LUKA BAKAR

1. Pengertian

Luka bakar yaitu luka yang disebabkan oleh suhu tinggi, syok listrik, atau bahan kimia (Corwin. 2002)

2. Penyebab

Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi eleltromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi atau kimia. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein atau ionisasi isi sel. Kulit dan mukosa saluran nafas atas merupakan lokasi destrulsi jaringan. Jaringan yang dalam, termasuk organ viscera, dapat mengalami kerusakan karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama dengan agen penyebab (burning agent). Nekrosis dan kegagalan organ dapat terjadi (Brunner & Suddart. 2002)

Dalamnya luka bakar bergantung pada suhu agen penyebab luka bakar dan lamanya kontak dengan agen tersebut. Sebagai contoh, pada kasus luka bakar tersiram dengan air panas pada orang dewasa, kontak selama 1 detik dengan air yang panas dari shower dengan suhu 68,9 oC dapat menimbulkan luka bakar yang merusak epidermis serta dermis sehingga terjadi cedera derajat tiga (full-thickness injury). Pajanan selama 15 menit dengan air panas yang suhunya sebesar 56,1 oC mengakibatkan cedera full-thickness yang serupa. Suhu yang kurang 44 oC dapat ditoleransi dalam periode waktu yang lama tanpa menyebabkan luka bakar ((Brunner & Suddart. 2002)

3. Klasifikasi Luka Bakar

Menurut Effendy (1999), Luka bakar digambarkan dengan kedalaman, keparahan, dan agen penyebab. Keparahan cedera luka bakar diklasifikasikan berdasarkan pada resiko mortalitas dan resiko kecacatan fungsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keparahan cedera termasuk kedalaman luka bakar, keparahan luka bakar, lokasi luka bakar, agen penyebab luka bakar, ukuran luka bakar, dan usia korban luka bakar.

a. Kedalaman Luka Bakar

Luka bakar dapat diklasifikasikan menurut dalamnya jaringan yang rusak dan disebut sebagai luka bakar superficial partial thickness, deep partial-thicknesss, dan full-thickness, istilah deskriptif yang sesuai adalah luka bakar derajat satu, dua, dan tiga. Respon lokal luka bakar bergantung pada dalamnya kerusakan kulit yaitu ((Brunner & Suddart. 2002):

1). Luka bakar deraja satu, epidermis mengalami kerusakan atau cedera dan sebagian dermis turut cedera.

2). Luka bakar derajat dua meliputi destruksi epidermis serta lapisan atas dermis dan cedera pada bagian dermis yang lebih dalam.

3). Luka bakar derajat tiga meliputi destruksi total epidermis serta dermis, dan pada sebagian kasus kerusakan terjadi pada jaringan yang berada dibawahnya.

Dalam menentukan dalamnya luka bakar, perlu dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini yaitu: riwayat terjadinya luka bakar, penyebab luka bakar (seperti nyala api, atau cairan yang mendidih), suhu agens yang menyebabkan luka bakar, lamanya kontak dengan agens, dan tebalnya kulit (Brunner & Suddart. 2002)

b. Keparahan Luka Bakar

Cedera luka bakar dapat berkisar dari lepuh kecil sampai luka bakar masif derajat III. Cedera luka bakar dikategorikan kedalam luka bakar minor, sedang, dan mayor. Cedera luka bakar minor adalah cedera ketebalan partial yang kurang dari 15% LPTT (luas permukaan tubuh total) pada orang dewasa dan 10% LPTT pada anak-anak, atau cedera ketebalan penuh kurang dari 2% LPTT (Effendy. 1999)

Cedera luka bakar sedang tak terkomplikasi adalah cedera ketebalan partial dengan 15% sampai 25% dari LPTT pada orang dewasa atau 10% sampai 20% LPTT pada anak-anak, atau cedera dengan ketebalan penuh kurang dari 10% LPTT yang tidak berhubungan dengan komplikasi. Sedangkan cedera luka bakar mayor adalah setiap dari yang berikut ini: cedera ketebalan partial lebih dari 25% LPTT pada orang dewasa atau 20% LPTT pada anak-anak; cedera ketebalan penuh 10% LPTT atau lebih; luka bakar yang mengenai tangan, wajah, mata, telinga, kaki, dan perineum; cedera inhalasi; cedera listrik; luka bakar yang berkaitan dengan cedera lain misalnya, cedera jaringan lunak, fraktur, trauma lain (Effendy. 1999).

c. Lokasi Luka Bakar

Luka bakar pada kepala, leher, dan dada seringkali mempunyai kaitan dengan komplikasi pulmonal. Luka bakar yang mengenai wajah sering menyebabkan abrasi kornea. Luka bakar pada telinga membuat mudah terserang kondritis aurikular dan rentan terhadap infeksi serta kehilangan jaringan lebih lanjut. Luka bakar pada tangan dan persendian sering membutuhkan terapi fisik dan okupasi yang lama dan memberikan dampak kehilangan waktu untuk bekerja dan atau kecacatan fisik menetap serta kehilangan pekerjaan. Luka bakar pada area perineal membuat mudah terserang infeksi akibat autokontaminasi oleh urine dan feses. Luka bakar sirkumferensial toraks dapat mengarah pada inadequat ekspansi dinding dada dan insufisiensi pulmonal (Effendy. 1999)

d. Agen Penyebab Luka Bakar

Luka bakar juga dapat diklasifikasikan berdasarkan agen yang menyebabkan terjadinya luka bakar, termasuk: termal, listrik, kimia, radiasi. Pada situasi tertentu misalnya kebakaran rumah, ledakan mobil atau seperti timbulnya awan panas gunung Merapi akan mengakibatkan pasien tidak hanya mengalami luka bakar, tetapi juga menghirup udara panas dan atau keracunan karbon monoksida (CO). Kondisi yang demikian akan mengakibatkan pasien mengalami gangguan pada saluran pernafasan yang dapat menjadi penyebab kegagalan pernafasan sehingga menimbulkan kematian (Effendy. 1990)

Luka bakar karena trauma panas pada saluran pernafasan akibat luka bakar pada wajah, termasuk bibir, dan rambut hidung dan leher. Ini akan menunjukkan tanda-tanda sulit berbicara dan menelan serta mengalami dispnea, stridor, karena adanya edema pada saluran nafas atas yang menyebabkan obstruksi jalan nafas. Keracunan CO (karbon monoksida) seringkali terjadi pada kebakaran diruang tertutup. CO mengikat hemoglobin lebih cepat dari O2 sehingga mengakibatkan hipoksia yang cepat pada otak (Effendy. 1999)

    1. Ukuran Luka Bakar

Estimasi luas permukaan tubuh yang terbakar disederhanakan dengan menggunakan rumus sembilan. Rumus sembilan (rule of nine) merupakan cara yang cepat untuk menghitung luas daerah yang terbakar. Sistem tersebut menggunakan persentase dalam kelipatan sembilan terhadap permukaan tubuh yang luas (Brunner and Suddart. 2002).

Kepala : 9%, Ekstremitas atas kanan : 9%, Ekstremitas atas kiri : 9%, Torso : 36%,Perineum : 1%, Ekstremitas bawah kanan : 18%, Ekstremitas bawah kiri : 18%, jadit otal 100% (Sumber: Effendy. 1999)

Metode yang lain adalah lund dan browder yaitu metode yang lebih tepat untuk memperkirakan luas permukaan tubuh yang terbakar. Metode ini mengakui bahwa persentase luas luka bakar pada berbagai bagian anatomik, khususnya kepala dan tungkai, akan berubah menurut pertumbuhan. Dengan membagi tubuh menjadi daerah-daerah yang sangat kecil dan memberikan estimasi proporsi luas luka bakar pada permukaan tubuh.

Diagram lund & bowder

Lahir

1 tahun

5 tahun

10 tahun

15 tahun

Dewa-sa

A: Setengah kepala

9½%

8½%

6½%

5½%

4½%

3½%

B: Setengah paha

2¾%

3¼%

4%

4¼%

4½%

4¾%

C: Setengah tungkai

bawah

2½%

2½%

2¾%

3%

3¼%

3½%

Sumber: Effendy. 1990

f. Usia Korban Luka Bakar

Angka kematian terjadi lebih tinggi jika luka bakar terjadi pada anak-anak yang berusia kurang dari 4 tahun, terutama mereka dalam kelompok usia 0-1 tahun, dan klien yang berusia diatas 65 tahun (Effendy. 1990)

4. Patofisiologi

Luka bakar yang luas mempengaruhi metabolisme dan fungsi setiap sel tubuh. Semua sistem terganggu, terutama sistem kardiovaskuler. Karena semua organ memerlukan aliran darah yang adekuat, maka perubahan fungsi kardiovaskuler memiliki dampak yang luas pada daya tahan hidup dan pemulihan pasien.

a. Respon Kardiovaskuler pada Luka Bakar yang Luas

Dalam beberapa jam setelah luka bakar yang luas, kemampuan kapiler untuk berfungsi sebagai sawar difusi hilang, dan cairan keluar dari sistem vaskuler sehingga terjadi penimbunan filtrat di ruang interstitium di antara sel-sel yang berakibat terjadinya edema interstisium yang luas dan penurunan drastis tekanan darah. Kondisi ini dapat menimbulkan syok yang ireversibel. Hilangnya integritas kapiler digambarkan sebagai hilangnya sumbatan kapiler, sedangkan mekanisme penyebab hilangnya sumbatan kapiler belum sepenuhnya dipahami. Walaupun riset-riset mengisyaratkan bahwa beberapa mediator peradangan, termasuk histamin dan prostaglandin, ikut berperan yang mana histamin dan sebagaian prostaglandin merupakan vasodilator kuat (Corwin. 2002).

Selama periode kebocoran kapiler, sel-sel darah putih dan merah tidak melewati kapiler. Hal ini meningkatkan kepekatan darah dan menyebabkan aliran darah melambat. Pasien beresiko mengalami pembekuan darah, kontraktilitas jantung berkurang, disertai penurunan aliran darah dan tekanan darah yang dapat menyebabkan syok ireversibel. Dengan melemahnya denyut jantung, terjadi penimbunan darah di paru sehingga timbul kongesti paru dan meningkatkan resiko pembentukan embolus. Penurunan aliran darah ke ginjal menyebabkan hipoksia ginjal dan pengeluaran urine menjadi berkurang. Sistem renin-angiotensin terangsang sehingga terjadi peningkatan retensi garam dan air. Karena kapiler tidak mengalami peningkatan volume, maka edema semakin parah dan semakin meningkatkan resiko kongesti paru dan pneumonia. Hipoksia saluran cerna menyebabkan cedera pada sel-sel penghasil mukus sehingga timbul ulkus lambung dan duodenum. Dalam waktu sekitar 24-48 jam setelah luka bakar, kapiler tersumbat kembali dan cairan secara perlahan diserap ulang ke dalam sirkulasi (Corwin. 2002)

b. Respon Sel terhadap Luka Bakar

Sel-sel mengalami kebocoran elektrolit sehingga natrium tertimbun di dalam sel dan terjadi pembengkakan. Kalium keluar sel dan masuk kecairan ekstrasel, sementara magnesium dan posfat keluar dari sel. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi potensial membran semua sel, dan dapat menyebabkan disritmia jantung serta perubahan pada fungsi susunan saraf pusat. Luka bakar yang luas menghambat fungsi immun. dan hilangnya fungsi protektif kulit. Keadaan ini menempatkan pasien pada resiko tinggi mengalami infeksi (Corwin. 2002)

Pada luka bakar yang luas, terjadi peningkatan kecepatan metabolisme. Ini dapat terjadi akibat pengaktifan sistem saraf simpatis dan akibat hilangnya panas sewaktu kulit rusak. Pusat kontrol suhu di hipothalamus terpengaruh oleh respons terhadap luka bakar yang luas, sehingga terjadi pengaktifan dititik tertentu di dipothalamus. Hal ini dapat terjadi dari respon peradangan yang luas. Kecepatan metabolisme tinggi pada pasca luka bakar bakar yang luas karena jaringan yang mulai sembuh membutuhkan banyak kalori (Corwin. 2002)

5. Gambaran Klinis (Brunner & Suddart. 2002)

a. Luka bakar derajat satu ditandai oleh kemerahan dan tampak kering, nyeri, atau mengalami lepuh atau bullae.

b. Luka bakar derajat dua ditandai dengan nyeri, tampak merah, dan mengalami eksudasi cairan, pemutihan jaringan yang terbakar diikuti oleh pengisian kembali kapiler, folikel rambut masih utuh.

c. Luka bakar derajat tiga tampak datar, tipis, dan kering, warna kulit yang terbakar bervariasi mulai dari warna putih hingga merah, coklat atau hitam. Tidak terasa nyeri karena serabut-serabut sarafnya rusak. Folikel rambut dan kelenjar keringat juga menglami kerusakan

6. Pemeriksaan Diagnostik

a. Rumus sembilan digunakan untuk mengevaluasi persentase luas tubuh yang terbakar.

b. Pengeluaran urine diawasi secara cermat selama periode syok luka bakar dan setelah penutupan kapiler.

(corwin. 2002)

7. Komplikasi

a. Setiap luka bakar dapat terinfeksi yang menyebabkan cacat lebih lanjut dan kematian

b. Kerusakan paru akibat inalasi asap atau pembentukan embolus. Dapat terjadi kongesti paru akibat gagal jantung kiri atau infark miokard, serta sindrom distres pernafasan pada orang dewasa.

c. Gangguan elektrolit dapat menyebabkan disritmia jantung.

d. Syok luka bakar dapat seacara ireversibel merusak ginjal sehingga timbul gagal ginjal dalam satu atau dua minggu pertama setelah luka bakar. Dapat terjadi gagal ginjal akibat hipoksia ginjal atau rabdomiolosis (obstruksi mioglobin pada tubulus ginjal akibat nekrosis otot yang luas.

e. Penurunan darah ke saluran cerna dapat menyebabkan hipoksia sel-sel penghasil mukus sehingga terjadi ulkus peptikum

f. Dapat terjadi koagulasi intravaskuler diseminata (DIC) karena destruksi jaringan yang luas.

g. Pada luka bakar yang luas atau menimbulkan kecacatan, trauma psikologis dapat menyebabkan depresi, perpecahan keluarga, dan keinginan untuk bunuh diri. Gejala-gejala psikologis dapat timbul setiap saat saat setelah luka bakar. Gejala-gejala dapat datang dan pergi beurlang-ulang kapan saja seumur hidup

(Corwin. 2002)

8. Penatalaksanaan Luka

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan luka yaitu: penyembuhan luka, infeksi, dan penanganan luka (Effendy. 1999).

a. Penyembuhan Luka

Proses penyembuhan luka terbagi atas 3 fase yaitu (Effendy. 1999);

1) Fase Inflamasi adalah fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 3-4 hari pasca luka bakar. Dalam fase ini terjadi perubahan vaskular dan proliferasi seluler. Daerah luka mengalami agregasi trombosit dan mengeluarkan serotonin serta mulai timbul epitelisasi.

2) Fase Fibroblastik adalah fase yang dimulai pada hari 4 – 20 pascaluka bakar. Pada fase ini timbul sebukan fibroblast yang membentuk kolagen yang tampak secara klinis sebagai jaringan granulasi yang berwarna kemerahan.

3) Fase maturasi adalah proses pematangan kolagen. Pada fase ini terjadi penurunan aktivitas selluler dan vaskuler, berlangsung hingga 8 bulan sampai lebih dari 1 tahun dan berakhir jika tidak ada tanda-tanda radang. Bentuk akhir dari fase ini berupa jaringan parut yang berwarna pucat, tipis, lemas tanpa rasa nyeri atau gatal.

b. Infeksi

Infeksi secara klinis dapat didefenisikan sebagai pertumbuhan organisme pada luka yang berhubungan dengan reaksi jaringan dan tergantung pada banyaknya mikrorganisme patogen dan meningkat dengan virulensi dan resistensi dari pasien.

c. Penanganan Luka

Ada berbagai macam hal yang dapat dilakukan dalam menangani luka bakar sesuai keadaan luka yang dialami pasien (Effendy. 1999)

1) Pendinginan luka

Mengingat sifat kulit adalah sebagai penyimpan panas yang terbaik maka pada pasien yang mengalami luka bakar, tubuh masih penyimpan energi panas sampai beberapa menit setelah terjadinya trauma panas. Oleh karena itu, tindakan pendinginan perlu dilakukan untuk mencegah pasien berada pada zona luka bakar lebih dalam. Tindakan ini juga dapat mengurangi perluasan kerusakan fisik sel, mencegah dehidrasi dan membersihkan luka sekaligus mengurangi nyeri.

2) Debridemen

Tindakan ini bertujuan untuk membersihkan luka dari jaringan nekrosis atau bahan lain yang menempel pada luka. Tindakan ini bisa dilakukan pada saat pendinginan luka, perawatan luka, penggantian balutan, atau pada saat tindakan pembedahan. Tindakan ini penting mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan luka.

3) Tindakan Pembedahan

Luka bakar mengakibatkan terjadinya jaringan parut yaitu merupakan jaringan dermis dan epidermis yang berisi protein yang terkoagulasi yang dapat bersifat progerssif (Effendy. 1999). Pada luka bakar circumferential jaringan luka bakar yang terbentuk akan mengeras dan menekan pembuluh darah sehingga memelukan tindakan eskarotomi.

Eskarotomi merupakan tindakan pembedahan utama untuk mengatasi perfusi jaringan yang tidak adekuat karena adanya eschar yang menekan vaskuler. Tindakan yang dilakukan hanya berupa insisi dan bukan membuang eskar. Apabila tindakan ini tidak dilakukan maka akan mengakibatkan tidak adanya aliran darah kepembuluh darah dan terjadi hipoksia dan iskemia jaringan. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum hari ke-5. tanda-tanda klinis yang harus diperhatikan untuk menentukan dilakukannya tindakan eskaratomi antara lain: adanya sianosis jaringan distal, kapilarisasi yang buruk, anestesia. Daerah yang sudah dieskaratomi diberikan obat topikal antibakteri dan dirawat setiap hari (Effendy. 1999)

Pada luka bakar dalam karena sengatan listrik dapat menyebabkan edema yang hebat pada fasia yang selanjutnya dapat mengakibatkan kesemutan (penekanan saraf); penekanan vena; nekrose (penekakan arteri). Pada kondisi ini pasien memerlukan tindakan fasiotomi. Tindakan pembedahan lain yang sering dilakukan pada pasien luka bakar adalah eksisi tangensial yaitu tindakan membuang jaringan dan jaringan dibawahnya sampai persis di atas fasia dimana terdapat pleksus pembuluh darah sehingga bisa dilakukan operasi skin graft (Effendy. 1999).

4). Terapi Isolasi dan Manipulasi Lingkungan

Luka bakar mengakibatkan imunosupresi selama tahap awal cedera. Oleh karena itu pasien memerlukan ruangan khusus dengan suhu dapat diatur, udara bersih, serta terpisah dari pasien lain yang bisa menimbulkan infeksi silang. Tidak dianjurkan untuk meletakkan tanaman atau karangan bunga di ruangan untuk mengurangi infeksi pseudomonas aureginosa (Effendy. 1999).

8 responses to this post.

  1. hello want to know pregnancy info please visit me

  2. nice blog

  3. Posted by Anonim on Oktober 7, 2008 at 8:42 am

    kurang lengkap pak

  4. Posted by liza on Oktober 19, 2008 at 1:12 pm

    saya suka penjelasannya pak! berguna utk pelajaran sekolah

  5. Posted by nabiel on Oktober 19, 2008 at 1:13 pm

    jelek! nggak ngerti!

  6. Posted by anak anak Smp 1 b.aceh on Oktober 19, 2008 at 1:15 pm

    sangat berguna untuk pr bu mutia!!!!! thanks pak!!!!

  7. Posted by sugar ice on Oktober 19, 2008 at 1:16 pm

    pak iwan, tolong buat penjelasan tentang luka bakar yang lain. saya tunggu lho pak!

  8. Posted by elang ma on November 24, 2008 at 1:59 am

    ok, teruskan produktivitasnya ya

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: