TANTANGAN KESEJAGATAN KEPROFESIAN PERAWAT DIERA PASAR BEBAS.

Pendahuluan :

Keperawatan sebagai bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan, turut menentukan mutu pelayanan kesehatan.

Jumlah tenaga keperawatan mendomonasi tenaga kesehatan secara menyeluruh yaitu sebanyak 52 %, dan 60 % perawat bekerja di rumah sakit (Achir Yani, 2001).

Keperawatan sebagai profesi mengharuskan pelayanan keperawatan diberikan secara profesional oleh perawat dengan kompetensi yang memenuhi standar dan memperhatikan kaidah etik dan moral à masyarakat akan memperoleh pelayanan yang bermutu.

Keperawatan : Bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu dan kiat, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada indicvidu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (Loknas, 1983).

Peran utama perawat :

  1. Membantu klien yang sehat dalam memelihara dan mempertahankan kesehatannya.
  2. Membantu klien memperoleh kembali kesehatannya.
  3. Membantu klien yang tidak bisa sembuh untuk menyadari potensinya.
  4. Membantu yang menghadapi ajal untuk diperlakukan secara manusiawi dan menghargai martabatnya.

Isue Kesejagatan :

Pada akhir-akhir ini masalah kesejagatan (globalisasi) tampak makin ramai dibicarakan. Mudah dipahamai karena dengan telah diratifikasinya hasil terakhir putaran Urugay (Uruguay Round) tentang Kesepakatan Umum Tarif dan Perdagangan (General Agreement on Tariffs and Trade – GATT), serta hasil konperensi Negara-Negara Kawasan Asia Pasifik tentang Kerjasama Ekonomi (Asia Pacific Ecomic Coorporation—APEC), Indonesia mau tidak mau harus bersiap-siap memasuki era globalisasi (Azrul Azwar, 2002).

Tahun 2003 (untuk APEC) dan atau tahun 2020 (untuk GATT) yang dipatok sebagai awal mulai berlakunya era kesejagatan (globalisasi) tersebut tidaklah begitu lama. Sepantasnya semua pihak dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, sedemikian rupa sehingga era kesejagatan tersebut dapat mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

“Kesejagatan menurut kesepakatan GATT tidak lain adalah Liberalisasi Perdagangan. Artinya tidak ada lagi hambatan tarif dan non-tarif dalam menyelengarakan perdagangan internasional. Contoh : Hambatan tarif dalam perdagangan internasional adalah diberlakukannya sistem pajak, perhitungan harga dan/atau harga jual yang berbeda untuk produk sejenis yang didatangkan dari luar negeri. Untuk melindungi industri dan produksi dalam negeri, banyak negara memang memperlakukan sistem pajak, perhitungan harga serta harga jual yang lebih tinggi untuk produk yang didatangkan dari luar negeri.

Sedangkan contoh hambatan non-tarif dalam perdagangan internasional adalah diberlakukannya sistem kuota, dan/atau sistem perizinan serta ketentuan tehnis yang berbeda untuk produk sejenis yang di datangkan dari luar negeri.

Untuk melindungi industri dan produksi dalam negeri, banyak negara memang membatasi jumlah produk yang diizinkan masuk, dan/atau memperlakukan sistem perizinan serta berbagai ketentuan tehnis yang lebih ketat untuk produk yang didatangkan dari luar negeri.

Sesuai dengan latar belakang serta tujuan yang ingin dicapai oleh kesepakatan GATT, maka pada era kesejagatan nanti, semua hambatan tarif dan non-tarif ini telah tidak ditemukan lagi. Perdagangan internasional, karena telah bebas dari proteksi dan/atau diskriminasi, akan berlangsung dan berkembang secara alamiah.

Secara teoritis berlangsungnya liberalisasi perdagangan ini memang menjanjikan banyak dampak positif. Untuk negara-negara yang sedang berkembang, dampak positif tersebut adalah terbukanya pasar negara yang telah maju untuk menjual berbagai bahan mentah hasil alam dan/ataupun hasil industri. Dampak akhirnya adalah meningkatnya pendapatan, yang apabila dapat dikelola dengan baik, akan berperan besar dalam meningkatkan taraf kemakmuran dari negara-negara yang sedang berkembang tersebut.

Sayangnya disamping dampak positif, liberalisasi perdangan in ternyata juga mendatangkan banyak dampak negatif. Perdagangan bebas menurut kesepakatan GATT tidaklah bersifat satu arah. Pada perdagangan bebas ini, negara-negara yang sedang berkembang diwajibkan pula untuk membuka pintu terhadap masuknya berbagai produk yang dihasilkan oleh negara-negara yang telah maju. Disinilah letak masalahnya. Sebagai akibat dari masih lemahnya daya saing kegiatan industri dibanyak negara yang sedang berkembang, menyebabkan begitu perdagangan bebas mulai diberlakukan, lambat atau cepat, kegiatan industri di negara-negara yang sedang berkembang pasti akan tersingkir dari peredaran.

Dari uraian tentang kesejagatan atau liberalisasi perdagangan dan dampaknya akan segera terlihat bahwa ada atau tidaknya dampak kesejagatan atau liberalisasi perdagangan pada suatu negara sebenarnya sangat ditentukan oleh dua hal.

  1. Minat negara lain melakukan transaksi dagang di negara tersebut. Apabila minat tersebut besar, telah dapat dipastikan dampaknya akan besar pula.
  2. Daya saing yang dimiliki oleh negara tersebut. Apabila daya saing yang dimiliki rendah, dampak yang muncul akan bersifat negatif. Tetapi apabila daya saing yang dimiliki tinggi, dampak yang muncul justru akan bersifat positif, karena berarti makin terbuka peluang untuk lebih meningkatkan kemakmuran bangsa dan negara.

Kesejagatan bidang jasa :

Kesejagatan bidang jasa, dalam arti liberalisasi perdagangan jasa, adalah salah satu aspek serta merupakan inovasi baru dari kesepakatan GATT. Disebutkan, karena bidang jasa dinilai juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam turut meningkatkan kemakmuran suatu bangsa, maka perdagangan bebas dalam bidang jasa harus pula dilaksanakan.

Liberalisasi perdagangan jasa, secara umum dapat dibedakan dalam empat kelompok :

  1. Kelompok jasa yang dapat dikonsumsi tanpa perlu mendatangi negara penghasil jasa (across a border). Misalnya konsultasi dan/atau berbagai bentuk layanan yang diselenggarakan diluar negeri dan yang dapat dinikmati dengan mempergunakan berbagai alat komunikasi canggih seperti radio, televisi atau internet.
  2. Kelompok jasa yang untuk dikonsumsinya harus mendatangi negara penghasil jasa (through consumption abroad). Contoh jasa konsultasi dan/atau berbagai layanan yang dapat diperoleh diluar negeri, misalnya berobat diluar negeri.
  3. Kelompok jasa yang diselenggarakan oleh suatu sarana asing yang didirikan disuatu negera (through commercial presence). Contoh : berbagai bentuk jasa atau layanan sarana asing yang didirikan oleh negara-negara maju di negara yang sedang berkembang. Misalnya rumah sakit asing disuatu negara.
  4. Kelompok jasa yang diselenggarakan oleh tenaga kerja asing yang bekerja disuatu negara (trhrough the presence of people who are service provider). Contoh : Bekerjanya tenaga asing, baik tenaga kasar dan/atau profesional disuatu negara. Misalnya bekerjanya perawat asing di Indonesia.

Sama halnya dengan liberalisasi perdagangan umum, begitu era kesejagatan mulai berlaku, berbagai pembatasan yang bersifat protektif dan diskriminatif terhadap perdagangan jasa, telah tidak boleh diberlakukan lagi. Perdagangan jasa pada era kesejagatan akan berlangsung secara bebas. Tiap negara, apabila memiliki kemampuan, dapat saja memperluas kegiatan usaha bidang jasanya ke negara lain.

Kelemahan bagi negara yang sedang berkembang yaitu leberalisasi perdagangan jasa ternyata lebih banyak mendatangkan dampak negatif. Mudah dipahami, karena daya saing kebanyakan industri jasa di banyak negara yang sedang berkembang mutu sumber dayanya rendah, terbatasnya kemajuan ilmu dan tehnologi. Begitu era kesejagatan mulai berlaku akan menimbulkan banyak masalah dan kerugian.

Dampaknya terhadap keperawatan :

Dari uraian di atas dapat terlihat bahwa kecenderungan dan isue kesejagatan terhadap keperawatan sangat ditentukan oleh lingkup kelompok jasa keperawatan yang masuk dalam era kesejagatan, yaitu :

1. Kelompok jasa yang dapat dikonsumsi tanpa perlu mendatangi negara penghasil jasa. Apabila kesejagatan menyangkut jasa pelayanan keperawatan yang termasuk dalam kelompok ini, dampak yang ditemukan lebh banyak bersifat positif, yakni makin meningkatnya mutu pelayanan keperawatan. Karena sesungguhnya dengan terbukanya akses melakukan konsultasi dengan berbagai sarana/tenaga keperawatan di negara-negara penghasil jasa yang pada umumnya lebih maju, pengetahuan dan keterampilan tenaga keperawatan yang ada di dalam negeri akan lebih meningkat.

2. Kelompok jasa yang untuk mengkonsumsinya harus mendatangi negara penghasil jasa. Apabila kesejagatan menyangkut jasa pelayanan keperawatan yang termasuk dalam kelompok ini, dampak yang ditemukan lebih banyak bersifat negatif, yakni terkurasnya devisa negara karena dipakai guna membiayai pelayanan yang dikonsumsi di luar negeri.

3. Kelompok jasa yang diselenggarakan oleh suatu sarana asing di suatu negara. Apabila kesejagatan menyangkut jasa pelayanan keperawatan yang termasuk kelompok ini, dampak yang ditemukan dapat bersifat negatif dan positif. Dampak positif yang ditemukan antara lain :

a. Bertambahnya jumlah sarana pelayanan keperawatan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pertambahan jumlah sarana ini tentu saja akan menguntungkan masyarakat, karena masyarakat yang membutuhkan akan dengan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan tersebut.

b. Bertambahnya kesempatan kerja bagi tenaga kesehatan. Penambahan ini tidak hnya ditemukan di dalam negeri, yakni dengan makin banyaknya jumlah sarana kesehatan/keperawatan yang telah didirikan, tetapi juga ke luar negeri, yakni ke berbagai sarana kesehatan/keperawatan luar negeri.

c. Makin meningkatnya mutu pelayanan keperawatan. Meningkatnya mutu pelayanan ini terkait dengan makin banyak dipergunakan berbagai kemajuan ilmu dan tehnologi kedikteran/keperawatan canggih, yang memang akan

masuk bersamaan dengan makin banyak didirikannya sarana kesehatan asing.

d. Pemakaian devisa negara akan lebih hemat, yakni karena masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan/keperawatan tidak perlu harus pergi ke luar negeri, tetapi cukup dengan memanfaatkan berbagai sarana kesehatan/keperawatan asing yang didirikan di dalam negeri.

Sedangkan dampak negatif yang ditemukan, sangat ditentukan oleh daya saing dan/atau karakteristik tatanan pelayanan keperawatan yang ada. Untuk Indonesia dampak negatif yang dimaksudkan adalah :

a. Berubahnya filosofi kesehatan, yang semula sepenuhnya dan/atau sebagian masih bersifat sosial, menjadi sepenuhnya bersifat komersial. Terjadinya perubahan filosofi ini erat kaitannya dengan motif utama masuknya sarana kesehatan asing ke Indonesia. Motif utama yang dimaksud bukan untuk menolong meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Indonesia, melainkan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.

b. Makin meningkatnya biaya pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Terjadinya peningkatan biaya ini erat kaitannya dengan makin banyak dipergunakan berbagai tehnologi canggih, yang telah diketahui memang membutuhkan biaya pengelolaan yang lebih tinggi.

c. Makin sulit mewujudklan pemerataan pelayanan kesehatan/keperawatan. Terjadinya kesulitan ini erat kaitannya dengan keengganan sarana kesehatan asing untuk berkiprah didaerah-daerah terpencil. Karena adanya motif untuk mencari keuntungan. Sarana kesehatan/keperawatan asing tersebut akan lebih senang berada di kota-kota besar, yakni yang daya beli masyarakat memang cukup tinggi.

d. Tidak sesuainya pelayanan kesehatan/keperawatan yang diselenggarakan dengan kebutuhan dan tuntutan kesehatan masyarakat. Terjadinya tidak kesesuaian kebutuhan dan tuntutan masyarakat erat kaitannya dengan perbedaan sistem pengelolaan pelayanan kesehatan/keperawatan yang

tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kesehatan masyarakat.

4. Kelompom jasa yang diselenggarakan oleh tenaga kerja asing yang bekerja di suatu negara. Apabila kesejagatan menyangkut jasa pelayanan keperawatan yang termasuk dalam kelompok ini, dampak yang ditemukan dapat bersifat positif dan negatif. Dampak positif yang ditemukan antara lain :

a. Makin meningkatnya mutu pelayanan keperawatan yang diselenggarakan, yakni melalui kesempatan konsultasi dan/atau kerjasama secara langsung dengan tenaga kesehatan asing yang bekerja di dalam negeri.

b. Makin sesuaianya jenis keahlian tenaga keperawatan yang tersedia dengan kebutuhan dan tuntutan pelayanan keperawatan, yakni dengan masuknya berbagai tenaga keperawatan asing yang jenis dan keahliannya belum ditemukan di dalam negeri.

Sedangkan dampak negatif dari kehadiran tenaga keperawatan asing sangat ditentukan oleh daya saing serta karakteristik tatanan keperawatan yang ada. Untuk Indonesia dampak negatif yang dimaksud :

a. Terjadinya persaingan yang makin ketat antar tenaga keperawatan. Persaingan yang dimaksud tidak hanya antar tenaga keperawatan bangsa sendiri, tetapi juga dengan tenaga keperawatan asing.

b. Berubahnya filosofi pelayanan keperawatan, yang semula sepenuhnya dan/atau sebagian masih bersifat sosial, menjadi sepenuhnya bersifat komersial. Terjadinya perubahan filosofi pelayanan ini erat kaitannya dengan motif utama masuknya tenaga kesehatan asing. Motif utama yang dimaksud bukan untuk menolong meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, melainkan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.

c. Makin sulit mewujudkan pemerataan pelayanan kesehatan/keperawatan. Terjadinya ketimpangan pemerataan pelayanan ini erat kaitannya dengan keengganan tenaga kesehatan asing untuk berkiprah didaerah-daerah terpencil. Karena adanya motif untuk mencari keuntungan, tenaga kesehatan asing tersebut akan lebih senang berada di kota-kota besar, yakni yang daya beli masyarakatnya memang cukup tinggi.

d. Tidak sesuainya pelayanan keperawatan yang diselenggarakan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Terjadinya ketidaksesuaian kebutuhan dan tuntutan ini erat kaitannya dengan perbedaan sistem pendidikan tenaga keperawatan yangtidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Untuk Indonesia, berkiprahnya sarana dan tenaga kesehatan/keperawatan asing pada era kesejagatan yang akan datang diduga akan cukup tinggi. Penyebabnya terkait dengan potensi pasar Indonesia yang sangat menguntungkan. Pertama karena jumlah penduduk Indonesia yang besar. Kedua, karena daya beli penduduk Indonesia yang cukup tinggi.

Dengan potensi pasar yang besar ini tidak mengherankan jika pada masa mendatang akan ditemukan banyak sarana dan tenaga keperawatan asing akan masuk ke Indonesia.

Berbagai masalah yang dihadapi yang terkait dengan keperawatan :

1. Sistem informasi ketenagaan keperawatan belum dimanfaatkan secara optimal yang dapat menyulitkan penyusunan rencana pengembangan termasuk penempatan dan peluang kerja.

2. Standar pola ketenagaan bidang keperawatan belum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pelayanan, menyebabkan kesulitan dalam penyusunan perencanaan ketenagaan. Sulit memprediksi kebutuhan dan pendayagunaan tenaga termasuk tenaga keperawatan.

3. Mutu lulusan pendidikan keperawatan belum sesuai dengen tuntutan pelayanan, dimana masih banyak lembaga pendidikan keperawatan yang lulusannya tidak dapat dipertanggung jawabkan.

4. Pendayagunaan tenaga keperawatan belum tertata dan terdistribusi secara merata, dimana tenaga profesional lebih banyak terkonsentrasi didaerah perkotaan. Lulusan pendidikan tinggi lebih banyak di institusi pendidikan, sedangkan disarana pelayanan kesehatan lebih banyak tenaga keperawatan lulusan

Upaya mengatasi masalah :

1. Menetapkan dan menerapkan berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur persyaratan masuknya sarana dan tenaga kesehatan/keperawatan asing. Khusus untuk tenaga kesehatan/keperawatan, persyaratan yang dimaksud antara lain :

a. Mewajibkan tenaga keperawatan asing yang akan bekerja di Indonesia mengikuti ujian profesi, yakni dalam rangka menilai kemampuan profesional yang dimiliki. Tenaga keperawatan yang tidak memiliki kemampuan profesional yang sesuai dengan standar Indonesia, seyogianya tidak diizinkan untuk bekerja.

b. Mewajibkan tenaga keperawatan asing yang akan bekerja di Indonesia mengikuti ujian sosio-antropologi kesehatan termasuk ujian Bahasa Indonesia, yahkni dalam rangka menilai pemahaman sosial budaya serta kemampuannya berkomunikasi dengan pasien. Tenaga keperawatan asing yang tidak dapat berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, apalagi yang akan bekerja di sarana pelayanan primer, seyogianya tidak diizinkan untuk bekerja.

c. Mewajibkan tenaga keperawatan asing yang akan bekerja di Indonesia menjadi anggota organisasi profesi Indonesia, mengucapkan sumpah profesi, serta mematuhi kode etik profesi keperawatan Indonesia.

d. Secara konsekwen memberlakukan asas timbal balik yang berlaku pada perdagangan bebas. Artinya tenaga keperawatan asing yang dibenarkan bekerja di Indonesia adalah yang berasal dari negara yang juga membenarkan tenaga kesehatan/keperawatan Indonesia bekerja di negara tersebut.

e. Secara konsekuen memberlakukan berbagai aturan yang tidak bersifat diskriminatif. Artinya memberlakukan pula semua ketentuan yang berlaku untuk tenaga keperawatan Indonesia, seperti program adaptasi, masa wajib kerja sarjana, dan/atau izin praktik.

2. Penataan sistem pendidikan keperawatan.

Pola pendidikan dikembangkan dengan berorientasi kepada tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta pembangunan kesehatan, terutama pembangunan keperawatan profesional, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan. Pendidikan keperawatan dibangun dan dibina agar mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas baik sebagai ilmuwan keperawatan (nursing scientist) maupun sebagai profesional keperawatan (nursing professional) (Ma’rifin Husin, 2002). Profesional keperawatan dihasilkan melalui berbagai jenjang dan jenis pendidikan profesi dengan landasan akademik yang kokoh dan landasan keprofesian yang mantap. Mutu, jenis dan jumlah lulusan yang akan dihasilkan disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kesehatan di masa depan, khususnya pengembangan sistem pelayanan/asuhan keperawatan profesional yang akan dikembangkan, serta kecenderungan perkembangan sejagat.

3. Penataan pelayanan keperawatan. berbagai masalah yang pada saat ini dirasakan yang terkait pemanfaatan tenaga keperawatan di tatanan pelayanan kesehatan (Achir Yani, 1999) :

a. Berbagai katagori tenaga keperawatan dengan bermacam latar belakang pendidikan, didayagunakan secara sama rata untuk melakukan tugas rutin dan sederhana.

b. Perawat mempersepsikan diri mereka sendiri secara tidak adekuat dalam memberikan asuhan keperawatan.

c. Lebih dari 50% perawat tidak pernah mengikuti pelatihan dalam lima tahun terakhir.

d. Perawat melakukan asuhan kepada pasien dengan beban kerja yang berlebihan, serta tugas tambahan dan melakukan kegiatan yang bukan merupakan fungsinya.

e. Tatanan/institusi pelayanan kesehatan enggan untuk mendayagunakan perawat lulusan pendidikan tinggi.

Berdasarkan permasalahan di atas, seyogianya tatanan pelayanan keperawatan diarahkan pada pengelolaan pelayanan keperawatan yang bermutu dengan berbagai upaya-upaya :

a. Mempertahankan dan meningkatkan mutu tenaga keperawatan melalui program pendidikan keperawatan berkelanjutan, misalnya pendidikan bagi tenaga keperawatan yang bersifat sertifikasi.

b. Pengembangan praktik keperawatan melalui penyusunan standar praktik keperawatan yang memberikan jaminan kualitas asuhan, mengembangkan model praktik keperawatan keperawatan profesional, memantapkan akreditasi tatanan pelayanan keperawatan serta manajemen mutu, serta mengkaji pendayagunaan perawatan dalam mencapai sasaran kesehatan.

Dari aktifitas diatas akan mengarah pada peningkatan kemampuan profesional tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan/asuhan keperawatan, sehingga dengan demikian tenaga perawat Indonesia mampu bersaing dengan tenaga keperawatan asing.

4. Penelitian keperawatan :

Menghadapi tuntutan di masa depan, berbagai kegiatan ilmiah keperawatan khususnya riset ilmiah keperawatan harus lebih digiatkan. Berbagai upaya dalam pengembangan pelayanan/asuhan keperawatan profesional di masa depan memerlukan dukungan dari riset ilmiah keperawatan sehingga tujuan pengembangan yang ditetapkan lebih mungkin dapat dicapai. Banyak hal dalam pelaksanaan pelayanan/asuhan keperawatan kepada masyarakat di Indonesia yang masih perlu dikaji dan diteliti lebih mendalam, khususnya yang berhubungan dengan aspek sosio-kultural dan spiritual masyarakat di Indonesia. Telah dipahami bahwa dalam parktik keperawatan profesional, aspek budaya atau kultur masyarakat turut menentukan keberhasilan pencapaian tujuan tindakan keperawatan. Dibeberapa daerah di Indonesia, faktor tradisi dan budaya masyarakat sangat mengemuka, sehingga merupakan faktor yang harus dipertimbangkan setiap akan menentukan kebijakan yang menyentuh masyarakat, terutama apabila salah satu indikator keberhasilan upaya adalah keikutsertaan masyarakat.

Riset ilmiah bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan dalam rangka membina praktik keperawatan profesional di Indonesia dengan lebih tepat. Pada saat ini ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan lebih banyak diadopsi dari luar negeri yang belum tentu dapat sepenuhnya dilaksanakan karena perbedaan latar belakang sosial-budaya masyarakat. Diharapkan dimasa depan buku-buku teks keperawatan berbahasa Indonesia dan berbasis hasil riset ilmiah keperawatan di Indonesia secara bertahap akan muncul, ditulis oleh pakar keperawatan Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai aspek antara lain sosial budaya Bangsa Indonesia. Pola pengembangan demikian akan memperkuat profesi keperawatan indonesia yang sesuai dengan pola kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat akan lebih tertarik mencari pelayanan yang mempertimbangkan aspek-aspek yang disebutkan diatas, yang dapat diperankan dengan baik oleh tenaga keperawatan Indonesia.

5. Peran organisasi profesi keperawatan.

a. Membangun pelayanan/asuhan keperawatan profesional secara bertahap dan berencana dimana pelayanan keperawatan dinilai harus ada. Yaitu dengan menggunakan berbagai pendekatan kepada pengelola dan penanggung jawab pelayanan kesehatan.

b. Menata dan membina Pendidikan Tinggi Keperawatan

Pertumbuhan perkembangan institusi yang melaksanakan program pendidikan tinggi keperawatan harus dikendalikan dan ditertibkan, disertai upaya meningkatkan dan membina mutu pendidikan. Berbagai jenjang dan jenis pendidikan yang diperlukan di masa depan seperti beberapa program pendidikan spesialis.

c. Mengembangkan/membina pendidikan berkelanjutan bagi perawat. Terutama bagi perawat yang ada ditatanan pelayanan keperawtan.

d. Menumbuhkan dan membina kegiatan ilmiah keperawatan terutama riset keperawatan dikalangan para perawat profesional.

e. Menata/membina organisasi profesi keperawatan agar mampu berperan aktif dalam mengembangkan dan membina keperawatan di Indonesia, termasuk berperan aktif dalam penyusunan kebijakan keperawatan.

Penutup :

Era kesejagatan yang inti pokoknya adalah perdagangan bebas telah dapat dipastikan akan berlangsung di Indonesia. Salah satu dari era kesejagatan tersebut adalah dalam bidang jasa, yang didalamnya termasuk pelayanan keperawatan. Pada era kesejagatan yang akan datang diduga akan banyak ditemukan sarana dan tenaga kesehatan/keperawatan asing yang akan bekerja di Indonesia.

Ditinjau dari kepentingan Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang masuknya sarana dan tenaga kesehatan/keperawatan asing tersebut banyak mendatangkan dampak negatif dari pada dampak positif. Dampak negatif yang dimaksud tidak hanya akan merubah tatanan pelayanan kesehatan Indonesia, tetapi juga akan merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Untuk mnengatasi dampak negatif tersebut ada beberapa saran yang ditujukan pada perubahan tatanan pelayanan kesehatan/keperawatan, dan yang ditujukan terhadap masuknya tenaga kesehatan/keperawatan ke Indonesia.

Tantangan Kesejagatan  Keprofesian Perawat  di Era Pasar Bebas

Oleh :

Drs. Julianus Ake, SKp, M.Kep

Disampaikan pada

Pelatihan Penatalaksanaan Keprofesian Angkatan I

Tanggal 7 – 8 Mei 2002

Makassar

Bahan Rujukan :

1. Achir Yani (1999). Rencana strategik sistem pengembangan ketenagaan perawat, jakarta (tidak diterbitkan).

2. …………. (2001). Peran profesi Keperawatan dalam meningkatkan tanggung jawab perawat untuk memberikan asuhan keperawatan profesional sehubungan dengan undang-undang konsumen, Majalah keperawatan (Bina Sehat), edisi 005/BS/PPNI/2001.

3………….. (2001). Strengthening health care delivery system : Strengthening nursing and midwifery, Majalah Keperawatan (Bina Sehat), edisi 005/BS/PPNI/2001.

4. Azrul Azwar (2002). Kecenderungan dan issue kesejagatan dalam kesehatan/keperawatan, Surabaya (tidak diterbitkan).

5. Ellis & Hartley (1998). Nursing in today’s world : Challenges, issues, and trends, 6th.ed, Philadelphia : Lippincott.

6. Hapsara (1999). Pendayaghunaan Lulusan Pendidikan Spesialis Keperawatan dalam kerangka kebijakan pengembangan tenaga keperawatan dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2010, Jakarta (tidak diterbitkan)

7. Kim Wheeler (1999). Trends and issues in nursing toward the third millennium, Jakarta (tidak diterbitkan).

8. Loveridge & Cumming (1996). Nursing management in the new paradigm, Maryland : An Aspen Publication.

9. Ma’rifin Husin (2002). Pendidikan Keperawatan di masa depan, Surabaya (tidak diterbitkan).

10. Menkes RI, (2000). Persepsi dan harapan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia terhadap sarjana keperawatan dikaitkan dengan peraturan Menteri Kesehatan tentang Registrasi dan Praktik Keperawatan, Jakarta (tidak diterbitkan).

11. DPP PPNI (2000). Rekomendasi Munas VI mengenai pengembangan profesi keperawatan, Bandung (tidak diterbitkan).

%d blogger menyukai ini: