetep bsa ngursin dunia pendidikan. Yg jelas perawat adalah profesi yg masih bisa diobok2 ama pr pengambil kebijakan (mgkn krn kita belum bersatu ya…terutama perawat yg sdh di jenjang struktural). Sejauh yg sy tahu, PPNI sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolak DIV dan membuat pernyataan2 yg dikirimkan ke beberapa dept terkait. Cuma mmg PPNI kita kurang brgigi di pemerintahan…(yg bergigi br IDI da IBI) jd… blm didenger deh….Kita memang nggak bisa melawan pemerintah..tp kita bisa berbuat sesuatu..gmn klo pake kiatnya Mahatma gandhi (nggak melawan dengan ara baik-baik)….. JANGAN ADA YG NDAFTAR DI DIV…(walaupn iming2nya banyak) lama – lama kan mati sendiri tuh program… Setuju….???

  12. ehmmm….tetangga kita philipina, malaysia yang deket2 aj……..gimana ya…????
    yok atuh mule konsekuen ma perkembangan….jangan mundur2 lagi……..proyek…? may ,,,,be ,,,,,yaaaaaaaaa……..may …be…..duhhh…pusing….kan dari D3 klo mo lanjut ke tahap yg lebih profesional tinggal lanjutin ke jenjang S1, trus profesi ……RN …di luar …tahapannya sudah jelas dan baku kan?….diakui international ….klo D4 sy kurang ngerti tu termasuk jenjang kemana….D4 ….kapan jadi S1 nya…..gimana klo mo lanjut ke S2 ato spesialis kan jadi lebih ribet….iya gakk…..ayo dehhh yokkk kita rintis bareng dunia keperawatan di indonesia………

    buat sodara ku ann….boleh komen….sy tidak men-underestimatekan D4 tapi klo kita lihat perkembangan keperawatan di negara lain negara kita jauh tertinggal….mereka sudah menerapkan perawat minimal S1+ ners/RN….klo sudah punya RN bisa kerja dimana aj diakui lagi….kenapa? karena bidang profesi kita harus ditaggungjawabkan dan dapat ditanggunggugatkan……..maka kita harus jelas…!!! arah kita kemana………
    s1 mungkin lebih spesifik…? (kutipan dari ann), di kampus sy, FIKUI, maksud spesifik sy kurang mengerti yaa…pengalaman sy belajar S1 saya belajar mulai dari teori secara menyeluruh sehingga nanti ketika praktik klinik kita tahu apa dan rasional yang kita kerjakan tidak hanya kita tahu dan mengerjakan tugas perawat…yang terpenting adalah kita PAHAM apa yg kita lakukan …. mungkin kita harus liat kembali beberapa arti dari ilmu keperawatan salah satu nya nursing is art and science ….its very beautiful…profesi kita sangat luas…dan masih harus lebih berkembang ……………

    boleh promosi donkkkssss heeeeee………… di FIKUI ada 2 jalur kesarjanaan
    reguler (dari sma, 4 tahun akademik dan 1 tahun profesi)
    ekstensi (untuk perawat D3 yang menlanjutkan ke jenjang S1, lamanya 2 tahun akademik dan 1 tahun profesi)

    warm regards

  13. Posted by Waryono, S.IP, S.Kep, M.Kes on Maret 20, 2008 at 4:53 pm

    Komite kepada keperawatan yang menjadi dasar untuk pengembangan dalam menjalankan fungsi 4 perawat (Pelaksana, Pendidik, Pembaharu, Peneliti)

    Diploma IV Keperawatan Anestesi di Yogyakarta siapa yang tretarik ini merupakan kebutusan pasar akan perawat yang profesioanal.

    Contact person. 081 5680 8547

  14. Posted by adimas on April 10, 2008 at 10:55 am

    ah dasar depkes itu emang harus ganti nama tuh jadi DEPTER peartemen kedoketeran, masa kebijakannya hampie smua menguntungkan salah satu profesi aja, sementara kita perawatan jadi sisa mulu,…………………….. ganti menkes aja lah sama yang lebih bersih, peduli dan profesional

  15. Alasan munculnya D4 Keperawatan karena adanya rebutan lahan antara Dikti/Depdiknas dengan Depkes serta adanya komersialisasi pendidikan. Depkes kukuh tidak mau untuk menyerahkan semua lahan pendidikannya ke Diknas karena pendidikan kesehatan sangat menguntungkan dan uangnya sangat besar.

    Sebenarnya yang berhak dalam penyelenggaraan segala jenis pendidikan dasar, menengah dan tinggi adalah Depdiknas karena di Luar Negeri terutama di semua Negara-negara maju Departemen Pendidikanlah yang mengurusi dan bertanggung jawab dalam hal pendidikan.

    Salah satu penyebab mengapa perawat indonesia susah diterima untuk bekerja di Luar Negeri karena ijasah spk&akper kita yang mengeluarkan adalah Depkes sehingga Indonesia dianggap sangat aneh dan kacau sistemnya.

    Depkes tidak disetujui oleh Diknas untuk membuka S1 Keperawatan sehingga Depkes dkk membuka D4 Keperawatan.

    Dengan adanya D4, jenjang pendidikan di indonesia jadi rusak dan kacau, tidak ada satupun negara di luar negeri yang seperti indonesia dalam hal kekacauan jenjang pendidikan. Kasihan teman-teman yang kuliah dan sudah lulus D4 Keperawatan biaya kuliah yang mahal dan gelar tidak diakui sehingga mereka jadi korban kekacauan komersialisasi pendidikan di Indonesia.

    Dari pada D4 yang nanggung harusnya langsung saja S1 kan sama-sama 4 tahunnya, D4 itu mengada-ada cuma buat lahan bisnis aja.

    Di Australia S1 cuma 3 tahun, di Amerika dan negara-negara maju lain S1 butuh 4 tahun, itulah bagusnya mereka karena mata kuliah mereka fokus khusus tentang kesehatan saja. Di Indonesia terlalu banyak mata kuliah sehingga tidak fokus, mata kuliah yang gak ada gunanya cuma buang-buang waktu dimasukin aja padahal butuh waktu yang lama tuk lulus terutama dari D3 ke S1 yang lama banget.

    Di Indonesia memang sengaja agar waktu sekolah/kuliah di buat lama agar semakin banyak uang yang masuk ke sekolahan dan departemen terkait. Padahal lulus kuliah masih susah cari kerja, capek deh.

  16. Posted by triwahyuni on Juni 3, 2008 at 5:22 am

    asw. saya mahasiswa DIII semester akhir yang insyaAllah sebentar lagi lulus. untuk nglanjutin kul, ada yang nyaranin ke DIV aja lbh spesifik, ada juga yang nyaranin s1 aja biar ga tanggung biayanya. saya jadi bingung deh dgn DIV.
    antara setuju ga setuju ci..
    masalahnya ini…
    kalo untuk ilmunya ci y lbh milih yang lebih spesifik DIV, dan keliatannya mereka lebih terampil di lapangan. tp DIV itu ga jelas statusnya… Bingung..bingung..bingung..??
    tolong PPNI lebih tegas lg ngambil keputusan..
    terus apa bener akan ada kul DIV yang ikatan dinas??

  17. Posted by kaysan,solo on Juni 9, 2008 at 3:04 am

    setuju aja,
    bagaimana ketua PPNI sendiri dari SKM

  18. Posted by junaidi Abdillah,SST, pekalongan on Juni 20, 2008 at 4:09 pm

    salam sejahtera buat anda yang masih merasa perawat..
    begini, pokok masalah D IV keperawatan ada pada status diakui dan tidak diakui..
    pertanyaan yang muncul di masyarakat adalah apakah perawat mampu memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat?
    jawaban yang akan diberilan oleh perawat ( entah itu DI, DIII, DIV, S1, S2, S3) tentunya sama..yaitu YA..
    sekarang kita jangan saling menyalahkan..apakah kemampuan kita mampu memenuhi jwaban “iya” kita terhadap pertanyaan diatas??
    kenapa kita harus pusing2 mikir status? toh pada kenyataannya siapa yang mampu, dialah yang bertahan?
    siapa yuang takut, dialah yang banyak omong untuk menutupi ketakutannya…
    siapa yang tidak mampu dialah yang juga banyak omong untuk menutupi ketidak mampuannya..
    apakah masyarakat akan sehat hanya dengan banyak omong?
    apakah masyarakat akan sehat hanya dengan perbedaan persepsi?
    apakah perawat indonesia mampu memberikan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan kesehatan kalau hanya menonjolkan perbedaan persepsi dan perselisihan antar jenjang keperawatan?
    nasi sudah jadi bubur…mari kita olah dan percantik bubur itu agar bisa bermanfaat dan berguna untuk semua..
    pesen saya kepada perawat yang penakut, perawat yang tidak mempunyai kemampuan tapi banyak omong dan perawat yang menyukai perselisihan : ” INTROPEKSI DIRIMU AGAR KAMU BISA MEMBUKTIKAN BAHWA KAMU ADALAH PERAWAT YANG KOMPETEN YANG MAMPU MEMENUHI KEBUTUHAN MASYARAKAT AKAN KESEHATAN”..
    buat temen2 perawat semua,..mari temukan solusi yang baik dengan mengedepankan kepentingan bersama..
    Tambahan lagi : ” kultural kita tidak sama dengan kultural bangsa lain, kita adalah kita yang akan dengan sekuat tenaga berjuang untuk kemajuan negara kita..”
    jadikan dunia keperawatan sebagai tonggak kemajuan kesehatan negara..

    kalo ada yang tersinggung, mohon maafnya..
    untuk perbedaan persepsi, tuangkan pendapat anda di blog kami : http://keperawatanemergency.blogspot.com
    kami terima saran dan kritik anda demi kemajuan bersama

  19. Posted by dhaniel on Juni 21, 2008 at 12:06 pm

    buat junaidi Abdillah,SST, di pekalongan
    1. Apa prestasi anda dlm bidang keperawatan ?
    2. Siapa perawat S3 yg sangat berjasa dan sebagai perawat mampu memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat ?
    3. Anda yg terlalu banyak ngomong tapi tidak punya bukti dan peran anda tidak kedenger gaungnya di itngkat nasional sbg pahlawa ‘perawat’
    4. Memang berapa banyak sih perawat yg sudah S3, koq kagak kedengeran ya prestasi dan jasanya, apalagi perannya dlm pelayanan kesehatan, bahkan penelitiannya juga tidak kedengeran yah…..

  20. d4 sah2 sajalah

  21. what’s make d4 different? D4 is speciall…We have a uniqe competention.. If you interest about it, let’s join with us. I guarantee you’ll become to speciall nurse..Bye

  22. Posted by kiki on Juli 5, 2008 at 1:38 pm

    saya sangat setuju dengan d4 keperawatan, terutama bagi teman pns umur 35 keatas dan non pns yg biasanya sangat mengutamakan kemampuan dibandingkan selembar ijasah s1, jenjang s1 mahal dan memakan waktu, kemampuan dilapangan??? teori ilmu sangat mungkin didapat dimedia baik cetak maupun elektronik, itu namanya saliang menghargai

  23. Kok perawat jaman skrg,suka beranteeemm…trs ya.heran aq… dari pendapat tmn2 di atas,keliatan bgt!!.siapa yg hobi menyerang,siapa yg byk omong,siapa yg suka perselisihan,siapa yg suka mencaci. Gak usah aneh2 deh.yg ptg qt melayani masyrkt sbaik mgkn,msyrkt jg tahunya qt mampu&brkompeten(tdk memandang jenjang pndidikan). Intinya,qt mmberikan pelayanan trbaik kpd msyrkt,pd akhrnya msyrkt yg akn mmberikan citra yg bagus bwt profesi qta(itu yg dharapkan semua kan). Jgn brambisi melakukan sesuatu yg”wah” dulu, tetapi untk hal2 kecilpun qt gk bisa melakukannya. Bwt PPNI, jgn hanya sibuk ngurusin kyk gini aja.tuh…byk sodara qt di daerah yg profesionalnya msh blm d akui&gak d hargai(gji msh jauh d bwh UMR).kalo gak organisasi profesi,siapa lagi yg akn memperjuangkan???…

  24. Posted by duri on Juli 8, 2008 at 1:03 am

    Dunia perawat carut marut dan hal tersebut berkaitan dg banyaknya jumlah S1 keperawatan yang tugasnya banyak menjadi dosen ketimbang tenaga kesehatan di rumah sakit. Hal inilah yang menurunkan citra dunia keperawatan oleh karena kebanyakan para skep tersebut tidak saja terlalu banyak berteori namun juga banyak tuntutan. Kita tahu bahwa perawat itu suatu profesi yang sangat memerlukan ketrampilan klinik ketimbang menabung ‘teori’. Sehingga banyaknya tenaga skep menurunkan “SKILL” perawat yang terjun ke dunia klinik. Dan fakta ini sangat erat sekali dengan banyaknya tenaga skep yang tidak mau terjun menjadi perawat yg mau belajar untuk menambah ketrampilan kliniknya. Banyak mereka yg skep maunya kalau kerja menjadi BOS tidak mau terjun ke bawah dan bisanya cuma cuap2 alias ber-teori saja. Inilah yg menurunkan martabat perawat dimata masyarakat bahwa perawat S1 itu banyak yg tidak bisa apa2 selain banyak tuntutan,karena itulah maka pemerintah membuka D4 yg difokuskan kepada ketrampilan klinik alias SKILL dan bukan membuka lowongan kerja PNS buat perawat yg S2 dan S3 dan hal itu sudah sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat terhadap perawat yang sangat terampil dan cekatan serta tidak butuh perawat yg terlalu banyak TEORI.

  25. Posted by MUHIDIN Amd.An on Juli 20, 2008 at 7:08 am

    Setuju bila dibuka program pendidikan D.IV spesialisasi anesthesi, karena kami mersa didaerah daerah terpencil keberadaan kami sangat dibutuhkan sementara payung hukum dan institusi pendidikan kami tidak jelas keberadaannya, sebagai tenaga perawat yang berhubungan langsung terhadap berbagai permasalahan pasien diperlukan keprofesionalan yang harus ditempuh melalui jalur pendidikan, sehingga perlu adanya lembaga pendidikan yang resmi menyelenggarakannya, jika sejawat BIDAN bisa membuka program D.IV kebidanan, rasanya pemerintah kurang bijak kalau PROGRAM PENDIDIKAN PERAWAT ANESTHESI

  26. Posted by MUHIDIN Amd.An on Juli 20, 2008 at 7:14 am

    di kampus ku tercinta jl.kimia 22-24 malah ditutup tanpa alasan yang jelas, sementara kami yang sudah terlanjur diproduk ini terlunta lunta nasib karir dan payung hukumnya, sementara disatu sisi kami terus dituntut untuk melayani dan melayani dengan serba keterbatasan kemampuan. adilkah ini…..? harusnya ditingkatkan dari D.III menjadi D.IV bukannya malah ditutup……, jadi program D.IV anesthesi harga mati harus dibuka…….

  27. Posted by junaidi, SST on Juli 21, 2008 at 8:46 am

    ternyata masih asyik ne di perbincangkan D IV nya..berarti pada perhatian dunk ma DIV..buat daniel..pahami dulu tulisan saya baru anda berkomentar..thanks buat masukannya,saya suka orang2 seperti anda yang kritis..
    tapi ada satu hal yang kurang anda cantumkan..detail diri anda..thanks
    VIVA D IV, suatu saat semua orang akan bilang
    ” Gelo aku ora melu DIV “

  28. Posted by zanipitoyo on Juli 22, 2008 at 2:42 am

    pendidikan apapun yang telah di enyam, SPK, AKPER, S 1 Keperawatan, atau S 2, atau S3 yang jelas mereka telah ‘lahir’ dan telah menjadi bagian produk pendidikan di indonesia dan luar negeri, jadi, marilah kita sambut mereka sebagai bagian dari ‘komunitas perawat indonesia ‘ yang tidak juga maju karena kita pertanyakan ‘kesejatian keperawatan mereka’. Mari kita gunakan kelebihan dan kecerdasan mereka serta pengalaman mereka untuk memajukan ‘profesi perawat’ .

    Mereka telah di wisuda dan di ‘baiat’ sebagai perawat, maka mereka adalah ‘perawat’. sama dengan ‘saya’.

  29. Posted by zanipitoyo on Juli 22, 2008 at 2:48 am

    Mari kita gunakan kelebihan dan kecerdasan mereka dan pengalaman mereka untuk menjadi perawat yang dibutuhkan oleh lingkungan-nya. Bekerja sebagai perawat.

    Kehadiran kita sebagai manusia yang kebetulan atau direncanakan sebagai ‘perawat’ harus dirasakan oleh masyarakat luas, dalam setting rumah sakit, ataupun komunitas.

    Dalam setting kita sebagai perawat maupun masyarakat biasa.

    http://zanipitoyo.wordpress.com/

  30. Posted by kiki on Juli 23, 2008 at 11:01 pm

    buat Muhidin: bukankah program keperawatan anestesi di jl. kimia 22-24 dah dibuka kembali n jogja juga, bravo !!!

  31. […] D IV tersebut sampai sekarang masih menimbulkan ‘jejak sisa’, menimbulkan polemik dan perpecahan, polemik pada tataran duduk dan kumpul-kumpul, dan perpecahan artinya ada sikap memandang lebih […]

  32. Posted by GS on Juli 27, 2008 at 6:43 am

    Menurut gua keperawatan gak bakal maju!
    Lihat aja komen dari para pembaca di situs ini..
    Sama sekali tidak ada loyalitas dari masing-masing individu untuk memajukan keperawatan.
    Ini namanya “divide et impera”, keperawatan diadu domba oleh profesi lain “MENKES” yang notabene seorang dokter itu.
    Kalau mau maju ya bersatu dong, jangan terus berantem kayak gini…
    Gua setuju DIV lebih terampil karena background mereka rata-rata sudah kerja. Dan Gua setuju SI lebih banyak ilmunya dan kurang terampil karena rata-rata backgroundnya dari SMU dan masih nol pengalaman kerja.
    Menurut gue nih, kalau ingin maju harus berpikir maju juga…
    Bukannya skill bisa diasah seiring dengan jam kerja, begitu juga dengan ilmu bisa dikeruk seiring waktu

    Saran gua kalau pengen maju, kalian para perawat harus solid… agar kalian diakui profesional oleh profesi lain. jangan cuma berantem melulu…
    Yang penting apa kontribusi kalian untuk memajukan keperawatan indonesia….
    DIV terampil karena skillnya sudah dijuruskan, namun ilmunya relatif kurang dibanding S1 S2 atau S3. S1 Kurang terampil namun tahu ilmunya.
    Harapannya tinggal perawat S2 dan S3, mereka berilmu juga terampil karena mempunyai pengalaman kerja juga mengenyam ilmu yang tinggi.

    Itu semua terserah kalian mau yang spesialis instan atau memang benar-benar spesialis yang berilmu….
    Bagaimana? masa bodo’, gua ga mau tahu tentang profesi ini …gua gak bangga dengan profesi ini, kerjaannya ribut-ribut melulu dan gak kompak…
    lihat tuh profesi lain sudah menggeliat dan mulai bangkit…
    Bye…. hihihi.. jangan marah ya dengan “kripik pedas” gua hahaha

  33. Bagi insan kprwtn di Indonesia, yang utama adalah UU Praktek Keperawatan.
    Jenjang pendidikan apapun kalo UU Praktek Keperawatan masih blum di syahkan, perawat masih tertinggal dibanding profesi kesehatan lainnya.
    PPNI…. ayo, jangan loyo!!!!
    Bravo D-IV…
    Yaahowu Tanö Niha!!!!!

  34. Posted by Anonymous on September 14, 2008 at 1:33 pm

    perawat itu ibarat gelas kecil yang diisi air satu galon sehingga akan selalu tumpah bila diisi air,biar bagaimanapun wewenang kita memang sangat terbatas tetapi dituntut pendidikan yang muluk muluk,pendidikan kita mau s1,s2,s3 atau doktor sekalipun toh perawat dibatasi oleh wewnang yang sangat terbatas,lihat saja para bidan,mereka tidak dituntut pendidikan yang neko neko tetapi dalam RUU BIDAN mereka mengajukan kewenangan yang cukup signifikan,jadi sebelum kita bernafsu agar perwat diwajibkan punya jenjang pendidikan yang tinggi beresi dulu tuh wewenang dengan memperbesar wewenang perawat seperti diibaratkan dengan memperbesar ukuran gelas jadi kalaupun tumpah diisi air tetapi tidak akan terlalu banyak yang terbuang sia sia .dan tolong pikrkan jug nasib perawat secaraa umum baik perawat negeri maupun swasta bagaimana kesejahteraanya,tambahi kewenanganya dll .sebagaimana halnya profesi para guru yang diharuskan s1 tetapi setelah itu bisa mendapat tunjangan profesi satu kali gaji pokok dan tunjangan yang lain sehingga para guru tidak perlu ribut ribut bagaimana bekerja keluar negeri secara massal seperti perawat.kita tidak usah deh terus menerus melihat profesi perawat dinegara maju,kalau tujuan kita menghasilkan perawat hanya untuk di ekspor sebetulnya kita sudah mempermalukan profesi kita yang tidk lebih sama dengan PRT dan berarti negara juga tidak bisa menjamin lapangan kerja buat waraga negaranya yang katanya jumlah perawat kitabelum sebanding dengan jumlah penduduk,kayaknya hanya profesi perawat dan pembantu rumah tangga aja deh yang selalu digembar gemborkan untuk dikirim ke luar negeri dan bukankah ini memalukan?berarti diluar negeri memang profesi ini kurang diminati oleh orang sana dan bukankah ini sama dengan profesi PRT?trus apa untungnya kita harus menjegal program d4?bukankah program ini yang paling siap menjawab tuntutan kebutuhan perawat dari segi apapun?perawat lebih terfokus kepada bidang yang menjadi sepesialisasinya,dari sisi biaya jg tidak terlalu jadi beban .sebab sekalipun perawat sudah mencapai jenjang spesialis atau s3 toh tetap perawat dibatasi oleh wewenang2,paling paling jg kl sudah specialis perawat juga tidak akan bisa eksis melebihi seorang dokter umum sekalipun.jadi kita tudak usah terlalu berpolemik mempertentangka n d4 selama kita sendiri belum bisa menjawab pertanyaan2 diatas

  35. Posted by reog on Oktober 3, 2008 at 12:30 pm

    sangat setuju adanya program DIV anestesi,

  36. Posted by lolipomatuha on Oktober 3, 2008 at 5:30 pm

    sbg masyarakat awam kami tidak merasakan keahlian ners spesialis maupun ners apalagi doktor of ners pada saat kami dirawat dirumahsakit, berkunjung ke puskesmas dan maupun di klinik2, dan sampai hari ini juga kami menganggap bahwa pelayanan kesehatan yg diberikan oleh perawat vokasional (D3), ners dan ners spesialis adalah sama yaitu sebagai TENAGA TERAMPIL dan bukan sebagai TENAGA AHLI, jadi Buktinya apa “perawat S2 dan S3, mereka berilmu juga sekaligus terampil…???” Jawabnya TIDAK ADA BUKTI
    Dan apa yg bisa dilakukan oleh ;
    1. ners spesialis KMB
    2. ners spesialis Komunitas
    3. ners spesialis Maternitas
    di bidang pelayanan kesehatan …..?? mereka perawat yg S1,S2,ners,ners spesialis paling2 sama2 juga pasang infus, nyuntik obat,ganti perban, perawatan luka,lantas apa yg diharapkan dari perawat yg S1,S2,ners,ners spesialis…???
    Dimata masyarakat, perawat itu semua SAMA kerjanya, mau nambah wewenang kayak dokter, apa yg bisa dilakukan perawat sehingga bisa melebihi wewenang keahlian dokter…. ???

  37. setuju banget..

  38. Posted by reog on Oktober 17, 2008 at 1:32 am

    memang pada dsr nya perwat dicetak bkn jd dktr,tp u/ m”nambah ilmu agar semakin maju dlm dunia kprwtn dan tidak jalan di t4 mka sah2 sj m”lanjutkan ke jenjana yg lbh tinggi,terserah mo ke S1,2,3,4,5,6 dst ato ke spesialis anastesi kek,medikal bedah kek dll,itu BEBAS.. bedanya cuma kewenangan terbatas yg dilakukan,dan kt sekolah bkn m’nyamai dktr,.. akan lbh bijak kalo sama2 perwat saling mendukung satu sama lain,dan sling m’hargai keputusan masing2 dan memperkokoh persatuan.. krna ujung tombak dlm masyarakat dlm hal kshtn adalah perawat,. mk dari itu lbh baik tingkatkan mutu plynan pada masyarakat,krn mereka tidak peduli kt llsan apa,yg penting pelayanan kt.. gmn..?

  39. Hasil penelitian Rustina, Y.
    (Distribusi dan Utilisasi Lulusan: Suatu Survey, dalam Jurnal Keperawatan
    Indonesia, Vol.II No.6, Mei 1999) yang difokuskan hanya untuk lulusan Fakultas
    Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dari tahun 1988 sampai dengan 1997 dengan n=200, didapatkan hasil bahwa 70,5 % para lulusan bekerja pada institusi
    pendidikan, 5,5 % di institusi pelayanan, 3,5 % Administrasi, 0,5 % lain-lain.
    Relevansi lulusan berdasarkan alasan memilih pekerjaan 52,0 % karena sesuai
    dengan pendidikan/keilmuan, 12,2 % Gaji yang memadai, 22,6 % lingkungan kerja
    yang menyenangkan, 3,7 % tidak ada pilihan lain, 10,7 % lain-lain. Dari data
    diatas dapat disimpulkan bahwa ada kecendrungan yang sangat tinggi dari lulusan
    untuk bekerja di institusi pendidikan (70,5 %) dengan alasan memilih karena sesuai dengan pendidikan dan keilmuan (52,0 %).

    Dengan demikian timbul suatu pertanyaan,
    1. Bagaimana nasib pelayanan keperawatan milik pemerintah di Indonesia ke depan yang dikatakan sudah profesional dalam menghadapi pasar bebas dan tuntutan konsumen sebagai pengguna dari sebuah produk jasa, bila para sarjana keperawatan lebih memilih untuk bekerja di institusi pendidikan ?
    2. Apakah itu berarti kontribusi perawat di bidang pelayanan kesehatan cuma 5% ?
    Kesimpulannya mas reog, masyarakat toh tetap juga tidak merasakan perbedaan pelayanan kesehatan yg diberikan perawat S1, S2,S3, ners spesialis atau bahkan yg doktor ners, jadi yg penting adalah BUKTI KONKRIT KEBERADAAN DARI NERS ITU APA SESUNGGUHNYA PERANANNYA DLM MASYARAKAT ITU ???

  40. Posted by reog on Oktober 20, 2008 at 1:57 am

    aspirasi sy kmrn dimn ya?kok hilang?… apa ada ang th?

  41. Posted by Anonymous on Oktober 21, 2008 at 3:54 pm

    d

  42. Posted by AR on Oktober 21, 2008 at 4:40 pm

    Om & tante,blh numpang tanya?
    Dimana alamatnya sekretariat DIV anestesi?
    (Yg dimana aja, yg penting msh dlm wil.NKRI)
    Aku minat bannget, kepengen ikutan DIV anestesi tsb.
    Klo temen2 ada info, tolong send ke : kamboja89@gmail.com.
    Thank U so much….

  43. Posted by reog on Oktober 21, 2008 at 5:07 pm

    slmt mlm bpk.anyelir.. sblm nya sy mohon maaf..
    apa bpk anyelir dri kesehata?klo iya knp msh menanyakan bukti kongkrit pelayanan kshtn?.. klo bkn,mngkin bpk belum prnh sakit,jd belm parnah m’rasakan pelynan di bdng kshtn,semoga klo bs tdk usah,krn bpk & klarga sll dlm keadaan sehat2 sll,amin..
    betul sekali,mmng pada dasar nya se tinggi2 nya ilmu yang dicari,tapi kembalinya u/ masyarakt jg..
    tp ngomong2 soal hasil pnltian,sy kok msh ragu.,scra logika sj berapa jmlh dosen kprwtn dlm 1 kota?tdk lbh dr 100 org,sedangkan jmlh krywn dlm 1 Rmh sakit > dr 100 org,pdhl dlm 1 kota jmlh RSU > dr 1,blm puskesmas di desa2.. jd bs disimpulkan lowongan kerja > bnyk di bidang pelayanan,b”arti > banyk minatnya ke pelayanan.,, setuju?
    mengenai bukti kongkrit pelayanan kshtn pd masyarakat, kt ambil contoh sj:

    * seandainya bpk seorang perawat,pas dinas sore/mlm,kbtln dtng pasien dlm keadaan gelisah,keringat gingin,tensi tak teraba,ECG SVT, apa yg bpk lakukan? 1mnt kmdian psien m’dadak kejang,tdk sadar,henti nafas,ECG VF tanpa nadi,apa yg bpk lakukan? 1 mnt kmdian psien m’ninggal.. siapa yg salah???..
    * atau pasien kecelakaan dtng dlm keadaan segar bugar,tiba2 sesak hebat,ada trauma dada,apa yg bpk lkukan?5 mnt kmdian pasien m’ninggal.. sp yg salah?.. perawat?klarga pasien?ato pasien itu sendri?..
    scr medis ke 2 kasus trsbt bs dicegah,pasien selamat.. dan bgmn seandainya pasien trsbt kelarga bpk?klo m’ninggal psti kecewa,klo selamat bpk a/ m;rasakan betapa penting nya peranan perawat dlm bidang pelayanan,krn b’hub. ngan dg hal yg tdk dpt ditukar,yaitu NYAWA

    dan semua ilmu itu di dpt dr b’bagai pelatihan dan kursus tertentu(PPGD,ACLS,dll)
    ilmu jg di dpt dr sekolah S1,2,3,nurs.. ato D4,t’serah,, bebas,,
    adanya D4 bkn b’arti kemunduran dlm dunia kprwatan.
    kprwtn ada 2,bdng pendidikan&pelayanan,semua py kelebihan masing2.
    bagi bdng pendidik tngkt kan dan tuntut ilmu se tinggi2nya, demi pngkatan dunia pendidikan guna m;cetak mahasiswa yg handal,bagi bdng pelayanan silakan m’lanjutkan ke D4 profesi demi tuntutan masyarakat yg semakain maju.
    akhirnya kt saling m’ngisi u/ lbh baik & m’majukan dunia keperawatan u/ GO INTERNASIONAL..

    salam “REOG” sll..

  44. Praktek Mandiri Perawat itu cuma wacana lama dan tidak begitu populer, apa yg
    bisa dilakukan oleh perawat saat praktek mandiri ? Perawat yg praktek mandiri
    cuma perannya sebatas health educator alias penyuluhan,tidak lebih dari itu dan
    perawat itu cuma trampilnya di hospital itupun karena adanya kolaborasi dan
    delegasi dari dokter nah kalau perawat sudah praktek mandiri berarti tidak ada
    kolaborasi dan delegasi dari dokter maka perawat tidak bisa melakukan tindakan
    medis walau terbatas dan mas reog lalu APA LAGI YG BISA DILAKUKAN PERAWAT YG PRAKTEK MANDIRI TANPA DELEGASI DAN KOLABORASI DG DOKTER ?

  45. Posted by yadi mintorogo on Oktober 22, 2008 at 4:35 am

    yang penting untuk perawat sekarang bagaimana caranya gaji perawat supaya naik 100% seperti guru yg ba
    nyak

    libu

    rnya,,kalau perlu kita demo berhenti kerja biar pemerintah tahu bahwa banyak pns yg lebih berperan dlm membantu pembangunan bangsa’

  46. Posted by Anonymous on Oktober 22, 2008 at 12:06 pm

    g

  47. Posted by reog on Oktober 22, 2008 at 1:06 pm

    buetul mbak cempaka,scr hukum kt tdk py wwnang tindkan medis sedikit pun,kt cm bs kompres dingin pd pasien panas,.. ya tooo…
    kt hrs b’syukur akan hal itu,,dlm arti kt dah py pekerjaan,ato jd PNS),krn mmng sekolah yg dulu kt tempuh ya dicetak u/itu tidk .. kt hrs sadar a/ hal itu.
    tp kenyataan dlm prekteknya kt th sendiri kan,kt bs m’berikan pengobatan pertama pd psien yg dtng ke rumah,sprti: inj. B12, B1 yg relatif tdk ada efek samping,ato m’berikan pil,tablet,kapsul.. yg semua itu b’sifat PENGOBATAN PERTAMA,dan itu dah jd rahasia umum,dokter tetangga kt jg th kalo kt jg nyontik.. pandai2 nya kt aja hrs > jeli,apa pasien ckp kt tangani sndri,ato hrs dirujuk ke RSU…
    tp pd kasus tertentu saat m’hadapi pasien tertentu yg sangat m’merlukan penangan darurat krn bs m’ngancam jw pasien dlm hitungan detik,dan kbtln kt seorang prwt yg py ketrampilan kusus yg b’sertifikat dan b’pengalaman dan kt th penatalaksanaan pd kasus trsbt,knp tdk kt lakukan..?walaupun saat itu tidk ada dokter,krn mngkn kejadian trsbt di jalan raya.. tp kl tdk kt lakukan,pasien bs m’ninggal,apa itu salah bl kt menolong sesama?apa hrs seorang DOKTER yg bs m’nolong sesama..
    mbak tahu kan PERAWAT AMBULANCE?..
    maka dr itu mbak cmpka.. silakan anda m’ngikuti pelatihan2,ato m’lnjtkan sklh,nanti akan >buanyak th tntng prosedur kegawatan.. trm ksh.

    salam REOG Sll”

  48. khusus buat ‘reog’ :
    Kerja pak mantri sebagai bagian bentuk praktek mandiri perawat yg banyak melakukan tindakan medis seperti sirkumsisi telah banyak dirujuk ke rsud di kabupaten akibat perdarahan hebat karena hemofili dikarenakan tidak tahunya perawat tersebut tentang klinis hemofili dan sebagai dokter ptt yg menjabat kepala puskesmas, kejadian tersebut tidak saya persoalkan dan sudah berapa banyaknya kasus stroke yg terjadi karena perawat tidak tahu tanda2 stroke sehingga masih saja dirawatnya pasien hipertensi di rumah dg pengetahuan pak mantri sbg perawat thd obat yg sangat minim sekali dan sekali lagi saya pun tutup mata atas buruknya kinerja pak mantri tersebut sbg perawat yg praktek mandiri. Lalu ada 7 kasus luka diabetes derajat 5 yg meninggal akibat sepsis yg selama riwayat pengobatan hanya ke pak mantri akibat minimnya pengetahuan farmakologi, diagnosa dan terapetik dan saya pun memakluminya. Kemudian ada 10 pasien dg luka gigitan hewan buas yg juga meninggal akibat sepsis tetanus hanya dijahit oleh pak mantri dan lupa menyuntikan vaksin ATS dan anti rabies, dan saya pun sbg dokter ptt -kepala puskesmas- lagi2 tutup mata sehingga saya cuma berpikir saja, kalau pihak dinkes tidak punya wewenang yg meng-upgrade ilmunya pak mantri lalu tanggung jawabnya ke mana…?? organisasi perawat ?? yah siapa lagi kalau bukan PPNI dan semua kejadian diatas tidak saya tegur karena saya mencoba membina hubungan yg sinergis dg profesi perawat namun sangat disayangkan sekali bahwa dari pihak PPNI tidak mau turun tangan untuk membina perawat pak mantri yg buka praktek perawat secara mandiri dan tolonglah sebaiknya pak mantri itu diperlukan uji kompetensi terlebih dahulu agar perawat seperti contoh pak mantri di atas benar2 siap untuk melakukan praktek mandiri perawat dan itu tanggung jawab PPNI, bagaimana mas reog, sudah berapa banyak perawat yg layak dan lolos dari uji kompetensi dan diberikan sertifikat buat praktek perawat mandiri supaya tidak merugikan pasien di desa yg notabene sangat lugu dg apa itu dokter dan perawat, mereka semua menganggap bahwa semuanya itu yg buka praktek adalah dokter….

  49. Posted by Anonymous on Oktober 24, 2008 at 1:35 pm

    k

  50. Posted by reog on Oktober 24, 2008 at 2:59 pm

    salam to P.dktr,
    sy pribadi m’ngucapkan trm ksh atas kritik dan inf. yg di berikan atas kasus diatas.
    harapan kt sbnrnya jd prwt profesional,dimana kt b’kerja sesuai dg porsi dan wewenang sprti yg tlah sy ungkapkan sblm nya,tp kenyataan dlm praktek se hari2….
    m’nurut sy adalh fenomena .. s’benarnya visi sy adlh itu p.dr,m’ngajak rekan2 sejawt u/b’kerja sesuai dg wewenag,menjauhi mal praktek,dll.. tp p.dr.. jangan kan sy.. DINKES,PPNI blm mampu mengubahnya,,apalagi sy.. tp mmg ada faktor2 lain yg m’dukung hal itu,dan kt semua dan siapa pun tdk bs memungkiri dan pasti memakluminya,adalah:
    1. perawat domisili di desa,tdk ada Dr dan mgkin jauh dari psksms.
    2. sugesti pasien mgkn cenderung ke PAK MANTRI,(klo blm sontik ke pak mantri reog blm marem/puas,pdhl 100m dari rumhnya ada dktr ptt)
    3. dan kt jg py SIP & SIPP
    krn dari itulah pak dktr prwt jg tetap praktek di rmh,dan klo ada pasien ke rmh klo ndak di sontik jg ndak marem,pdhl yg kt masuk kan tdk lbh dari vitamin aja,biasanya cianocobalamin. dan jg sikumsisi,klo di desa ndak th ya..knp kok lbh m’milih ke pak mantri,itu jg fenomena..
    maka dari itu,sy sbg generasi perawat hy bs m’himbau pada rekan2 sejawat,klo mo m’lakukan tndk. medis(nyontik,cirkumsisi dll) hendaknya sngt diperhitungkan krn ingat itu bkn wwng kt,jngn smpi tjd malprktek. sprti sy katakan kemarin,kt hrs lbh jeli dan > hati2 dlm m’berikan pengobatan pertama.jgn ragu2 u/konsultasi dg dktr setempat dlm m’berikan plyn kshtn kl mmg diperlukan, dan u/ pak dktr, sy pribadi mgkin m’wakili slrh teman sejawat m’ngucapkan trm ksh yg dengan sabar masih tetap m’bina hub. baik dan sinergis dg perawat,dan jgn jemu u/sll m’himbau pd slrh prwt yg ada di pksms bpk. u/ lbh selektif dlm m’erikan pengbtn prtm dirmh. krn antara dokter & prwt adal TEAM WORK,bkn atasan dan bawahan. bedanya hy pangkat dlm struktural sj. dan m’berikan plyn kshtn pd masyarakat bgmn pun jg kt hrs b’kerja sama satu sama lain. ada dktr tdk ada prwt, ndak jalan,dmkian jg sebaliknya,klo bkn kt siapa lagi..
    sekali lg u/ rekan2 prwt.. praktek di rmh jelas tidk bs kt hindari,u/ itu > selektif dan hati2 dlm m’brikan pelyn pd msyrkt.. jgn smpai kasus yg telah diungkap o/ pak dkter diatas terulang,walau mgkn kejadian diatas 1 dari 1000 cirkumsisi yg kt lakukan. tp a/ lbh baik kt lbh b’hati2 lg guna m’hindari hal2 yg tdk di inginkan.
    salam “REOG” sll

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: