Setujukah anda dengan Pendidikan D IV Keperawatan?

Disaat kita mendengung-dengungkan perawat itu sebagai perawat yang professional dengan level pendidikan mulai dari jenjang D III, S1, S2, bahkan S3, tiba-tiba dikejutkan dengan kebijakan pemerintah (DEPKES) yang menyetujui tentang pembukaan Pendidikan Diploma IV Keperawatan (cape’ deh).Hal Ini membuktikan lemahnya organisasi profesi yang akan berdampak pada  kemunduran profesi keperawatan itu sendiri. beberapa tahun yang lalu pemerintah pernah membuka D IV Keperawatan yang mana diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga pendidik saat itu, dan setelah kuota terpenuhi, D IV pun dihapuskan, tapi kenapa tiba-tiba muncul suatu kebijakan baru untuk dibuka kembali?.

Tentu saja kebijakan ini tidak disetujui oleh organisasi profesi. Loyalitas, dan kebanggaan sebagai anggota profesi terusik sehingga menimbulkan reaksi menentang dari organisasi profesi (PPNI) terhadap kebijakan tersebut, namun nampaknya organisasi profesi tidak memiliki power untuk mencegah. Buktinya, beberapa Poltekkes di Indonesia sudah menyelenggarakan program ini tanpa menghiraukan peringatan dari organisasi profesi. Padahal di dalam tubuh Poltekkes itu sendiri, banyak orang-orang keperawatan yang kemampuannya dalam bidang akademik sudah tidak diragukan lagi, tapi mengapa merekapun seolah-olah berdiam diri dan seakan mendukung program tersebut. apakah karena telah menjadi keputusan pemerintah sehingga  mau tak mau, suka ataupun tidak, program tersebut harus diterima dan dijalankan? ataukah karena D IV ini merupakan suatu proyek? (saya juga bingung nih…)

Teman sejawat, Bagaimana tanggapan anda ???

Berikan tanggapan anda yang sejujur-jujurnya mengenai pendidikan DIV Keperawatan pada vote berikut ini:

Pendidikan D IV Keperawatan

  1. Setuju
  2. Tidak Setuju

by : Iwan Sain

64 responses to this post.

  1. Posted by samson,BTW on Oktober 25, 2008 at 4:03 am

    hai,gmn teman2 sejawat yg lain,silakan b’aspirasi di sini sbg wacana dlm b’tkr pkrn u/ m’majukan plyn pd msrkt.,gue jg jd bingung nih..gue liat topik utama setuju/tdk setuju adanya D4.. kok skrng jd nya smp ke pelayanan.. tp g pp,gue kl blh ikut nimbrung aje..

  2. Posted by Anonim on Oktober 27, 2008 at 12:03 pm

    ok ok ok

  3. Posted by lou_shee on Oktober 30, 2008 at 8:06 am

    Saya tidak setuju dengan adanya D-IV keperawatan. Kenapa ada orang2 yg bisa mencetuskan ide adanya D-IV keperawatan. apakah dengan adanya D-III, S1 dan S2 keperawatan belum mencukupi kebutuhan perawat di Indonesia? APakah ini bukannya akal-akalan oknum2 yang ingin mengeruk keuntungan dari bidang perawat. Semenjak perawat diawali dengan SPK, kemudian menjadi D-III kemudian menjadi S-1, kita semua hanya menunduk dan mengiyakan. Bila masalahnya perawat belum mencukupi..maka saya pikir S-1 yang sekarang pun sudah banyak diluluskan, namun belum banyak yang diterima di lahan, karena mereka memilih D-III keperawatan, sekarang malah muncul D-IV. Bukankah D-III keperawatan juga mengutamakan skill atau keahlian dari para lulusannya?. Sebenarnya mau dibawa kemana lagi perawat ini?

  4. Menarik kalimat yang disampaikan oleh Dr. Bambang Giatno R, MPH Kepala Badan
    PPSDM Depkes. Beliau menyampaikannya di hadapan ribuan orang Direktur dan Kepala
    Dinas se Indonesia saat Rakerkesnas 21-23 Okt kemarin. Komentar Beliau begini
    :
    “Begitu-begitu ya temen sendiri yang mengadakan”.

    Jadi yang
    mendirikan institusi pendidikan perawat, siapa lagi kalau bukan perawat? Mengapa
    didirikan? Karena susah cari lapangan kerja.

    Kalau boleh komentar sinis,
    “yang menghancurkan profesi perawat, ya perawat sendiri”. Kalau risih,
    boleh lah mengatakan “oknum”……

  5. Saya sangat setuju jk DIV dibuka, asl D3nya ditutup. titik pak
    Saya kerja di luar negeri, saya punya teman orang2 India, mereka D3 dan D4. yang kerja sama2 saya di rumah sakit.

    Sementara yang teman2 saya dari philipina, semua lulusan philipina D4 yang kerja di rumah sakit. Dan tidak ada S1 tp jk mau lanjutkan sekolah langsung S2.

    Tentunya ada perbedaan significant antara gaji D3 dan D4.

    Saya skrg di Kuwait sdh kerja 8 th, plus pengalaman kerja 2 th di Indonesia yang tertulis. Yang dua tahun karena satu dan lain hal tidak sempat diterjemah dalam bhs inggris.

    Lalu bagaimana yang D3. Yand sudah lulus D3 disarankan untuk kuliah S1.
    Jadi nanti tinggal ada D4 dan S1.

    Ttp yang msh berjalan sekarang ada D3,D4 dan S1 dst. Jadi masalahnya adalah kapan D3 dihapus ?

    Bukan D4 atau S1, karena baik D4 maupun S1 sama2 Sarjana, Pak.
    Yang D4 SSt Sarjana Science Tehnik, spt teman saya yg sudah D4 dan ngajar di Akper Swasta ngajar D3 Keperawatan. Pak ayo bahu membahu tutup pendidikan D3nya. Tapi pehatikan kwalitasnya para dosen. Utk mengajar D4 perlu S1 kan Pak
    pengajar dari S1 nya yang kurang ? lalu lulusan S1nya yang katanya shd banyak pada kemana ?

    Untuk mengajar S1 butuh dosen pengajar S2 Pak .. Apakah lulusan S2 di Indonesia sdh cukup untuk mengajar calon2 S1 ? dan juga untuk menutup D3 ini…???

  6. Posted by Anonim on November 8, 2008 at 1:39 pm

    waduh,masa perawat yg m’hancurkan prwt sendiri.. dasar nya apa ya,mgkn bisa di informasikan… trim.

  7. Posted by anton,BDNG on November 8, 2008 at 1:58 pm

    betul.napa kok saya juga baru b’pikiranitu ,kalo D4 dah di bk,harusnya kan D3 nya yg di tutup.. bkn malah D4 nya yg ditutup,.. hehehe… ya ya ya ..
    kl blh th, P.diryo warno skrng posisi dmn?diluar negri? sy tak keluar negri aja,di sini birokrasinya susah minta ampun,orang2nya dari jendral sampek koprol berantem trus..
    kpn kt bs makmur.,

  8. Posted by Ivan, on November 12, 2008 at 12:41 am

    AKPER = AKADEMI PERANG
    PANTES PADA RIBUT

  9. Posted by kiki on November 26, 2008 at 1:09 pm

    Teman2yg merasa diri perawat, pernah lihat ngga ada jalan verboden/larangan untuk becak,dokar atau gerobak disuatu kota, kenapa itu terjadi?: itu semata karena kekuasaan, coba jika tukang becak cs tersebut punya kekuasaan pasti itu terjadi,bahkan akan dibuat jalur khusus becak,gerobak dan dokar/delman, untuk itu sadarlah hai perawat jangan beranttem terus !!!! mau D4 mau S1 tak masalah ayo saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama, galang persatuan dan kesatuan warga perawatan diseantera nusantara sehingga kita punya kekuatan secara politik, sehingga kekuasaan akan ada ditangan, sehingga kita bukan warga kelas2 lagi, bisa mengatur untuk mencapai tujuan. bukankan tindakan nyontik,ps infus,ps ngt ,katerter jika kita tidak punya kekuasaan akan lepas, makanya ayo ayo ayo bangkit bangkit bila perlu meminta hal2 yang menguntungkan/baik buat kita yg penting tdk merugikan masyarakat, sesuaikan kurikulum pendidikan perawat,perbaiki konsep ruu kep. bila perlu ppni ikut mengajukan judicial review uu no 29 th 2004 ok????????

  10. Posted by nanik budiarti on November 29, 2008 at 12:53 pm

    kayaknya pendidikan dibawah depkes paling ruuuweeet deh, tapi bagaimanapun sudah menjadi keputusan, selamat berjuang untuk dunia keperawatan

  11. Posted by ray on Desember 7, 2008 at 4:00 pm

    Apapun Bentuknya dan namanya semoga pelayanan yang diberikan oleh perawat di Indonesia tetap assurance dan patient oriented. Please team work…………..

  12. Posted by sinici on Desember 17, 2008 at 1:50 am

    buat junaidi abdullah, anda ngomong kayak gitu seolah2 anda paling hebat aja. pdahal saya tahu siapa anda yang emang suka ngomong tanpa ada realitanya, atau bahkan bisa di bilang bo’ong.saya tahu dimana anda kerja dan saya juga tahu berapa lama anda menjadi pengangguran setelah lulus D IV keperawatan. jadi tolong jaga mulut anda. jangan sekali2 bilang perawat itu penakut. kalo emang perawat itu penakut dia tidak akan berani berurusan dengan nyawa orang lain sebagai pasiennya………JANGAN SOK BERANI DECH..!!!!!!!!

  13. Posted by Naza on Desember 18, 2008 at 6:10 am

    yg pastiii gak stuju…….!!!!

    maw dikemanakan perawat lulusan S1 dstnya????

  14. Posted by Anonim on Januari 31, 2010 at 1:58 pm

    saya tidak setuju dengan DIV keperwatan…,gimana profesi kita bisa maju…..,kalo masih ada diploma……

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: