ANGINA PEKTORIS

Teman Sejawat…berikut ini adalah penjelasan yang berkaitan dengan angina pektoris, semoga bisa lebih memahami mekanisme terjadinya penyakit ini. baca dan pahami artikel dibawah ini…

Pengertian

Angina pektoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung dan terjadi sebagai respons terhadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium dibandingkan kebutuhan mereka akan oksigen. Nyeri angina dapat menyebar ke lengan kiri, ke punggung, ke rahang, atau ke daerah abdomen (corwin, 1997)

Angina pektoris ialah suatu sindrom klinis di mana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri. Sakit dada tersebut biasanya timbul pada waktu pasien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. (Trisnohadi HB, 1997)

Etiologi

  • Atherosklerosis
  • Spasme arteri koroner

Patofisiologi

Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan oksigen meningkat pada jantung yang sehat, maka arteri-arteri koroner berdilatasi dan mengalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung. Namun, apabila arteri koroner mengalami kekakuan atau menyempit akibat aterosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respons terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemia (kekurangan suplai darah) miokardium dan sel-sel miokardium mulai menggunakan glikolisis anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Cara pernbentukan energi ini sangat tidak efisien dan menyebabkan terbentuknya asam laktat. Asam laktat menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri yang berkaitan dengan angina pektoris. Apabila kebutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali ke proses fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan dihilangkannya penimbunan asam laktat, maka nyeri angina pektoris mereda. Dengan demikian, angina pektoris adalah suatu keadaan yang berlangsung singkat.

JENIS ANGINA

Terdapat tiga jenis angina: stabil, Prinzmetal (varian), dan tidak stabil.

1. ANGINA STABIL

Juga disebut angina klasik, tedadi sewaktu arteri koroner yang aterosklerotik tidak dapat berdilatasi untuk meningkatkan alirannya sewaktu terjadi peningkatan kebutuhan akan oksigen. Peningkatan kerja jantung dapat menyertai aktivitas misaInya berolah raga atau naik tangga. Pajanan ke dingin, terutama apabila disertai dengan kerja misalnya menyekop salju, meningkatkan kebutuban metabolik jantung dan merupakan stimulan kuat utuk timbuinya angina klasik. Stres mental, termasuk stres yang ditimbulkan oleh rasa marah serta tugas-tugas mental misalnya berhitung, dapat mencetuskan angina klasik. Nyeri pada angina jenis ini biasanya menghilang apabila individu yang bersangkutan menghentikan aktivitasnya.

2. ANGINA PRINZMETAL

terjadi tanpa peningkatan jelas beban kerja jantung dan pada kenyataannya, sering timbul sewaktu beristirahat atau tidur. Pada angina Prinzmetal (varian), terjadi spasme suatu arteri koroner yang menimbulkan iskemia jantung di bagian hilir. Kadang-kadang tempat spasme berkaitan dengan aterosklerosis. Pada lain waktu, arteri koroner tidak tampak mengalami ateroskierosis. Adalah mungkin bahwa walaupun tidak jelas tampak lesi pada arteri, dapat terjadi kerusakan lapisan endotel yang samar. Hal ini menyebabkan peptida-peptida vasoaktif memiliki akses langsung ke lapisan otot polos dan menyebabkannya berkontraksi. Disritmia sering tedadi pada angina varian.

3. ANGINA TIDAK STABIL

adalah kombinasi angina klasik dan angina varian, dan dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit arteri koroner. Angina ini biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung. Hal ini tampaknya terjadi akibat aterosklerosis koroner, yang ditandai oleh trombus yang tumbuh dan mudah mengalami spasme. Terjadi spasme sebagai respons terhadap peptida-peptida vasoaktif yang dikeluarkan oleh trombosit yang tertarik ke daerah kerusakan. Konstriktor paling kuat yang dilepaskan oleh trombosit adalah tromboksan dan serotonin, serta faktor pertumbuhan yang berasal dari trombosit (platelet-derived growth factor, MGF). Seiring dengan perkembangan trombus, frekuensi dan keparahan serangan angina tidak stabil meningkat dan individu berisiko mengalami kerusakan jantung ireversibel.

Gambaran Klinis

Adanya keluhan sakit dada yang mempunyai ciri khas sebagai berikut:

  • Letaknya

Seringkali pasien merasakan adanya sakit dada di daerah sternum atau di bawah sternum (substernal), atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang rnenjalar ke lengan kiri, kadang-kadang dapat menjalar ke punggung, rahang, leher, atau ke lengan kanan. Sakit dada juga dapat timbul di tempat lain seperti di daerah epigastrium, leher, rahang, gigi, bahu.

  • Kualitas sakit dada pada angina

Pada angina, sakit dada biasanya sepert tertekan benda berat (pressure like), atau seperti diperas (squeezing) atau terasa panas (burning), kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest dyscomfort) karena pasien tidak dapat menjelaskan sakit dada tersebut dengan baik, febih-febih bila pendidikan pasien kurang.

  • Hubungan dengan aktivitas

Sakit dada pada angina pektoris biasanya timbul pada waktu melakukan aktivitas, misalnya sedang berialan cepat, tergesa-gesa, atau sedang berjalan mendaki atau menaiki tangga. Pada yang berat aktivitas ringan seperti mandi atau menggosok gigi, makan tedalu kenyang, emosi, dapat menimbulkan sakit dada. Sakit dada tersebut segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. Serangan angina dapat timbul pada waktu istirahat atau pada waktu tidur malam.

  • Lamanya Serangan Sakit Dada

Serangan sakit dada biasanya berlangsung 1-5 menit, walaupun perasaan tidak enak didada masih dapat terasa setelah sakit dada hilang, bila sakit dada berlangsung lebih dari 20 menit mungkin pasien mendapat serangan infark miokard akut dan bukan disebabkan angina pektoris biasa.

Pada pasien angina pektoris dapat pula timbul keluhan lain seperti sesak napas, perasaan lelah, kadang-kadang sakit dada disertai kerigant dingin

Sumber :

  1. Corwin, J.E, 1997, Patofisiologi buku Saku, EGC Jakarta
  2. https://iwansaing.wordpress.com/2009/06/11/angina-pektoris/
About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: