Peran perawat?

Saya tertarikuntuk memposting tulisan ini, karena masih banyak kalangan yang menganggap bahwa perawat memiliki peran yang minim terhadap kesembuhan klien di RS. saya tidak akan memberikan penjelasan tentang bagaimana peran dan fungsi perawat dalam merawat pasien di RS, tetapi saya mencoba memberikan tantangan untuk anda berkomentar terhadap kasus berikut ini:

Contoh kasus

Seorang pasien dirawat di rumah sakit dengan fraktur femur 1/3 distal. pasien tersebut harus immobilisasi dalam waktu yang cukup lama sampai terjadi proses perbaikan penyakit, sekaitan  dengan immobilisasi yang dilakukan, maka  timbul masalah baru yakni, adanya  luka baru pada area yang sering tertekan yang kita kenal dengan dekubitus (infeksi nosokomial).

Pertanyaan dari kasus singkat diatas!

  1. Kenapa timbul dekubitus?
  2. Anda mengetahui bahwa  yang selalu berhubungan dengan pasien tersebut adalah dokter, perawat, dan keluarga pasien. lalu siapa yang paling bertanggung jawab atas timbulnya dekubitus tersebut?

monggooo….

About these ads

49 responses to this post.

  1. menurut analisa saya, dekubitus yang dialami klien pada kasus diatas disebabkan karena tirah baring yang lama, yang mana kita ketahui bila immobilisasi lama pada klien akan menyebabkan penekanan pada area teretekan hingga sirkulasi darah tidak adekuat pada jaringan yang menyebabkan terjadi nekrosis jaringan kulit. seorang perawat tahu bahwa kulit merupakan pertahanan utama bagi tubuh, ketika jaringan kulit terbuka maka potensi kuman masuk kedalam tubuh sangat besar untuk menyebabkan infeksi.

    Dimana peran dokter untuk mencegah dekubitus? apakah dokter melakukan terapi profilaksis? tentu tidak..jadi ketika terjadi dekubtus pada klien, maka seharusnya yang lebih bertanggung jawab adalah perawat. why?

    Pada kasus diatas, perawat menganalisis bahwa kemungkinan akan timbul dekubitus atau mengangkat diagnosa keperawatan resiko terjadinya gg. integritas kulit: dekubitus b.d tirah baring. dengan diagnosa ini, perawat merencanakan 1. perubahan posisi setiap 2 jam 2. memperhatikan kebersihan linen, atau merapikan tempat tidur. 3. libatkan klien dan keluarga untuk perubahan posisi 4. memberikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang pentingnya perubahan posisi, kebersihan lingkungan dalam pencegahan dekubitus 5. berikan nutrisi yang adekuat.
    nah, bila perawat melaksanakan intervensi diatas, insya ALLAH, klien tidak akan terjadi dekubitus. tapi bila perawat bermasa bodoh, maka dampaknya adalah insiden infeksi nosokomial di RS akan meningkat pesat. Ini menurut analisa saya berdasarkan kasus diatas. thanks pak iwansain…

  2. Posted by parasian siregar on Juni 6, 2008 at 6:12 am

    saya tertarik dengan contoh kasus bapak, mengenai pertanyaan no i saya kira kita semua sudah tau teori faktor faktor penyebap dekubitus. tapi siapa lebih bertanggung jawap antara dokter, perawat dan keluarga pasien. pendapat saya ketiganya bertanggung jawap atas terjadinya dekubitus ini ( imobilisasi lama )
    dokter : fr.femur 1/3 distal kalaw fiksasi interna (operasi) ataw pasang gips maka tidak perlu imobilisasi lama paling 1- 2 hari pasien bisa jalan.
    keluarga : mungkin tidak punya uang atau tidak mengerti cara mengurus gakin
    Perawat : tidak memberikan helt educasien kepada keluarga, pasien tentang peran keluarga mengurus pasien yang menjalani imobilisasi yang lama. makasi pak iwan sukses selalu

  3. Posted by syafei on Juni 15, 2008 at 4:28 am

    Benar helda, saya sangat setuju dengan saudari helda, mari kita analisa kasus yg dipaparkan mas iwan:
    Contoh kasus

    Seorang pasien dirawat di rumah sakit dengan fraktur femur 1/3 distal. pasien tersebut harus immobilisasi dalam waktu yang cukup lama sampai terjadi proses perbaikan penyakit, sekaitan dengan immobilisasi yang dilakukan, maka timbul masalah baru yakni, adanya luka baru pada area yang sering tertekan yang kita kenal dengan dekubitus (infeksi nosokomial).

    Data kasus sangat minim sekali, tidak ada usaha pembuktian suatu kausal penyakit, sehingga bisa diatasi. Kasus ini biasa saja, tidak terlalu menarik, cuma datanya saja tidak lengkap, data yang harusnya ada adalah:
    1. Pemeriksaan laboratorium: hemostase, profil DM,
    kultur pus dan darah, mana hasilnya ?
    2. Pemeriksaan penunjang, seperti Rontgen tulang panggul (adakah osteomieltis ?)
    3. Nilai ABI, Skor SLE tidak ada
    4. Hasil bone survey ?
    Kalau cuma kasus seperti saja terus langsung disimpulkan ulkus dekubitus karena imobilisasi lama dan dikaitkan dengan peranan perawat, itu berarti mas iwan ini tidak mengerti apa2 tentang infeksi nosokomial,coba deh lengkapi dulu data2nya ya baru diskusinya lancar dan tentu ada kesimpulannya, OK

  4. Posted by cutteon on Juni 15, 2008 at 4:42 am

    kalau perawat se-level pak iwan saja dikatakan sangat tidak berkualitas dan ilmu-nya minim analisa kasusnya, apalagi perawat seperti kami ? Pantes saja masyarakat menilai bahwa perawat itu cuma bisanya ber-teori saja, ga’ ada prestasi dan kampiun dlm manajemen penyakit ataupun karyanya yg cemerlang di mata masyarakat…hiks ….sedih aku rasanya….

  5. Posted by rugun itorus on Juni 17, 2008 at 4:47 am

    perawat sangat berperan besar dlm terjadinya dekubitus,krn prwt berada 24 jam sehari mendampingi pasien,,jika perawat tsb tau betul diagnosa pasien y g dirawat maka implementasi yg akan dilakukan jg akan tau,dan kwalitas sebuah bangsal peawatan ditandai dgn rendahnya infeksi nosokomial.setuju?

  6. berbicara mengenai peran peran perawat memang kt tidak bisa pungkiri, memagang peran yang sangat vital itu kalau kita lihat dari sudut pandng sebagai seorang perawat….tapi ketika kita berbicara pada dimensi yang lain maka belum tentu profesi yang lain akan berkata hal yang sama……contoh kecil saja bagaimana kalau mas iwan membaca pajar edisi rabu 18 juni 2008, hal 16… bagaiman mas iwan melihat pandangan orang lain tentang peran perawat..ok thanks hanya ikut nimbrung doang cappo

  7. berbicara mengenai peran peran perawat memang kt tidak bisa pungkiri, memagang peran yang sangat vital itu kalau kita lihat dari sudut pandng sebagai seorang perawat….tapi ketika kita berbicara pada dimensi yang lain maka belum tentu profesi yang lain akan berkata hal yang sama……contoh kecil saja bagaimana kalau mas iwan membaca pajar edisi rabu 18 juni 2008, hal 16… bagaiman mas iwan melihat pandangan orang lain tentang peran perawat..ok thanks hanya ikut nimbrung doang cappo

  8. Posted by dadang on Juni 21, 2008 at 8:18 am

    benar pak jadut dan Mr. for you, seandainya kita menyimpulkan bahwa ulkus dekubitus itu dihubungkan dg peran perawat yg tidak maksimal maka kelak suatu saat pasti semua penyakit dihubungkan dg peran perawat seperti sepsis, stroke, syok hipovolemi, status hipoglikemik induced insulin, pneumotoraks, gagal jantung, gagal ginjal,asma,dermatitis,sinusitis,sudah nampak nanti dihubungkan dengan kegagalan perawat, wah wah…mau2nya ya diperlakukan seperti itu, mbok ya kalau kita ga ngerti jangan berkomentar deh…saran saya, coba perawat yg pakar (S3) melakukan penelitian terhadap hubungan ulkus dekubitus dengan peran perawat yg tidak maksimal, gimana pak iwan mau menelitinya kagak ? jangan pinter nulis aja tapi juga pinter melakukan penelitian sehingga ada juga perawat kita yg dapat dibanggakan oleh bangsa ini yaitu perawat peneliti atau perawat ilmuwan yg tugasnya mencari benang merah ilmu keperawatan yg lamaaaaa sekali hilangnya……..!!!!!!!!!!!!!

  9. Posted by rubi on Juni 21, 2008 at 5:28 pm

    ya betul mas iwan,saya sangat yakin bahwa mas iwan pasti bisa melakukan riset tentang korelasi ulkus dekubitus dengan peran perawat,buktikan mas iwan bahwa anda sebagai perawat S2 mampu ? tapi ngomong2 sudah berapa banyak hasil riset mas iwan ? di jurnal mana publikasinya ? bisa ga mas iwan menyebutkan judul2nya saja ? Ma kasih mas iwan.

  10. aku sependapat dengan mas iwan bahwa dekubitus yang terjadi pada klien yang dirawat lama di rumah sakit tdk terlepas dari peran seorang perawat. dalam hal ini perawat selalu mendampingi klien dan mengevaluasi kemajuan klien. bila klien tirah baring yang lama sangat berpotensi terjadinya luka pada pressure point terutama siku, kepala bagian belakan, bokong, tumit, dan punggung belakang. kenapa? perawat tahu bahwa bila area tersebut tertekan dalam waktu yang lama pasti menyebabkan gangguan sirkulasi yang pada gilirannya akan terjadi nekrosis jaringan kulit maka terjadilah luka. untuk mengantisipasi hal tersebut maka nursing diagnosis diangkat yaitu resiko dekubitas b.d tirah baring yang lama. maka tindakan antisipasi perlu dilakukan antara lain perubahan posisi setiap 2 jam, nutrisi yang adekuat, menggunakan bantal angin, dan kebersihan laken atau tempat tidur. sehingga kalau hal ini dilakukan dapat menurunkan resiko dekubitus pada klien.
    jadi jelas bahwa dekubitus timbul bukan etiologinya perawat. justru perawat dapat meminimalkan resiko tersebut. tentang DVT, itu adalah salah satu penyebab ulkus dekubitus, bukan hanya itu tapi masih banyak penyebab yang lain.
    untuk kasus dekubitus saya pikir nggak perlu diteliti, karena penyebabnya sudah sangat jelas. contoh simpel aja.. coba anda berbaring terlentang tanpa ganti-ganti posisi selama 6 jam saja. dan rasakan rasanya seperti apa. apatah lagi klien di RS yang tidak berdaya..kalau bukan perawat yang bantu siapa lagi? (24 jam always standbay dekat pasien)

  11. setuju banget mbak saimah, gue heran kenap sich banyak yang tidak senang dengan S1 perawat? banyak banget tuh koment-koment yang ngejatuhin perawat. heraaaan gue. emangnya perawat itu jadi saingan siapa? nggak usah sewot. mari sesama perawat berfikir positif kedepan agar profesi kita semakin eksis. toh kalo ada sisi jeleknya mari cari solusinya, saling mendukung, jangan sebaliknya mas. kok saling sikut sich cape dech….

  12. Posted by yuli on Juli 8, 2008 at 7:49 am

    Untuk mbak saimah dan marling saya setuju dengan pendapat kalian.Kenyataan di lapangan memang kita 24 jam always standbaymonitor pasien karena emang job kita. Kita kerja sesuai profesi kita.numpang coment aja krn yg lebih pinter udah urun rembug diatas.makasih

  13. Posted by duri on Juli 8, 2008 at 11:34 pm

    buat saimah,marling dan yuli:
    Apakah cuma segitu kemampuan anda dalam menjelaskan persoalan ulkus dekubitus ? Kalau iya,itu berarti kalian memang terkena waham paranoid keperawatan yang gejalanya terlalu yakin bahwa peran perawat dapat mencegah ulkus dekubitus ? dan anda sama sekali tidak menyebutkan buku ajar yang mana yang mengatakan demikian ? Dalam berpendapat tidak boleh kita mengatasnamakan “menurut saya” atau “saya yakin…” ..sebab anda tidak melakukan penelitian sehingga pendapat anda itu adalah pendapat pribadi,sehingga kebenarannya sangat diragukan,apalagi anda adalah seorang sarjana keperawatan,dan kalau demikian kualitas seorang sarjana keperawatan seperti anda tidak beda dengan seseorang yang tamatan SMA tidak ada bedanya sama sekali. Sekali lagi tunjukkan kalau memang anda seorang sarjana keperawatan, apa ada dalam buku ajar yang mengatakan bahwa ulkus dekubitus itu adalah disebabkan peran perawat ? Apa anda juga akan mengatakan bahwa gangren diabetika karena peran perawat ? Apa anda juga mengatakan bahwa stroke karena peran perawat ? Apa anda juga akan mengatakan bahwa selulitis juga karena peran perawat ? Apa anda juga akan mengatakan bahwa timbulnya bisul di pantat juga karena perawat ? Sungguh memalukan kalau begitu dunia keperawatan yang mana sarjananya saja menyimpulkan demikian tanpa BUKTI ? Bicara dong soal korelasinya bagaimana ? Bukti epidemiologinya apa !!! JANGAN ASAL BUNYI SAJA ? Jika anda dosen keperawatan, cuma segitu ilmu saudara ? itukah kualitas seorang sarjana keperawatan yang menjadi DOSEN ? tidak tahu kaidah ilmiah sama sekali, sangat memalukan dan memuakan !!!

  14. He he he, aku geli membaca replay koment si duri, nampak kalau duri ini kurang paham dengan keperawatan..coba lihat komentnya “ulkus dekubitus itu adalah disebabkan peran perawat ? Apa anda juga akan mengatakan bahwa gangren diabetika karena peran perawat ? Apa anda juga mengatakan bahwa stroke karena peran perawat ? Apa anda juga akan mengatakan bahwa selulitis juga karena peran perawat ? Apa anda juga akan mengatakan bahwa timbulnya bisul di pantat juga karena perawat ?” sangat lucu, seolah-olah tidak ngerti tentang selluilitis, dekubitus, gangren diabetik. berkomentar seperti orang paling benar, tapi justru memperlihatkan kekerdilannya dalam menelaah persoalan, picik dan always bernegatif thinking. terlihat pula bahwa siduri ini nggak pernah merawat atau mencegah timbulnya dekubitus pasien di rumah sakit sehingga selalu mempersoalkan tentang peran perawat dalam pencegahan dekubitus. baiklah agar duri lebih memahami tentag dekubitu, nggak ada salahnya baca artikel dbawah ini, ditulis oleh seorang perawat bernama Yunita Sari:

    LUKA TEKAN (PRESSURE ULCER) : PENYEBAB DAN PENCEGAHAN

    Gerontological Nursing/Wound Care Management Department
    The University of Tokyo, Japan
    E-mail : yunitasari_gmu@yahoo.com

    Luka tekan (pressure ulcer) atau dekubitus merupakan masalah serius yang sering tejadi pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas, seperti pasien stroke, injuri tulang belakang atau penyakit degeneratif. Istilah dekubitus sebenarnya kurang tepat dipakai untuk menggambarkan luka tekan karena asal kata dekubitus adalah de*****bere yang artinya berbaring[13]. Ini diartikan bahwa luka tekan hanya berkembang pada pasien yang dalam keadaan berbaring. Padahal sebenarnya luka tekan tidak hanya berkembang pada pasien yang berbaring, tapi juga dapat terjadi pada pasien yang menggunakan kursi roda atau prostesi[19]. Oleh karena itu istilah dekubitus sekarang ini jarang digunakan di literatur literatur untuk menggambarkan istilah luka tekan.

    Adanya luka tekan yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan masa perawatan pasien menjadi panjang dan peningkatan biaya rumah sakit. Oleh karena itu perawat perlu memahami secara komprehensif tentang luka tekan agar dapat memberikan pencegahan dan intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien yang beresiko terkena luka tekan.

    Fisiologi dekubitus
    Luka tekan adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang disebabkan karena adanya kompressi jaringan yang lunak diatas tulang yang menonjol (bony prominence) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu yang lama. Kompressi jaringan akan menyebabkan gangguan pada suplai darah pada daerah yang tertekan. Apabila ini berlangsung lama, hal ini dapat menyebabkan insufisiensi aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel [19].

    Daerah daerah yang paling sering terjadi luka tekan tergantung kepada area yang sering mengalami tekanan, yaitu :

    a. Pada posisi terlentang yaitu daerah belakang kepala, sakrum dan tumit
    b. Pada posisi duduk yaitu daerah ischium, atau koksik.
    c. Posisi lateral yaitu pada daerah trochanter.

    Faktor resiko

    Braden dan Bergstrom (2000) mengembangkan sebuah skema untuk menggambarkan faktor – faktor resiko untuk terjadinya luka tekan yaitu penurunan mobilitas, aktivitas, penurunan persepsi sensori. selain itu tdp faktor ekstrinsik seperti peningkatan kelembaban, gesekan, dan tenaga yg merobek. adapula faktor intrinsik yaitu nutrisi, umur, tekanan arteriol. dan faktor hipotesa yang lain seperti stres emosional, merokok, dan temperatur kulit.

    Ada dua hal utama yang berhubungan dengan resiko terjadinya luka tekan, yaitu faktor tekanan dan toleransi jaringan. Faktor yang mempengaruhi durasi dan intensitas tekanan diatas tulang yang menonjol adalah imobilitas, inakitifitas, dan penurunan sensori persepsi. Sedangkan faktor yang mempengaruhi toleransi jaringan dibedakan menjadi dua yaitu faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor yang berasal dari pasien. sedangkan yang dimaksud dengan faktor ekstrinsik yaitu faktor – faktor dari luar yang mempunyai efek deteriorasi pada lapisan eksternal dari kulit.

    Di bawah ini adalah penjelasan dari masing masing faktor diatas :

    1. Mobilitas dan aktivitas
    Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi tubuh, sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah. Pasien yang berbaring terus menerus ditempat tidur tanpa mampu untuk merubah posisi beresiko tinggi untuk terkena luka tekan. Imobilitas adalah faktor yang paling signifikan dalam kejadian luka tekan[6][16]. Penelitian yang dilakukan Suriadi (2003) di salah satu rumah sakit di Pontianak juga menunjukan bahwa mobilitas merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan.

    2. Penurunan sensori persepsi
    Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami penurunan untuk merasakan sensari nyeri akibat tekanan diatas tulang yang menonjol. Bila ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien akan mudah terkena luka tekan [16].

    3. Kelembapan
    Kelembapan yang disebabkan karena inkontinensia dapat mengakibatkan terjadinya maserasi pada jaringan kulit. Jaringan yang mengalami maserasi akan mudah mengalami erosi[18]. Selain itu kelembapan juga mengakibatkan kulit mudah terkena pergesekan (friction) dan perobekan jaringan (shear). Inkontinensia alvi lebih signifikan dalam perkembangan luka tekan daripada inkontinensia urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses dapat merusak permukaan kulit.

    4. Tenaga yang merobek ( shear )
    Merupakan kekuatan mekanis yang meregangkan dan merobek jaringan, pembuluh darah serta struktur jaringan yang lebih dalam yang berdekatan dengan tulang yang menonjol. Contoh yang paling sering dari tenaga yang merobek ini adalah ketika pasien diposisikan dalam posisi semi fowler yang melebihi 30 derajad[18]. Pada posisi ini pasien bisa merosot kebawah, sehingga mengakibatkan tulangnya bergerak kebawah namun kulitnya masih tertinggal. Ini dapat mengakibatkan oklusi dari pembuluh darah, serta kerusakan pada jaringan bagian dalam seperti otot, namun hanya menimbulkan sedikit kerusakan pada permukaan kulit[19].

    5. Pergesekan ( friction)
    Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang berlawanan. Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan merusak permukaan epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada saat penggantian sprei pasien yang tidak berhati-hati[19].

    6. Nutrisi
    Hipoalbuminemia, kehilangan berat badan, dan malnutrisi umumnya diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk terjadinya luka tekan[8]. Menurut penelitian Guenter (2000) stadium tiga dan empat dari luka tekan pada orangtua berhubungan dengan penurunan berat badan, rendahnya kadar albumin, dan intake makanan yang tidak mencukupi.

    7. Usia

    Pasien yang sudah tua memiliki resiko yang tinggi untuk terkena luka tekan karena kulit dan jaringan akan berubah seiring dengan penuaan. Penuaan mengakibatkan kehilangan otot, penurunan kadar serum albumin, penurunan respon inflamatori, penurunan elastisitas kulit, serta penurunan kohesi antara epidermis dan dermis[18]. Perubahan ini berkombinasi dengan faktor penuaan lain akan membuat kulit menjadi berkurang toleransinya terhadap tekanan, pergesekan, dan tenaga yang merobek.

    8. Tekanan arteriolar yang rendah
    Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit terhadap tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah sudah mampu mengakibatkan jaringan menjadi iskemia. Studi yang dilakukan oleh Nancy Bergstrom ( 1992) menemukan bahwa tekanan sistolik dan tekanan diastolik yang rendah berkontribusi pada perkembangan luka tekan.

    9. Stress emosional
    Depresi dan stress emosional kronik misalnya pada pasien psikiatrik juga merupakan faktor resiko untuk perkembangan dari luka tekan[18].

    10. Merokok
    Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan memiliki efek toksik terhadap endotelium pembuluh darah. Menurut hasil penelitian Suriadi (2002) ada hubungaan yang signifikan antara merokok dengan perkembangan terhadap luka tekan.

    11. Temperatur kulit
    Menurut hasil penelitian Sugama (1992) peningkatan temperatur merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya luka tekan.

    Menurut hasil penelitian, faktor penting lainnya yang juga berpengaruh terhadap risiko terjadinya luka tekan adalah tekanan antar muka ( interface pressure). Tekanan antar muka adalah kekuatan per unit area antara tubuh dengan permukaan matras[19]. Apabila tekanan antar muka lebih besar daripada tekanan kapiler rata rata, maka pembuluh darah kapiler akan mudah kolap, daerah tersebut menjadi lebih mudah untuk terjadinya iskemia dan nekrotik. Tekanan kapiler rata rata adalah sekitar 32 mmHg. Menurut penelitian Sugama (2000) dan Suriadi (2003) tekanan antarmuka yang tinggi merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan. Tekanan antar muka diukur dengan menempatkan alat pengukur tekanan antar muka ( pressure pad evaluator) diantara area yang tertekan dengan matras.
    Stadium luka tekan

    Menurut NPUAP ( National Pressure Ulcer Advisory Panel )[9], luka tekan dibagi menjadi empat stadium (gambar 2 ), yaitu :

    1. Stadium Satu
    Adanya perubahan dari kulit yang dapat diobservasi. Apabila dibandingkan dengan kulit yang normal, maka akan tampak salah satu tanda sebagai berikut : perubahan temperatur kulit ( lebih dingin atau lebih hangat ), perubahan konsistensi jaringan ( lebih keras atau lunak ), perubahan sensasi (gatal atau nyeri). Pada orang yang berkulit putih, luka mungkin kelihatan sebagai kemerahan yang menetap. Sedangkan pada yang berkulit gelap, luka akan kelihatan sebagai warna merah yang menetap, biru atau ungu.

    2. Stadium Dua
    Hilangnya sebagian lapisan kulit yaitu epidermis atau dermis, atau keduanya. Cirinya adalah lukanya superficial, abrasi, melempuh, atau membentuk lubang yang dangkal.

    3. Stadium Tiga
    Hilangnya lapisan kulit secara lengkap, meliputi kerusakan atau nekrosis dari jaringn subkutan atau lebih dalam, tapi tidak sampai pada fascia. Luka terlihat seperti lubang yang dalam

    4. Stadium Empat
    Hilangnya lapisan kulit secara lengkap dengan kerusakan yang luas, nekrosis jaringan, kerusakan pada otot, tulang atau tendon. Adanya lubang yang dalam serta saluran sinus juga termasuk dalam stadium IV dari luka tekan.
    Menurut stadium luka tekan diatas, luka tekan berkembang dari permukaan luar kulit ke lapisan dalam ( top-down). Namun menurut hasil penelitian saat ini, luka tekan juga dapat berkembang dari jaringan bagian dalam seperti fascia dan otot walapun tanpa adanya adanya kerusakan pada permukaan kulit[21]. Ini dikenal dengan istilah injuri jaringan bagian dalam (Deep Tissue Injury). Hal ini disebabkan karena jaringan otot dan jaringan subkutan lebih sensitif terhadap iskemia daripada permukaan kulit. Kejadian DTI sering disebabkan karena immobilisasi dalam jangka waktu yang lama, misalnya karena periode operasi yang panjang. Penyebab lainnya adalah seringnya pasien mengalami tenaga yang merobek (shear).

    Jenis luka tekan ini lebih berbahaya karena berkembang dengan cepat daripada luka tekan yang dimulai dari permukaan kulit. Kebanyakan DTI juga lebih sulit disembuhkan walaupun sudah diberikan perawatan yang adekuat [3]. NPUAP dan WOCN (2005) menyimpulkan bahwa DTI masuk ke dalam kategori luka tekan, namun stadium dari DTI masih diperdebatkan karena stadium yang selama ini ada merepresentasikan luka tekan yang dimulai dari permukaan menuju kedalam jaringan (top-down), sedangkan DTI dimulai dari dalam jaringan menuju ke kulit superficial ( bottom-up)[3].

    Selama ini perawat sulit untuk mengidentifikasi adanya DTI karena kerusakan pada bagian dalam jaringan sulit untuk dilihat dari luar[15]. Yang selama ini sering digunakan sebagai tanda terjadinya DTI pada pasien yaitu adanya tanda trauma yang dalam atau tanda memar pada jaringan[3]. Pada orang yang berkulit putih, DTI sering nampak sebagai warna keunguan atau kebiruan pada kulit. Saat ini terdapat metode yang reliabel untuk mengenali adanya DTI, yaitu dengan menggunakan ultrasonografi. Bila hasil ultrasonografi menunjukan adanya daerah hypoechoic, maka ini berarti terdapat kerusakan yang parah pada jaringan bagian dalam, meskipun tidak ada kerusakan dipermukaan kulit atau hanya minimal[15]].

    Pencegahan dan intervensi awal pasien dengan luka tekan :
    1. Kaji resiko individu terhadap kejadian luka tekan
    2. Pengkajian resiko luka tekan seharusnya dilakukan pada saat pasien memasuki RS dan diulang dengan pola yang teratur atau ketika ada perubahan yang signifikan pada pasien, seperti pembedahan atau penurunan status kesehatan[5]. Beberapa instrumen pengkajian resiko dapat digunakan untuk mengetahui skor resiko. Diantara skala yang sering digunakan adalah skala Braden dan Norton[18]. Saat ini skala Braden telah diuji validitasnya di Indonesia, dan memiliki nilai validitas dan reliabilitas yang tinggi [17].

    3. Identifikasi kelompok kelompok yang beresiko tinggi terhadap kejadian luka tekan. Orangtua dengan usia lebih dari 60 tahun, bayi dan neonatal, pasien injuri tulang belakang adalah kelompok yang mempunyai resiko tinggi terhadap kejadian luka tekan[12].

    4. Kaji keadaan kulit secara teratur
    a. Pengkajian kulit setidaknya sehari sekali
    b. Kaji semua daerah diatas tulang yang menonjol setidaknya sehari sekali .
    c. Kulit yang kemerahan dan daerah diatas tulang yang menonjol seharusnya tidak dipijat karena pijatan yang keras dapat mengganggu perfusi ke jaringan[1].

    5. Kaji status mobilitas.
    Untuk pasien yang lemah, lakukanlah perubahan posisi. Ketika menggunakan posisi lateral, hindari tekanan secara langsung pada daerah trochanter. Bila ingin memposisikan pasien pada posisi lateral, maka posisikanlah pasien pada posisi lateral inklin 30 , posisi ini memungkinkan distribusi tekanan pada daerah yang lebih luas[16]. Posisi lateral inklin 30 derajad
    Untuk menghindari luka tekan didaerah tumit, gunakanlah bantal yang diletakan dibawah kaki bawah. Bantal juga dapat digunakan pada daerah berikut untuk mengurangi kejadian luka tekan :
    ● Diantara lutut kanan dan lutut kiri
    ● Diantara mata kaki
    ● Dibelakang punggung
    ● Dibawah kepala

    6. Minimalkan terjadinya tekanan.
    ● Hindari menggunakan kasa yang berbentuk donat di tumit[14]. Perawat dirumah sakit di Indonesia masih sering menggunakan donat yang dibuat dari kasa atau balon untuk mencegah luka tekan. Menurut hasil penelitian Sanada (1998) ini justru dapat mengakibatkan region yang kontak dengan kasa donat menjadi iskemia.
    ● Rendahkan kepala tempat tidur 1 jam setelah makan, bila tidak mungkin karena kondisi pasien, maka kajilah daerah sakral lebih sering
    ● Tentukanlah jenis matras yang sesuai dengan kondisi pasien[19].
    7. Kaji dan minimalkan terhadap pergesekan (friction)dan tenaga yang merobek (shear).
    Bersihkan dan keringkan kulit secepat mungkin setelah episode inkontinensia. Kulit yang lembab mengakibatkan mudahnya terjadi pergesaran dan perobekan jaringan. Pertahankan kepala tempat tidur pada posisi 30 atau dibawah 30 derajat untuk mencegah pasien merosot yang dapat mengakibatkan terjadinya perobekan jaringan[19].

    8. Kajilah inkontinensia
    Kelembapan yang disebabkan oleh inkontinensia dapat menyebabkan maserasi. Lakukanlah latihan untuk melatih kandung kemih (bladder training) pada pasien yang mengalami inkontinesia. Hal lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya luka tekan adalah :
    ● Bersihkanlah setiap kali lembab dengan pembersih dengan PH seimbang.
    ● Hindari menggosok kulit dengan keras karena dapat mengakibatkan trauma pada kulit.
    ● Pembersih perianal yang mengandung antimikroba topikal dapat digunakan untuk mengurangi jumlah mikroba didaerah kulit perianal[10]..
    ● Gunakalah air yang hangat atau sabun yang lembut untuk mencegah kekeringan pada kulit. Kulit orangtua lebih kecil toleransinya dari efek kekeringan karena sabun dan air panas[19]..
    ● Berikanlah pelembab pada pasien setelah dimandikan untuk mengembalikan kelembaban kulit.
    ● Bila pasien menggunakan diaper, pilihlah diaper yang memiliki daya serap yang baik, untuk mengurangi kelembapan kulit akibat inkontinensia.

    9. Kaji status nutrisi
    ● Pasien dengan luka tekan biasanya memiliki serum albumin dan hemoglobin yang lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka yang tidak terkena luka tekan[11]
    ● Kajilah status nutrisi yang meliputi berat badan pasien, intake makanan, nafsu makan, ada tidaknya masalah dengan pencernaan, gangguan pada gigi, riwayat pembedahan atau intervensi keperawat/medis yang mempengaruhi intake makanan[19].

    10. Kaji dan monitor luka tekan pada setiap penggantian balutan luka[19].
    meliputi :
    ● Deskripsi dari luka tekan meliputi lokasi, tipe jaringan ( granulasi, nekrotik, eschar), ukuran luka, eksudat ( jumlah, tipe, karakter, bau), serta ada tidaknya infeksi.
    ● Stadium dari luka tekan
    ● Kondisi kulit sekeliling luka
    ● Nyeri pada luka

    11. Kajilah faktor yang menunda status penyembuhan
    ● Penyembuhan luka seringkali gagal karena adanya kondisi kondisi seperti malignansi, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, pneumonia
    ● Medikasi seperti steroid, agen imunosupresif, atau obat anti kanker juga akan mengganggu penyembuhan luka[18].

    12. Evaluasi penyembuhan luka
    ● Luka tekan stadium II seharusnya menunjukan penyembuhan luka dalam waktu 1 sampai 2 minggu. Pengencilan ukuran luka setelah 2 minggu juga dapat digunakan untuk memprediksi penyembuhan luka. Bila kondisi luka memburuk atau terjadi deteriorasi pada luka, evaluasilah luka secepat mungkin[21].
    ● Parameter untuk penyembuhan luka termasuk dimensi luka, eksudat, dan jaringan luka.
    ● Pantaulah perkembangan dari penyembuhan luka dengan menggunakan instrumen/skala. Contoh instrumen yang sering digunakan untuk mengkaji penyembuhan luka adalah PSST (pressure sore status tool ), dan PUSH ( pressure ulcer scale for healing)[4].

    13. Kajilah komplikasi yang potensial terjadi karena luka tekan seperti abses, osteomielitis, bakteremia, fistula[19].

    14. Berilah pasien edukasi berupa penyebab dan faktor resiko untuk luka tekan dan cara cara untuk meminimalkan luka tekan

    Daftar Pustaka
    1. Agency for Health Care Policy and Reseach, U.S. Department of health and Human Services. Pressure ulcers in adult: prediction and prevention. 1992. Rockville

    2. Allman R.M.,Goode,P.S, Patrick,M.M.,et al. Pressure ulcer risk factors among hospitalized patients with activity limitations. Journal of the american Medical association. 1995;273:865-870

    3. Ankrom A.M., Bennet G.R., Sprigle S.,et al. Pressure-related deep tissue injury under intact skin skin and the current pressure ulcer staging systems. Advances in skin and wound care.2005;18:35-42

    4. Bates -Jensen . Indices to include in wound healing assessment. Advances in Wound Care. 1995;8:25-3

    5. Berlowitz D.R., Brandeis. G.H., Anderson J., Du W, et al. Effect of pressure ulcers on the survival of long -term care residents. The Journal Of Gerontology. 1997, 52A

    6. Braden BJ, Bergstrom N . A conceptual schema for the study of the etiology of pressure sores. Rehab Nursing, 2000, 25, 105-110

    7. Defloor T., The Risk of Pressure Sores: Aconceptual scheme. Journal of Clinical Nursing, 1999;8:206-216,.

    8. Guenter P., Malyszck R.,Bliss D.Z.,et al. Survey of nutritional status in newly hospitalized patiens with stage III or stage IV pressure ulcers. Advances in Wound Care.2000;13:164-168

    9. National Pressure Ulcer Advisory Panel. Push Tools. Available at : http://www.npuap.org. Accesed Desember 2006

    10. Newman. D.K., Wallace.D.W., et.al Moisture control and incontinence management. In D.L Krasner.G.T. Rodeheaver,and R.G Sibbald, Chronic wound care : A clinical source book for healthcare professionals (3rd ed).2001. Wayne,PA:HMP communication

    11. Pieper B., Sugrue M., Weiland M., et al. Risk factor, prevention methods, and wound care for patients with pressure ulcers. Clinical Nurse Speacialist.1998;12:7

    12. Quigley. S.M., Curley. M.A.Q. Skin Integrity in The Pediatric Population: preventing and managing pressure ulcers. Journal Of The Society Of Pediatric Nurses. 1996;1(1):7

    13. Republika. Dekubitus. Available at: http://www.republika.co.id. Acessed Desember 2006.

    14. Sanada, H. Pressure ulcers management. http://square.umin.ac.jp/sanada/english/show-e.html. Accessed Desember 2006

    15. Sato M., Sanada H., Konya C., et al. Prognosis stage I and related factors. International Wound Journal. 2006;3:335-362

    16. Sugama., J., Sanada, H., Kanagawa, K., et al . Risk factors of pressure sore development, intensive care unit, Pressure – relieving care, the Japanese version of the Braden Scale. Kanazawa Junior Collage, 1992, 16, 55-59

    17. Suriadi, Sanada H, Kitagawa A, et.al. Study of reliability and validity of the braden scale translated into indonesia. 2003. Master thesis. Kanazawa University, Japan

    18. Sussman, C. & Bates-Jensen, B.M.. Wound Care: a collaborative practice manual for physical therapist and nurses. Second Edition. Gaithersburg: AN Aspen publication, 2001,235 – 260

    19. Wound Ostomy and Continence Nurses Society : Guideline for prevention and management of pressure ulcers, 2003, 1-15

    20. Wound, Ostomy, and Continence Nurses Society. WOCN society response to NPUAP white papers: Deep tissue injury, stage 1 pressure ulcer, and stage II pressure ulcers. Glenview ill: Wound, Ostomy, and Continence Nurses Society;2005

    21. Van Rijswijk L., Braden B. Pressure ulcer patient and wound assessment: An AHCPR clinical parctice guideline update. ostomy/Wound Management.1999;45(suppl.1A):56S-67S

  15. to dadang, dani, toni and sudir. kalian mesti kuliah lagi deh, karena pemikiran kalian itu masih pemikiran perawat yg kolotan seperti pada jaman kuno, sekarang jamannya udah modern mas. perawat dulu beda dengan sekarang. kalau mau tahu ia kuliah lagi dong agar yang selama ini samar-sama bisa terlihat jelas. coba lihat statemen kolot mas tatang “Ada 3 hal yg perlu anda pikirkan sbg ‘ners’ ?
    1. Apakah anda bisa menggantikan peran dokter ?
    2. Mampukah anda sebagai perawat ners bertindak mandiri dalam merawat pasien tanpa campur tangan dari dokter baik di klinik maupun rumah sakit ?
    3. Bila diagnosa medis belum ada, apakah anda berani membuat asuhan keperawatan di rumah sakit ?
    Kalau jawabannya ‘TIDAK’ berarti ‘perawat’ itu masih sebagai pembantunya dokter, setuju ga’ ?”

    Bodoh sekali statement itu, nggak perlu dijelasin deh, percuma and rugi. yang jelas dokter ama perawat itu bukan musuh tapi mitra . jadi jelas beda donggg?
    kuliah aja lagi deh mas…
    eh ini statemen yg perlu dilurusin dari mas sudir
    “setuju kang tatang, fakta dilapangan ternyata 90% asuhan keperawatan berisi KOLABORASI artinya ‘konsul dulu sama pak dokternya’ dan hampir 50% perawat yg ners gengsi mengakui bahwa dokter itu ‘hebat’ di klinik dan RSkerja untuk kesembuhan klien”
    mas sudir, arti kolaborasi yang mas maksud itu tidak seperti yang dipahami oleh perawat saat ini. jadi ralat mas, karena menyesatkan perawat yang lain. and nggak ada tuh ners yang gengsi mengakui dokter itu hebat. (atau udah penelitian ya?) nggak ada mas..dokter and ners adalah dua profesi yang beda, and kerjanya udah jelas masing-masing. mengapa mesti gengsi or jeles atau mas sudir yang jeles ama perawat ners ya? kasian mas sudir, fikiran akan selalu diliputi oleh fikiran-fikiran jahat. makanya jangan apriori ama perawat dong, sebab pasti komentarmu nggak ada yang baik.. Sorri mas, bukan maksud apa-apa…

  16. Posted by duri on Juli 13, 2008 at 2:15 pm

    Penjelasan saimah sangat tidak konsisten,coba simak pernyataan saudara “aku sependapat dengan mas iwan bahwa dekubitus yang terjadi pada klien yang dirawat lama di rumah sakit TIDAK TERLEPAS dari peran seorang perawat. dalam hal ini perawat selalu mendampingi klien dan mengevaluasi kemajuan klien. bila klien tirah baring yang lama sangat berpotensi terjadinya luka pada pressure point terutama siku, kepala bagian belakan, bokong, tumit, dan punggung belakang. kenapa? perawat tahu bahwa bila area tersebut tertekan dalam waktu yang lama pasti menyebabkan gangguan sirkulasi yang pada gilirannya akan terjadi nekrosis jaringan kulit maka terjadilah luka”.
    Anda terlalu mengait-kaitkan antara terjadinya luka dekubitus itu TIDAK LEPAS dengan peran perawat padahal anda setuju bahwa luka dekubitus disebabkan berdasarkan;
    1. Braden dan Bergstrom (2000) mengembangkan sebuah skema untuk menggambarkan faktor – faktor resiko untuk terjadinya luka tekan yaitu penurunan mobilitas, aktivitas, penurunan persepsi sensori. selain itu tdp faktor ekstrinsik seperti peningkatan kelembaban, gesekan, dan tenaga yg merobek. adapula faktor intrinsik yaitu nutrisi, umur, tekanan arteriol. dan faktor hipotesa yang lain seperti stres emosional, merokok, dan temperatur kulit.
    TIDAK ADA DISEBUTKAN PERAN PERAWAT DISINI
    2. “Menurut hasil penelitian Sugama (1992) peningkatan temperatur merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya luka tekan.”
    JUGA TIDAK ADA DISEBUTKAN PERAN PERAWAT DISINI
    3. ” Menurut penelitian Sugama (2000) dan Suriadi (2003) tekanan antarmuka yang tinggi merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan”
    JUGA TIDAK ADA DISEBUTKAN PERAN PERAWAT DISINI
    4. ” Menurut NPUAP ( National Pressure Ulcer Advisory Panel )[9], luka tekan dibagi menjadi empat stadium”
    JUGA TIDAK ADA DISEBUTKAN PERAN PERAWAT DISINI
    5. ” NPUAP dan WOCN (2005) menyimpulkan bahwa DTI masuk ke dalam kategori luka tekan”
    JUGA TIDAK ADA DISEBUTKAN PERAN PERAWAT DISINI

    dan tampaknya IQ anda tidak mampu menyimpulkannya sehingga anda sendiri mengatakan bahwa kesimpulannya adalah ” bahwa dekubitus yang terjadi pada klien yang dirawat lama di rumah sakit TIDAK TERLEPAS dari peran seorang perawat”

    Jelas bahwa tidak ada satupun yang melakukan penelitian bahwa ada korelasi positif antara kejadian luka dekubitus dengan peran seorang perawat.
    Saran saya sama saiman,iwansain dan prasetyo bahwa kalian itu cumanya bisa ber TEORI dan tidak punya SKILL KLINIK dan bukti kebeneran ilmiahnya NOL BESAR. KALIAN INI NGERTI GA SAMA EVIDENCE BASED NURSING ?

  17. Posted by Mr. John on Juli 13, 2008 at 3:58 pm

    For saimah, S.Kep, Ns; You must know that
    Clinical Evidence aims to summarise the current state of knowledge and uncertainty about interventions used for prevention and treatment of clinical conditions. In order to achieve this aim, you must systematically search ulcer decubital and appraise the literature, and seek to provide rigorous summaries of evidence on the benefits and harms of clinical interventions. Your aim is to support clinical decision making,but do not correlate about role of nurse care

  18. Posted by Mr. John on Juli 13, 2008 at 4:02 pm

    How Much Do You Know?
    So what can Clinical Evidence tell you about the state of your current knowledge? In Clinical Evidence you try to summarise the evidence like ulcer decubital in order to support and effectiveness category:
    Beneficial
    Likely to be beneficial
    Trade off between benefits and harms
    Unlikely to be beneficial
    Likely to be ineffective or harmful
    Unknown effectiveness
    And the last,please answer this question ?
    What is the degree correlation about ulcer decubital with the role of nurse care in clinical evidence ?

  19. Posted by dadang on Juli 13, 2008 at 5:04 pm

    Tuan prasetyo, anda itu kerja di rumah sakit atau di dinas atau dosen ? Anda tahu tidak bahwa standar asuhan keperawatan di rumah sakit dibuat berdasarkan ICD dan ada SOP-nya. Dampaknya adalah bahwa perawat harus kolaborasi dulu tentang ICD-nya dan kemudian dibuatlah standar AsKep-nya. Sedangkan ICD itu adalah wewenangnya dan wilayah kerjanya sang ‘dokter’. Lantas dimana letak mitra kerja seperti tuan katakan diatas ? Fakta di rumah sakit baik negeri maupun swasta bahwa standar askep harus disusun berdasarkan ICD yang dibuat oleh dokter, lalu inikah yang tuan maksud bahwa kerja perawat itu mandiri ? Jelas dampaknya bahwa kerja perawat itu dimulai dari order-nya dokter dan perawat tidak bisa bekerja tanpa SOP yg disusun berdasarkan ICD yg ditentukan oleh dokter. Lalu dimanakah substansi kerja perawat yg katanya pekerjaannya itu berbeda dg kerjanya dokter ? saya kasihan dan sedih dg komentar tuan prasetyo.mkes, segitukah wawasan s2 anda ? SANGAT SEMPIT SEKALI, saran saya pada anda agar banyak2 ikut seminar biar ilmu S2-nya slalu updating ya….

  20. Posted by danu on Juli 14, 2008 at 2:45 am

    ditujukan pada saimah, S.Kep, Ns
    Saya menilai jawaban ibu saiman kurang nyambung dengan yg ditanyakan oleh duri padahal anda adalah seorang sarjana. Langsung saja anda jawab pertanyaan yg diajukan oleh Mr. John diatas dan dibawah ini :
    1. Apakah jumlah pasien ulkus dekubitus mempunyai spektrum yang layak dari suatu perjalanan penyakit pasien yg dapat dihubungkan dengan peranan perawat secara klinis dapat diterima ?
    2. Apakah terdapat sampel yang representative yang benar-benar mewakili adanya ulkus dekubitus pada suatu titik waktu dalam perjalanan penyakit pasien yang diidentifikasi berkorelasi kuat dengan peran perawat ?
    Jawaban anda jangan jauh melenceng ya ibu saimah, S.Kep, Ns, jawab pertanyaaan saya dengan jelas dan tegas serta daftar kepustakaannya 3 tahun terakhir.

  21. How Much Do You Know : saimah, S.Kep, Ns?
    So what can Clinical Evidence tell you about the state of your current knowledge? In Clinical Evidence you try to summarise the evidence like ulcer decubital in order to support and effectiveness category:
    Beneficial
    Likely to be beneficial
    Trade off between benefits and harms
    Unlikely to be beneficial
    Likely to be ineffective or harmful
    Unknown effectiveness
    And the last, saimah, S.Kep, Ns: please answer this question ?
    What is the degree correlation about ulcer decubital with the role of nurse care in clinical evidence ?

  22. Posted by yulius on Juli 16, 2008 at 2:27 am

    To saimah, S.Kep, Ns:
    Tampak bahwa anda sangat tidak memahami Evidence-Based Nursing, Biostatistik dan Epidemiologi Klinik sehingga tidak mengerti apa itu derajat korelasi. Jika anda hanya mengandalkan teori dan pengalaman klinik saja maka seperti itulah kesimpulan dan jawaban anda,sangat menyimpang dg substansi yg ditanyakan. Masalahnya adalah parameter apa yg saudara simpulkan bahwa luka dekubitus timbulnya tidak lepas dari peranan perawat ? Tampaknya Anda harus meng-upgrade ilmu anda, jangan membeo kalau anda tidak tahu jawabannya. Saran saya pada saimah, S.Kep, Ns agar sekolah lagi bila perlu ambil S3 keperawatan agar mengerti jawabannya.

  23. Posted by yulius on Juli 16, 2008 at 2:28 am

    buat saimah, S.Kep, Ns:
    Tampak bahwa anda sangat tidak memahami Evidence-Based Nursing, Biostatistik dan Epidemiologi Klinik sehingga tidak mengerti apa itu derajat korelasi. Jika anda hanya mengandalkan teori dan pengalaman klinik saja maka seperti itulah kesimpulan dan jawaban anda,sangat menyimpang dg substansi yg ditanyakan. Masalahnya adalah parameter apa yg saudara simpulkan bahwa luka dekubitus timbulnya tidak lepas dari peranan perawat ? Tampaknya Anda harus meng-upgrade ilmu anda, jangan membeo kalau anda tidak tahu jawabannya. Saran saya pada saimah, S.Kep, Ns agar sekolah lagi bila perlu ambil S3 keperawatan agar mengerti jawabannya.

  24. Posted by syarkowi on Juli 16, 2008 at 9:24 am

    Ternyata saimah,S.Kep.Ns ini sama sekali tidak mengerti sesungguhnya dengan ulkus dekubitus dan apa itu peranan perawat, ini dua hal yg berbeda substansi. Bodoh juga saimah ini ya rupanya dan cuma bisa copas dari artikel orang lain, mana penelitianmu tentang ulkus dekubitus yg dikaitkan dengan peran perawat ? Anda itu tidak hanya bego dan jago membual tapi juga sok pintar ? apalagi anda itu seorang sarjana keperawatan dan ber-profesi ners pula namun tidak faham sama sekali dengan penyakit ulkus dekubitus dan malah dihubungkan dengan peranan perawat segala. MEMALUKAN ! Yang anda jawab diatas itu adalah artikel tentang perawatan ulkus dekubitus dan bukan suatu penelitian tentang korelasi ulkus dekubitus dengan peran perawat… !!! Sekali lagi anda itu bodoh, coba donk cari tentang artikel penelitiannya lalu jawab saja pertanyaan duri, Mr. John dan yulius diatas, tidak usah banyak cerita dan ANDA harus mengakui donk bila TIDAK ADA BUKTI ILMIAH bahwasannya ULKUS DEKUBITUS itu memang tidak berhubungan dengan PERAN PERAWAT. Titik.

  25. Yth Saimah SKep.Ns:
    Coba kita telaah pernyataan anda diatas :
    “Selama ini perawat sulit untuk mengidentifikasi adanya DTI karena kerusakan pada bagian dalam jaringan sulit untuk dilihat dari luar”
    1. Apakah perawat cukup kompetensi mengidentifikasi adanya DTI ? Mengingat selama pendidikan keperawatan tidak dibekali mata kuliah Radiologi dan Patologi Klinik
    2. Bagaimana mungkin perawat bisa mengidentifikasi adanya DTI jika tidak bisa melakukan USG ?
    Angan-angan anda terlalu jauh Saimah,SKep.Ns untuk mengidentifikasi adanya DTI dan akui saja ada titik lemah dalam ilmu keperawatan dalam meninjau dan mengkaji suatu penyakit secara mendalam dan tidak usah malu serta terlalu gengsi mengatakan bahwa adanya keterbatasan dalam ilmu keperawatan itu sehingga tampak sekali bahwa perawat yg demikian kian bodoh dalam berkomentar.

  26. ditujukan pada prasetyo, M.Kes:
    Saya prihatin dg relply your comment, karena anda bukan ners jadi anda tidak tahu apa-apa pekerjaan ners di rumah sakit baik negeri ataupun swasta. Coba deh anda langsung survei ke rumah sakit, lihat tuh kerjanya ‘ners’ , ada yg duduk santai,ada yg lg buat jadual jaga,ada yg nyusun laporan,ada yg buat angka kredit naik pangkat,ada yg nonton tv, ada yg baca koran,lalu apanya yg diharapkan dari para ‘ners’ itu ? Tidak ada dari ‘ners’ itu punya ketrampilan klinik dg satu skill tertentu,mereka semua hanya pandai bersilat lidah. Apakah itu yg anda maksud suatu profesi yg kerjanya sangat jelas ? Apakah prestasi kerja daripada ‘ners’ itu ? Apa sumbangan pemikiran daripada ‘ners’ itu ? Apa ada hasil karya para ‘ners’ itu seperti penelitian ? Jawabannya TIDAK ADA. Contohnya ‘Saimah,SKep.Ns’ ; ibu ners ini tidak bisa membuktikan adanya korelasi ilmiah antara luka dekubitus dg peran perawat,jadi apa saja kerjamu di sana ? Mana ilmu keperawatan-mu itu ? Saran saya buat Saimah,SKep.Ns dan prasetyo, M.Kes agar :
    1. Sering ikut seminar-seminar,simposium
    2. Sering ikut workshop atau kursus ilmiah
    3. Kuliah S3 agar lebih cerdas dan ilmiah pola pikirnya
    JANGAN TUNJUKKAN BAHWA KALIAN ADALAH PERAWAT DIBAWAH TEMPURUNG, TIDAK TAHU APA-APA BAHWA MASIH BANYAK YG HARUS KALIAN PELAJARI

  27. aaaaaaa
    bbbbbbb
    cccccccc
    ddddddd

  28. Berdasarkan sumber dari jurnal yg di-browsing dari internet :

    1. Int. J. Qual. Health Care, Oct 2000; 12: 439 – 442 (Librero et al)
    2. Arch Dermatol, Oct 2007; 143: 1297 – 1304 (Chaby et al)
    3. West J Nurs Res, Oct 2006; 28: 654 – 677 (Lake and Cheung)
    4. Am. J. Crit. Care., Jul 2008; 17: 338 – 346 (Tweed and Tweed)
    5. J. Gerontol. A Biol. Sci. Med. Sci., Jul 2006; 61: 749 – 754 (Baumgarten et al)
    6. Int. J. Qual. Health Care, Oct 2001; 13: 399 – 407 (Gunningberg et al)
    7. Int. J. Qual. Health Care, Apr 2006; 18: 107 – 112 (De Laat et al)

    Tidak ada satupun peneliti dunia berkelas internasional yg menyimpulkan adanya korelasi kuat ulkus dekubitus dg peran perawat.

    TO SUDIR
    LUKA TEKAN ETIOLOGINYA BUKAN PERAWAT, TIDAK ADA YG TERSURAT DALAM ARTIKEL MENGATAKAN SEPERTI ITU, TAPI KALAU DITELAAH TERNYATA PUNYA KORELASI BUNG! LUKA TEKAN SANGAT BERHUBUNGAN DENGAN MOBILITAS. KALAU TERJADI GG. MOBILITAS SANGAT BERPOTENSI TIMBULNYA LUKA TEKAN, NAH PADA AREA INILAH PERAN DAN FUNGSI PERAWAT..

  29. Posted by Sudir on Juli 22, 2008 at 5:35 pm

    to Saimah,SKep.Ns : Anda tidak perlu malu dan berjiwa kerdil bila tidak bisa membuktikan bahwa tidak adanya korelasi positif luka dekubitus dengan peran perawat. Saran buat anda,perlu banyak membaca jurnal terbaru dan upgrade dg ikut workshop biostatistik
    To prasetyo, M.Kes agar pemahaman anda tidak subjektif sangat diperlukan peran anda untuk membeberkan rendahnya mutu dari fakta perawat ners di rumah sakit adalah tidak benar dg data yg objektif dan tentu harus dilakukan penelitian dan sejauh mana komentar anda dg kenyataan yg sebenarnya di lapangan adalah benar ? kalau anda tidak bisa membuktikan sebaiknya anda yg kuliah lagi
    to iwansain; anda jangan terlalu membanggakan sarjana keperawatan kalau artikel anda sangat tidak ilmiah,tidak didukung dengan jurnal 3 tahun terakhir dan bukan dari buku ajar edisi baru,sebaiknya tinjau lagi orientasi artikel anda dan anda tidak perlu memaksakan diri bahwa dg SKp seolah2 artikel dan pendapat anda sudah benar dan malu mengakui keterbatasan ilmu keperawatan yg anda milikki. Sebaiknya anda upgrade lagi kemampuan membaca critical appraisal dan berani mengatakan sesuatu itu tidak ada bukti ilmiah termasuk tidak relevannya luka dekubitus dg peran perawat,kalau tidak mau dikatakan bahwa anda dan sarjana keperawatan yg lainnya tolol dan bodoh semua. Dan kasihan dg produk mahasiswa/i yg anda didik jika dosennya saja tidak berjiwa ilmiah dan sportif

    TO SUDIR
    KALAU ARTIKELNYA TIDAK ILMIAH, YA TIDAK USAH DIBACA DONG…AKU TIDAK RUGI KOK! YANG PENTING NIATKU TULUS UNTUK KEMAJUAN PROFESIKU…

  30. Posted by dani on Juli 22, 2008 at 6:43 pm

    Saimah,SKep.Ns, prasetyo, M.Kes dan iwansain,skp; Kalian terkena gejala waham grandiosa keperawatan dan paranoid terhadap gelar keperawatan dg kenyataan ilmiah yg tidak sesuai,sebaiknya kalian pergi ke psikiater dan bisa jadi kalian terkena gangguan psikosis atau bahkan manik-depresif akan keperawatan dg sindroma bipolar dan khusus prasetyo, M.Kes; anda mengalami krisis kepribadian dg obsesi-kompulsif yg terpecah belah. Berobat dulu deh mas pras…..

  31. TO DANI
    KOMENTAR ANDA TIDAK MENDIDIK DAN CENDERUNG EMOSIONAL, KELIHATANNYA ANDALAH YANG PARANOID…

  32. to sudir & Dani
    KALAU ANDA MENGATAKAN TIDAK ADA KORELASI ANTARA LUKA DEKUBITUS DENGAN PERAN PERAWAT SEBAGAI CARE PROVIDER, MAKA COBA ANALISA MENGAPA PERAWAT MESTI MERENCANAKAN TINDAKAN KEPERAWATAN SEPERTI DIBAWAH INI?
    UNTUK APA? HANYA SATU JAWABAN SAYA UNTUK MENCEGAH TIMBULNYA DEKUBITUS!
    Pencegahan dan intervensi awal pasien dengan luka tekan :
    1. Kaji resiko individu terhadap kejadian luka tekan
    2. Pengkajian resiko luka tekan seharusnya dilakukan pada saat pasien memasuki RS dan diulang dengan pola yang teratur atau ketika ada perubahan yang signifikan pada pasien, seperti pembedahan atau penurunan status kesehatan[5]. Beberapa instrumen pengkajian resiko dapat digunakan untuk mengetahui skor resiko. Diantara skala yang sering digunakan adalah skala Braden dan Norton[18]. Saat ini skala Braden telah diuji validitasnya di Indonesia, dan memiliki nilai validitas dan reliabilitas yang tinggi [17].

    3. Identifikasi kelompok kelompok yang beresiko tinggi terhadap kejadian luka tekan. Orangtua dengan usia lebih dari 60 tahun, bayi dan neonatal, pasien injuri tulang belakang adalah kelompok yang mempunyai resiko tinggi terhadap kejadian luka tekan[12].

    4. Kaji keadaan kulit secara teratur
    a. Pengkajian kulit setidaknya sehari sekali
    b. Kaji semua daerah diatas tulang yang menonjol setidaknya sehari sekali .
    c. Kulit yang kemerahan dan daerah diatas tulang yang menonjol seharusnya tidak dipijat karena pijatan yang keras dapat mengganggu perfusi ke jaringan[1].

    5. Kaji status mobilitas.
    Untuk pasien yang lemah, lakukanlah perubahan posisi. Ketika menggunakan posisi lateral, hindari tekanan secara langsung pada daerah trochanter. Bila ingin memposisikan pasien pada posisi lateral, maka posisikanlah pasien pada posisi lateral inklin 30 , posisi ini memungkinkan distribusi tekanan pada daerah yang lebih luas[16]. Posisi lateral inklin 30 derajad
    Untuk menghindari luka tekan didaerah tumit, gunakanlah bantal yang diletakan dibawah kaki bawah. Bantal juga dapat digunakan pada daerah berikut untuk mengurangi kejadian luka tekan :
    ● Diantara lutut kanan dan lutut kiri
    ● Diantara mata kaki
    ● Dibelakang punggung
    ● Dibawah kepala

    6. Minimalkan terjadinya tekanan.
    ● Hindari menggunakan kasa yang berbentuk donat di tumit[14]. Perawat dirumah sakit di Indonesia masih sering menggunakan donat yang dibuat dari kasa atau balon untuk mencegah luka tekan. Menurut hasil penelitian Sanada (199 8) ini justru dapat mengakibatkan region yang kontak dengan kasa donat menjadi iskemia.
    ● Rendahkan kepala tempat tidur 1 jam setelah makan, bila tidak mungkin karena kondisi pasien, maka kajilah daerah sakral lebih sering
    ● Tentukanlah jenis matras yang sesuai dengan kondisi pasien[19].
    7. Kaji dan minimalkan terhadap pergesekan (friction)dan tenaga yang merobek (shear).
    Bersihkan dan keringkan kulit secepat mungkin setelah episode inkontinensia. Kulit yang lembab mengakibatkan mudahnya terjadi pergesaran dan perobekan jaringan. Pertahankan kepala tempat tidur pada posisi 30 atau dibawah 30 derajat untuk mencegah pasien merosot yang dapat mengakibatkan terjadinya perobekan jaringan[19].

    8. Kajilah inkontinensia
    Kelembapan yang disebabkan oleh inkontinensia dapat menyebabkan maserasi. Lakukanlah latihan untuk melatih kandung kemih (bladder training) pada pasien yang mengalami inkontinesia. Hal lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya luka tekan adalah :
    ● Bersihkanlah setiap kali lembab dengan pembersih dengan PH seimbang.
    ● Hindari menggosok kulit dengan keras karena dapat mengakibatkan trauma pada kulit.
    ● Pembersih perianal yang mengandung antimikroba topikal dapat digunakan untuk mengurangi jumlah mikroba didaerah kulit perianal[10]..
    ● Gunakalah air yang hangat atau sabun yang lembut untuk mencegah kekeringan pada kulit. Kulit orangtua lebih kecil toleransinya dari efek kekeringan karena sabun dan air panas[19]..
    ● Berikanlah pelembab pada pasien setelah dimandikan untuk mengembalikan kelembaban kulit.
    ● Bila pasien menggunakan diaper, pilihlah diaper yang memiliki daya serap yang baik, untuk mengurangi kelembapan kulit akibat inkontinensia.

    9. Kaji status nutrisi
    ● Pasien dengan luka tekan biasanya memiliki serum albumin dan hemoglobin yang lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka yang tidak terkena luka tekan[11]
    ● Kajilah status nutrisi yang meliputi berat badan pasien, intake makanan, nafsu makan, ada tidaknya masalah dengan pencernaan, gangguan pada gigi, riwayat pembedahan atau intervensi keperawat/medis yang mempengaruhi intake makanan[19].

    10. Kaji dan monitor luka tekan pada setiap penggantian balutan luka[19].
    meliputi :
    ● Deskripsi dari luka tekan meliputi lokasi, tipe jaringan ( granulasi, nekrotik, eschar), ukuran luka, eksudat ( jumlah, tipe, karakter, bau), serta ada tidaknya infeksi.
    ● Stadium dari luka tekan
    ● Kondisi kulit sekeliling luka
    ● Nyeri pada luka

    11. Kajilah faktor yang menunda status penyembuhan
    ● Penyembuhan luka seringkali gagal karena adanya kondisi kondisi seperti malignansi, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, pneumonia
    ● Medikasi seperti steroid, agen imunosupresif, atau obat anti kanker juga akan mengganggu penyembuhan luka[18].

    12. Evaluasi penyembuhan luka
    ● Luka tekan stadium II seharusnya menunjukan penyembuhan luka dalam waktu 1 sampai 2 minggu. Pengencilan ukuran luka setelah 2 minggu juga dapat digunakan untuk memprediksi penyembuhan luka. Bila kondisi luka memburuk atau terjadi deteriorasi pada luka, evaluasilah luka secepat mungkin[21].
    ● Parameter untuk penyembuhan luka termasuk dimensi luka, eksudat, dan jaringan luka.
    ● Pantaulah perkembangan dari penyembuhan luka dengan menggunakan instrumen/skala. Contoh instrumen yang sering digunakan untuk mengkaji penyembuhan luka adalah PSST (pressure sore status tool ), dan PUSH ( pressure ulcer scale for healing)[4].

    13. Kajilah komplikasi yang potensial terjadi karena luka tekan seperti abses, osteomielitis, bakteremia, fistula[19].

    14. Berilah pasien edukasi berupa penyebab dan faktor resiko untuk luka tekan dan cara cara untuk meminimalkan luka tekan

    APAKAH TINDAKAN YANG DILAKUKAN PERAWAT SEPERTI YANG TERSEBUT DIATAS MASIH KURANG UNTUK MEMBUKTIKAN BGM PERANNYA?

    OK LAH, KITA NGGAK PERLU MEMPERSOALKAN DAN SALING MENJATUHKAN, MARI KITA KERJAKAN YANG KITA YAKINI BENAR. DAN YANG TERPENTING MARI SALING MANGHARGAI…

  33. Posted by sudir on Juli 27, 2008 at 4:40 am

    anda tuan iwansain tidak hanya bodoh dan tolol namun juga PENGECUT, anda malu mengakui kekurangan ilmu dg sembunyi dibalik spam-akismet,sungguh anda adalah perawat yg tidak punya ilmu dan NYALI. Kalau anda berani,tampilkan bukti ilmiah dari para komentar dan tunjukkan saja kemampuan anda dg menunjukkan bukti ilmiah dan bukan dari bualan anda. Kalau anda berpendapat itu harus ada bukti ilmiah dan ditunjang dg sumber yg akurat dan jangan asbun serta nge-CAP saja berkomentar tanpa ada dasar ilmiah sama sekali. Kalau memang anda yakin ada korelasi, harus ada sumbernya dong,bukan asal bunyi saja

    to sudir, lena, dani, smith
    kamu ini sebenarnya penggemar berat bolg ini karena selalu berkunjung dengan nama yang berbeda sehingga seolah-olah banyak komentar yang kontra dengan perawat padahal komentar itu lahir dari aktor yang sama. jangan sembunyikan identitas dengan melontarkan pernyataan yang kontradiktif (siapa yang pengecut lu atau gue). komentar-komentarmu tidak mencerminkan seorang yang bijak dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. aku berhak menspam komentar-komnetarmu bung! bagaimana kalau aku kembalikan kata-kata kotormu seperti ini “kamu bodoh, tolol 1000 kali)
    nah kalau kamu merasa pintar jawab pertanyaanku yang sangat sederhana ini..”perawat merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan resiko dekubitus yaitu rubah posisi setiap 2 jam? boleh kamu jelaskan rasionalisasi tindakan tersebut bung?. jawab sesuai yang saya tanyakan ya!

  34. Posted by sudir on Juli 27, 2008 at 3:44 pm

    Berdasarkan FAKTA bahwa :
    1. Patients with hip fractures requiring immobilization and traction were reported
    with an incidence rate of decubitus ulcer about 20% without role of nurse care
    Patients with hip fractures requiring immobilization and traction were reported
    with an incidence rate of decubitus ulcer about 17% with role of nurse care
    Jadi peran perawat dalam menekan insiden luka dekubitus cuma 3% dan tidak
    didapatkan adanya korelasi positif bahwa perawat dapat menekan laju
    kejadian luka dekubitus pada pasien dengan hip fractures

    2. Critical care patients were observed with an incidence rate of decubitus ulcer
    about 8% to 40% without role of nurse care
    Critical care patients were observed with an incidence rate of decubitus ulcer
    about 5% to 35% with role of nurse care
    Jadi peran perawat dalam menekan insiden luka dekubitus cuma 3%-5% dan
    tidak didapatkan adanya korelasi positif bahwa perawat dapat menekan laju
    kejadian luka dekubitus pada pasien kritis yg dirawat di ICU

    Sumber bacaan :

    1. Mulhall A. Epidemiology nursing and healthcare. A new perspective. Basingstoke: Macmillan;
    1996.
    2. Fletcher R, Fletcher S. Clinical epidemiology. The essentials, 4th edn. Baltimore: Williams &
    Wilkins; 2005.
    3. EPUAP. Pressure ulcer treatment guidelines. http://www.epuap.org.
    4. Clark M, Bours G, Defloor T. Summary report on the prevalence of pressure ulcers.EPUAP Review
    2002; 4:49–56.
    5. Ash D. An exploration of the occurrence of pressure ulcers in a British spinal injuries unit. J Clin
    Nurs 2002; 11:470–478.
    6. Eriksson E, Hietanen H, Asko-Seljavaara S. Prevalence and characteristics of pressure ulcers. A
    one-day patient population in a Finnish city. Clin Nurse Spec 2000; 14:119–125.
    7. Curley M, Razmus I, Roberts K,Wypij D. Predicting pressure ulcer risk in pediatric patients: the
    Braden Q Scale. Nurs Res 2003; 52:22–33.
    8. Schue R, Langemo D. Prevalence, incidence, and prediction of pressure ulcers on a rehabilitation
    unit. J Wound Ostomy Continence Nurs 1999; 26:121–129.
    9. Levett D, Smith S. Survey of pressure ulcer prevalence in nursing homes.Elder Care 2000; 12:12–16.
    10. Williams D, Stotts N, Nelson K. Patients with existing pressure ulcers admitted to acute care. J
    Wound Ostomy Continence Nurs 2000; 27:216–226.
    11. Halfens R, Bours G, Ast W van. Relevance of the diagnosis “Stage 1 pressure ulcer”: an empirical
    study of the clinical course of stage 1 ulcers in acute care and long-term hospital populations. J
    Clin Nurs 2001; 10:748–757.
    12. O’Brien S,Wind S, Rijswijk L van, Kerstein M. Sequential biannual prevalence studies of pressure
    ulcers at Allegheny-Hahnemann University Hospital. Ostomy Wound Manage 1998; 44:78–89.
    13. Bours G,Halfens R,Wansink S. Landelijk prevalentie onderzoek Decubitus, Resultaten zesde jaarlijkse
    meting 2003. Universiteit Maastricht, 2003.
    14. Defloor T, Bours G, Schoonhoven L,Clark M. Draft EPUAP statement on prevalence and incidence
    monitoring. EPUAP Review 2002; 4:13–15.
    15. Thoroddsen A. Pressure sore prevalence: a national survey. J Clin Nurs 1999; 8:170–179.
    16. Pearson A, Francis K, Hodgkinson B, Curry G. Prevalence and treatment of pressure ulcers in
    northern New South Wales. Aust J Rural Health 2000; 8:103–110.
    17. Tannen A, Dassen T, Bours G, Halfens R. A comparison of pressure ulcer prevalence: concerted
    data collection in The Netherlands and Germany. Int J Nurs Stud 2004; 41(6):607–612.
    18. Dassen T, et al. Pflegeabhängigkeit, Sturzereignisse, Inkontinenz, Dekubitus, Erhebung 2003.
    Humboldt-Universität zu Berlin, 2003.
    19. Bours G, Halfens J, Berger P. Development of a model for case-mix adjustment of pressure ulcer
    prevalence rates.Med Care 2003; 41:45–55.
    20. Polit D, Beck Ch. Nursing research, principles and methods. Philadelphia: Lippincott; 2004.
    21. Lahmann N, Halfens R, Dassen T. Prevalence of ulcers in Germany, submitted for publication.
    22. Tukey J. Cited in: Silverman W,Where’s the evidence, Debates in modern medicine. (Chapter 2:
    Does a difference make a difference.) Oxford: Oxford Medical Publications, 1998.
    23. Heinrichs P, Dassen T. Zahlen zur Prävalenz des Dekubitusgeschwürs in der Intensivpflege. Crit
    Care 2004; 115–119.
    24. Troike W, Schneider V. Zur Prävalenz von Decubitalulcera, Ergebnisse einer Stichprobe bei der
    zweiten Leichenschau in drei Berliner Krematorien. Berl Ärzte 2000; 12:28–30.

    to sudir
    wah namamu banyak juga ya!
    terkadang kamu salah dalam menafsirkan artikel sehingga komentar-komentarmu ngawur dan sok tahu…

  35. Posted by dani on Juli 27, 2008 at 4:07 pm

    hai iwansain, apa anda tahu yg namanya waham grandiosa dan paranoid itu ? Tahukah anda batasan grandiosa dan paranoid itu ?
    coba kita lihat pernyataan anda diatas “KALAU ANDA MENGATAKAN TIDAK ADA KORELASI ANTARA LUKA DEKUBITUS DENGAN PERAN PERAWAT SEBAGAI CARE PROVIDER, MAKA COBA ANALISA MENGAPA PERAWAT MESTI MERENCANAKAN TINDAKAN KEPERAWATAN SEPERTI DIBAWAH INI?
    UNTUK APA? HANYA SATU JAWABAN SAYA UNTUK MENCEGAH TIMBULNYA DEKUBITUS!”
    Nah inilah dasar paranoid sekaligus grandiosa yg tertanam dlm benak anda iwansain, sadarkah anda bahwa pernyataan anda tersebut menunjukkan bahwa itulah sifat egoisme,paranoid dan grandiosa anda sebagai seorang sarjana keperawatan yg terlalu yakin seyakin2nya bahwa ilmu keperawatan anda sudah tinggi dan terlalu percaya diri bahwa perawat memilikki peran segala2nya.
    Sebaiknya anda merenung diri baik2 sebelum membalikkan fakta ilmiah dg khalayan anda sebagai dosen keperawatan dg artikel murahan diatas yg sama kualitasnya dengan artikel buatan mahasiswa/i AKPER. Apa bedanya tulisan anda sebagai sarjana keperawatan dg artikel buatan mahasiswa/i AKPER ? Saya tidak melihat tulisan anda itu menunjukkan bahwa anda itu seorang sarjana melainkan seorang mahasiswa akademi perawat.

    to dani
    eh kamu ganti nama lagi ya? kamu itu sakit hati sama Ners. saya sarankan kamu konsul ke psikiater aja. kalau terlambat kamu bisa gila bung!

  36. Posted by Anonymous on Juli 29, 2008 at 12:26 pm

    knp sesama tenaga kesehatan harus mendebatkan 1 masalah?knp sebagai tenaga kesehatan tidak saling memberi masukan aja?saya sebagai mahasiswa dan bukan dari kalangan tenaga kesehatan, sangat kecewa dengan perdebatan itu. karena setau saya tugas tenaga kesehatan itu sangat mulia sekali, jika bisa membantu pasiennya untuk menyembuhkan atau mencegah terjadinya penyakit yang semakin parah, dan bisa juga membantu meringankan penyakit pasien. tapi, kenapa malah saling menjatuhkan?hmm..saya benar2 kecewa!!!

    to anonimous
    thanks udah mampir…perawat itu bisa maju kalau diantara teman sejawat bisa solid dan berfikir bagaimana perawat bisa maju. bukan selalu mencari-cari kesalahan dari ilmu keperawatan itu sendiri…

  37. Posted by axytha on September 5, 2008 at 6:56 am

    maaf…saya mahasiswi S1 ilmu keperawatan semester 1.masih bingung tentang peran perawat…apakah saya bisa memisalkan seperti ini:
    dalam acara orientasi siswa,dibentuklah sebuah panitia.ada panitia inti yang menyusun segala persiapan dan kegiatan orientasi dan ada juga yang namanya pendamping gugus yang mendampingi dan membimbing siswa baru dalam melaksanakan jadwal dan tugas2 orientasi….dalam hal ini apakah bisa diumpamakan bahwa panitia inti adalah dokter dan pendamping gugus adalah perawat????
    segala persoalan tentang keperawatan membuat saya makin bimbang dalam memilih apakah saya akan melanjutkan studi ini atau pindah ke prodi lain????kenapa banyak orang yang meng-underestimate-kan profesi ini???dan bagaimana cara menyikapi pandangan-pandangan negatif ini..??

  38. Posted by hadra on September 14, 2008 at 6:29 am

    hidup perawat.

  39. Posted by windy on September 16, 2008 at 8:10 am

    kasi tau tentang peran dan fungsi perawat donk. . ????

  40. Posted by BUAT YANG MERASA SOK PINTAR on September 22, 2008 at 1:13 am

    Woooooooiii, diem semuanya………..

    Inilah pembuktian wajah keperawatan yang sebenarnya, RAPUH!!!!

    SOK PINTAR SEMUANYA!!!!!

    Untuk semua yang merasa SOK PINTAR….
    Nggak ada yang ngelarang untuk adu Argumen, Sharing pendapat, atau apalah…. Tapi tolong Hormatilah Pemilik Blog ini,…dijaga commentnya….

    Saya juga perawat, punya blog, Ngeblog itu tujuannya menjalin komunitas yang baik, sharing ilmu, bukannya cari gara-gara….

    Kalau kalian merasa lebih pintar, Buat blog sendiri dunk…….
    Apa nggak tahu caranya buat blog….Kalo gak tau, tutorial untuk membuat blog ada di GO-BLOG.com…disitu banyak tutorial yang berguna khusus buat orang2 yang sok pintar…Gratis kok…

    To Iwansain : Kang, Salam kenal, commentnya kalo bisa approve dulu sebelum di publish…Sumpexxxx…

  41. Posted by BUAT YANG MERASA SOK PINTAR!!!! on September 22, 2008 at 1:15 am

    Woooooooiii, diem semuanya………..

    Inilah pembuktian wajah keperawatan yang sebenarnya, RAPUH!!!!

    SOK PINTAR SEMUANYA!!!!!

    Untuk semua yang merasa SOK PINTAR….
    Nggak ada yang ngelarang untuk adu Argumen, Sharing pendapat, atau apalah…. Tapi tolong Hormatilah Pemilik Blog ini,…dijaga commentnya….

    Saya juga perawat, punya blog, Ngeblog itu tujuannya menjalin komunitas yang baik, sharing ilmu, bukannya cari gara-gara….

    Kalau kalian merasa lebih pintar, Buat blog sendiri dunk…….
    Apa nggak tahu caranya buat blog….Kalo gak tau, tutorial untuk membuat blog ada di GO-BLOG.com…disitu banyak tutorial yang berguna khusus buat orang2 yang sok pintar…Gratis kok…

    To Iwansain : Kang, Salam kenal, commentnya kalo bisa approve dulu sebelum di publish…Sumpexxxx…

  42. Posted by popo on September 26, 2008 at 11:29 pm

    Kritik yg membangun sangat diperlukan khususnya bagi profesi perawat, dan kritik yg disampaikan itu walaupun pedas dan emosional lah yg bisa memberikan cambuk yg sangat keras agar kita terus berjuang jadi biarkan saja komentar itu berkembang entah pro-kontra, kasar-halus dan caci-maki,sehingga yg punya blog tidak terlena dg komentar yg isinya penuh pujian dan sanjungan yg dpt menjerumuskannya ke dalam jurang kesombongan.
    Dan sangat relatif sekali batasan mengenai komentar yg sehat dan sakit karena itu sangat subjektif sekali tergantung latarbelakang sipemberi komentar namun tolong di baca dan dihargai saja, serta berikan saja jawaban komentar anda berdasarkan fakta, bukti ilmiah, bukti otentik dan kenyataan yg sebenarnya di lapangan secara gentlement , dewasa dan bijaksana tanpa ada yg perlu ditutup-tutupi sebagai bagian dari proses learning issue dan bagian dari pembelajaran kedewasaan.
    Salut buat pak iwan sebagai mediator learning issue dlm blognya.
    Trims

  43. Posted by BUAT YANG MERASA SOK PINTAR!!! on September 30, 2008 at 12:18 am

    @Popo : Anda benar kritik yang membangun, saya dukung kok, tapi kalo comment udah menjurus ke kata kata yang nggak baik dan kasar (EX : Bodoh, tolol, Pengecut, paranoid…), bukankah itu merupakan cermin dari kepribadain perawat selama ini. setidaknya kata2 yang tidak baik bisa diganti dengan kata yang lebih sopan dan membangun tentunya…

    Ingat, kita di dunia Online, tidak sedikit yang membaca blog ini, orang awam pun bisa membaca blog ini, anda bisa berkata begitu, karena anda tidak mempunyai blog sendiri…

    Blog itu tujuannya sharing ilmu, berdiskusi dengan sehat, saling bantu, bukan malah saling menjatuhkan, atau saling mencaci maki…

    Sumpah lucu banget blog ini, saya benar benar nggak nyangka komunitas perawat seperti ini rupanya, seperti membuka topengnya sendiri….

  44. Posted by caturExpo on September 30, 2008 at 1:08 am

    coba baca kata2 anda sendiri dlm komentar diatas :
    “Woooooooiii, diem semuanya………..”
    “SOK PINTAR SEMUANYA!!!!!”
    “GO-BLOG.com”
    Sepertinya anda sangat tidak konsisten dengan isi komentarnya yg menurut saya kesannya kamulah yg sok pintar dan hebat TI….???
    Apa itu pesan anda bahwa komen seperti andalah yg mencerminkan kepribadian perawat ???
    Ingat, belum tentu komentator diatas semuanya adalah perawat…..
    Dan anda punya blog ? coba deh kasih tahu kita bagaimana blog anda menjadikan blog teladan bagi kita para komentator di sini ?
    Salam kenal aja

  45. Posted by jasmine on Oktober 6, 2008 at 5:02 pm

    saya orang awam keperawatan tapi kenapa ya sesama perawat kok tidak bisa bicara atau diskusi dengan baik yang ada justru saling memojokan, jadi di mata saya citra perawat bagaimana gitu dan yang baca tidak hanya saya tapi buanyak sehingga kesimpulannya, saya takut keluarga saya di rawat oleh perawat yang sibuk memecahkan masalahnya sendiri.

  46. saya sedih dengan dunia keperawatan yang (katanya) memang tidak pernah akur seperti ikatan profesi lainnya. bagaimana mau maju dunia keperawatan kalau hanya saling mencela kekurangan orang lain tanpa mau meningkatkan kemampuannya. semoga saya tidak salah pilih dengan dunia ini. bagi saya, belajar keperawatan adalah ladang bagi saya untuk mendapatkan amal dan ilmu. bukan untuk mencari musuh. justru dengan adanya blog ini bisa berbagi ilmu, pengalaman dan menjadi saudara. subhanalloh…indah sekali…

  47. saya rasa,mmg betul yang bertanggung jawab sepenuhnya adalah perawat,tpi apakah dokter jg harus diam bgitu saja.Jdi sy rasa dokter dan perawat sama2 bertanggung jawab.
    Skrg bnyk anggapan bhw perawat telah terbawa arus perbudakan di rumah sakit,tp y penting skrg antara perawat dan dokter bukanlah siapa yang akar dan siapa yang batang.Bukankah perawat dan dokter berada di rumah sakit hanya untuk mengatasi masalah pasien???!!! Lantas siapa yang harus dipersalahkan jika kondisinya seperti itu???
    Saatnya posisi perawat tidak lg berada di telinjuk seorang dokter.Maju terus perawat Indonesia!!!!

  48. Posted by soemarlin on November 15, 2008 at 1:24 pm

    maju perawat, perawat merupakan mitra dga profesi lain, kita semua bersaudara, jd kenapa arus bertengkar kaya anak kecil. tiap profesi punya tugas sendiri2 jd kenepa mesti bingung. tidak ada yang bodoh kita semua dilahirin sama tapi yang kita dalamin jauh bebeda. untuk kasus diatas setauku emang tugas dari seorang perawat untuk mencegas terjadinya decubitus tsb, tapi bukan cuma itukan tho banyak contoh kasus lain yang merupakan tugas dr, kebid,analis, gigi n yang lain maaf klo aku cuma bisa komentr kaya gitu,ilmuku masih dangkal

  49. Posted by adik on Desember 18, 2008 at 10:12 am

    untuk adik – adik ku yang sekarang lagi menempuh pendidikan di keperawatan tidak perlu khawatir karena kalian pasti akan merasa bangga dan puas jika dapat membantu dan menolong orang lain. saya rasa untuk kasus ini merupakan tanggung jawab kita bersama baik dokter, perawat, maupun keluarganya. alangkah indahnya jika antara dokter perawat serta tenaga kesehatan lain saling bekerjasama, saling mengingatkan antara yang satu dg yang lain demi kesembuhan pasien, begitu juga untuk pasien dan keluarga juga dapat bekerjasama.

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: