KANKER

Kemajuan saat ini dalam penerapan moekuler mencerminkan penggabungan ilmu pengetahuan yang berasal dari epidemiolog klasik, cytogenetik (studi tentang kromosom), biologi sel dan virologi tumor. Hal ini menjelaskan bahwa sebagian besar kanker disebabkan oleh mutasi dalam “housekeeping Genes” yang disebut “‘Celluler Oncogenes”. Mutasi ini dapat disebabkan karena pemajangan yang lama dengan karsinogen eksternal atau dari oksidan yang kuat yang dihasilkan secara terus nienerus sebagai bagian dari proses metabolisme normal tubuh. kemungkinan lain oncogen teraktivasi atau mengalami deregulasi akibat abnormalitas kromosom tertentu. dimana sebagian dari mereka teiah diobservasi oleh para peneliti kanker selama bertahun- tahun.
Oncogen berperan dalam fungsi dasar sel. sebagai contoh mereka bertanggung jawab untuk merespon pangaturan signal eksternal, kemampuan mengenali DNA yang cacat dan karena itu oncogen bertindak sebagai tanda sehingga sel tidak masuk ke dalam siklus dan mewariskan DNA yang cacat tersebut pada keturunannya, serta sebagai proses perbaikan DNA yang rumit. Banyak kanker membutuhkan mutasi multiple oncogen sebelum penyakit tersebut jelas terjadi, Mutasi tersebut dari allale normal dibutuhkan sebelum tumor diwariskan pada generasi berikutnya.
Penemuan yang luar biasa ini mengarahkan kita, pada beberapa dasar pemikiran baru tentang pencegahan dan penanganan kanker. Sebagai contoh bahwa seharusnya tumor dapat dikelompokkan berdasarkan adanya perbedaan set- set gennya. Menggunakan teknologi mikro array ditemukan bahwa hal ini terjadi pada kasus kanker tertentu yaitu kanker darah atau kanker payudara dan bahwa munculnya gen-gen dengan pola yang berbeda menvyebabkan prognosis yang berbeda pula.
Untuk itu diharapkan terapi kanker akan berubah dari pendekatan. yang salah dalarn menghancurkan baik sel ganas maupun sel sehat dengan radiopterapi atau kemoterapi untuk pengobatannya lebih bermanfaat secara tepat. Sebagai contoh sebagaimana telah disebutkan diatas pada beberapa kasus kanker, perubahan kromasomal utama, termasuk translokasi yang dihasilkan dalam pertukaran potongan. Potongan kromosom satu dengan lainnya meningkatkan terjadinya gangguan fungsi oncogen.
Baru baru ini telah diproduksi obat secara langsung yaitu, Tyrosinekinase yang dihasilkan dari translokasi kromosom pada bentuk umum leukemia. Agent ini telah menunjukkan efek dramatis dalam menghancurkan populasi sel-sel leukemia dan ditemukannya bukti bahwa agent ini juga efektif pada kanker lainnya yang berkaitan dengan aktivitas Tyrosinekinase yang abnormal.
Bagaimanapun, adanya laporan terbaru tentang populasi sel yang resisten terhadap agent ini mendorong diproduksinya kinase yang berbeda, yaitu walaupun tidak mengejutkan. sebuah peringatan keras tentang seberapa jauh lagi kita harus melangkah, bahkan dalam kemoterapi langsung, pada mekanisme transformasi molekuler keganasan. Masalah terbesar yaitu bekeria langsung Untuk menemukan cara lain dalam mengintervnsi aktifitas fungsi oncogen kanker, dan tampaknya hal ini sangat memungkinkan. Dalam jangka panjang, pendekatan molekuler baik untuk pengelompokan dan penanganan kanker akan mengarahkan kita untuk mempertimbangkan perbaikan pengendalian kanker dan pengobatannya.
Khususnya pandangan tentang meningkatnya angka kematian yang terus menerus akibat tembakau (kanker yang berkaitan). pengukuran yang dilakukan oleh kesmas melalui Well-Tried (pengujian yang baik) akan tetap menjadi suatu pendekatan vang sangat penting untuk rnencegah penyakit-penyakit tersebut di masa yang akan datang.
Bagaimanapun tampaknya Genom memegang peranan penting dalam pencegahan kanker. dan teknologi terbarunya ticlak akan diragukan lagi menjadi bagian dari epidemiologi dan praktik kesehatan masyarakat. Pada kasus famili kanker vang langkah dimana kita dapat memprediksi dengan mempertimbangkan derajat ketepatan peluang seseorang menderita kanker tertentu, pendekatan diagnostik yang menggunakan rangkaian dasar DNA telah menjadi suatu nilai yang berharga.
Dalam pengaruhnya, mereka mengijinkan individu yang berada dalam keluarga yang terkena kanker vang ditemukan tidak mengalami mutasi tidak diikutkan agar kecemasan berkurang. Sernentara itu, pada saat yang sama mereka mengijinkan penderita untuk menjalarikan pengawasan tertentu. atau, jika memungkinkan dilakukan perawatan prophylaktik. Sebagai contoh, mereka, yajig memiliki famili gen Adenomatous polyposis dapat dipertimbangkan untuk menjalani pembedahan, sebelum kanker tersebut berkembang dalamusus.
Tampaknya gen-gen yang merupakan predisposisi tejadinya kanker akan didfinisikan melalui pencaharian Genom, atau pendekatan lain yang masih berhubungan dan bahwa informasii ini dapat dimasukkan ke dalarn program kesehatan masyarakat dan pencegahan kanker.
Banyak studi yang menguji kemungkinan. dilakukannnya identifikasi dini dengan mencari mutasi gen dalam ruang sel- sel pada usus atau sputum.
Bagaimanapun semua bidang ini masih dalam tahap pengembangan dan sangat penting bahwa studi pendahuluan yang adekuat harus dilakukan sebelum beberapa dari mereka disatukan kedalam program penyaringan populasi kanker yang luas, contoh terdapat bukti yang harus dipertimbangkan bahwa human papiloma virus (HPV) pada bagian tertentu berkaitan dengan perkembangan kanker cerviks. Hal ini telah mengarahkan kita untuk dilakukannya penyaringan dasar penggunaan HPV DNA yang diperiksa pada sel cerviks.

Sistem immun dan sel kanker

Sistem immun termasuk sel T dan B, biasanya berespon terhadaps terhadap antigen-antigen tumor, adanya antibodi dan sel-sel T yang dibentuk melawan suatu tumor menegaskan teori ini, selain suatu zat antin kanker yang kuat, faktor nekrosis tumor (tumor necrosis factor, TNF), dihasilkan oleh sel-sel makrofag sebagai respons terhadap antigen tumor. Fungsi TNF sebagai sitokin untuk merangsang sistem immun agar berespons terhadap tumor, TNF juga dihasilkan sebagai respon terhadap infeksi bakteri, virus dan parasit. Kadar TNF yang sangat tinggi berperan dalam pembuangan lemak tubuh yang terjadi pada psien dengan stadium kanker yang lanjut dan infeksi yang parah dan berkepanjangan. Pasien yang mendapat obat immunosupressan untuk menghambat penolakan cangkok organ atau untuk mengontrol suatu penyakit otoimmun mengalami peningkatan resiko mengidap kanker, yang mengisyaratkan bahwa sistem immun berperan protektif dalam pencegahan kanker

Peran Perawat terhadap Pasien Kanker

Standar praktik keperawatan professional penyakit kanker bagi perawat meliputi ; penguasaan konsep teori, pengumpulan data berdasarkan respon pasien, merumuskan diagnosa keperawatan, merencanakan, melakukan tindakan, serta mengevaluasi hasil tindakan.

Pemahaman Konsep Teori

Pemahaman konsep sangat penting bagi perawat dalam menentukan langkah selanjutnya, karena merupakan dasar keranka berfikir perawat untuk mencari solusi dari masalah yang dihadapi pasien

Pengkajian Keperawatan

Seorang perawat mengumpulkan data yang berhubungan dengan penyakit kanker meliputi data biopsikososial dan spritualnya, tetapi fokus pengkajian diarahkan pada gangguan pemenuhan kebutuhan berdasarkan pola fungsional kesehatan menurut gordon maupun divisi daignosa menurut doengoes.

Rumusan diagnosa keperawatan

Penderita penyakit kanker sering dipehadapkan pada kondisi terminal akibat progresi dari penyakit yang dialami, oleh karenanya masalah perawatan yang menjadi prioritas pertama adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan diri pasien agar dapat kembali kepercayaan dan harga dirinya. Seorang perawat juga tidak hanya melihat dari aspek psikogisnya saja tapi juga mempetimbangkan aspek biologisnya.

Tindakan keperawatan

Pada fase ini, perawat dapat bertindak sebagai pemberi asuhan langsung pada pasien dengan kanker, untuk menunjang perannya maka perawat harus memiliki kompetensi pada bidang kognitif, interpersonal, dan psikomotor. Pada bidang kognitif, seorang perawat harus menguasai beberapa konsep seperti patofisiologis penyakit kanker, kebutuhan manusia, dan metodologi asuhan keperawatan, bidang interpersonal; melibatkan pasien kanker dalam menumbuhkan kepercayaannya, dalam hal ini perawat harus atentif, terbuka, percaya, mandiri, kolaboratif etik, dan memeperhatikan aspek legal. Pada bidang psikomotor, harus memiliki keterampilan, kecermatan dan standar praktik dan didukung oleh lingkungan yang kondusif, kematangan individu. Selain itu perawat juga dapat berperan sebagai advokator

%d blogger menyukai ini: